Orang Tua Perlu Memberikan Trial & Error bagi Sang Anak

Dalam mempersiapkan anak-anaknya menjadi generasi penerus perusahaan keluarga, sang anak sebaiknya tidak ditempatkan dalam satu posisi terus-menerus. Orang tua mesti mengevaluasinya secara langsung dan jangan ragu untuk merotasinya di bidang-bidang lain. Apa saja yang harus dilakukan oleh generasi penerus dan generasi pendiri sebuah perusahaan keluarga? Lenny Sunaryo Ph.D., Pengamat Organisasi dan Manajemen Human Capital Prasetiya Mulya Business School mengungkapkannya kepada Rangga Wiraspati:

Menurut Anda apa faktor-faktor yang menyebabkan langgengnya bisnis keluarga?

Dari pengamatan saya dan juga referensi literatur, seorang entrepreneur itu dibentuk. Artinya, meskipun ada bakat, lingkungan keluarga sangat berpengaruh. Ketika generasi tua merasakan perjuangan yang sulit, mereka menginginkan anak-anaknya untuk tidak merasakan kesulitan yang sama. Menurut saya hal itu salah, karena dapat mengakibatkan sang anak menjadi manja. Karena terbiasa ‘disuapi’, maka jiwa berjuang anak tersebut lemah dibandingkan dengan perjuangan jatuh bangun orang tuanya. Sebenarnya, generasi kedua itu beruntung karena orang tua mereka masih ada untuk memberi mereka arahan dan membagi pengalaman bijaknya. Generasi ketiga biasanya sudah mengalami masa yang jauh lebih enak, dengan akses terhadap beragam fasilitas, sehingga jiwa berjuang mereka tidak sama dengan generasi sebelumnya. Walaupun tidak benar, banyak yang mengatakan bahwa generasi ketiga hanya menghabiskan uang dan generasi kedua tidak setangguh generasi pertama. Jadi memang kunci keberhasilan seorang entrepreneuradalah ketangguhannya, dan ketangguhan itu dibentuk sejak kecil.

Lenny Sunaryo Ph.D., Prasetiya Mulya Business School Lenny Sunaryo Ph.D.,

Sejauh mana pentingnya peran Family Capital?

Sangat penting. Namun, perlu dipilah dulu mengenai apa itu family capital, apakah itu dari sisi finansial, jaringan usaha keluarga, atau pengalaman-pengalaman dan kompetensi. Semua itu penting, namun faktor penentu ketangguhan generasi penerus, menurut saya, adalah level ketangguhannya. Jadi orang tua diharapkan tidak protektif terhadap anaknya, namun tetap membuat koridor yang tegas tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan anaknya. Seorang entrepreneur itu harus melalui adversities, yaitu beragam hambatan dan kesulitan untuk keluar dari permasalahan yang ia hadapi. Sejak kecil ia perlu diberi keleluasaan untuk mengambil keputusan, jangan dibiarkan ia tergantung kepada orang lain dalam pengambilan keputusan. Jika anak menghadapi persoalan, orang tua sebaiknya tidak serta-merta mengulurkan bantuan, biarkan anak berada sampai situasi di mana ia terpojok. Jika ia berhasil melewati rintangan itu, maka ia akan melesat. Sang anak akan kaget terhadap kemampuan dirinya dan itu akan menjadi bekal bagi dirinya di masa depan. Ketika kemampuannya naik kelas, maka tantangan bagi dirinya akan semakin berat, namun ia akan lebih senang menghadapinya sebab tantangan tersebut adalah bagian dari aktualisasi dirinya. Seorang entrepreneur tangguh pasti pernah mengalami jatuh-bangun, dan ia menolong dirinya sendiri ketika berada dalam masalah. Mungkin dalam hal ini orang tua perlu tega, dalam konteks membiarkan anaknya menemukan jalan keluar sendiri untuk bangkit dari kejatuhan.

Apa faktor-faktor yang menyebabkan transisi kepemimpinan/suksesi berjalan mulus?

Saya pikir dalam kasus di mana anak tidak mau kembali dari luar negeri, atau orang tua tidak bisa meyakinkan anaknya untuk kembali, para orang tua dapat menggunakan tenaga profesional. Akan lebih baik lagi jika tenaga profesional ini merasa bahwa perusahaan tempat ia bekerja adalah miliknya juga, artinya ia bertanggung jawab atas tugas yang diembannya. Jadi suksesi di sebuah perusahaan keluarga dapat memanfaatkan tenaga profesional yang loyal dan berpengalaman.

Apa sikap yang perlu dilakukan generasi tua dalam proses suksesi?

Ada beberapa generasi tua yang tidak ingin melepas kontrolnya terhadap perusahaan yang telah ia bangun dari nol. Karena ia telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk perusahaan, meski telah memasuki usia pensiun ia tetap ingin mendominasi. Maka, generasi kedua belum bisa lepas dari bayang-bayang kebesaran sang ayah karena figurnya yang masih kuat. Lucunya, hal ini tidak hanya berlaku pada sang ayah, tetapi juga pada ibu. Karena biasanya mengurusi bidang SDM dan keuangan, figur ibu terkadang lebih powerful dibanding sang ayah. Generasi tua memang perlu menunjukkan sikap legowo dan mempercayai tenaga profesional dalam memuluskan suksesi. Dalam beberapa kasus, apalagi jika sang penerus baru pulang dari luar negeri, biasanya sang penerus tidak akan langsung siap untuk menahkodai perusahaan keluarganya. Sang penerus yang langsung memegang tampuk kepemimpinan di perusahaan biasanya tidak mengerti permasalahan yang dihadapi perusahaannya karena informasi dari bawah itu tersaring, sementara desakan dari orang tuanya terus mengalir.

Kami sebagai tim konsultan dari Prasetiya Mulya untuk bisnis keluarga pernah mengusulkan agar sang generasi penerus lebih baik diberikan perusahaan baru yang sama sekali lepas dari orang tuanya. Jadi anak diberikan kebebasan dan ketika bisnisnya jatuh baru ketahuan level kemampuannya dalam menjadi entrepreneur. Perusahaan baru itu akan menjadi ajang pembelajaran bagi sang anak dan juga ajang penilaian bagi orang tua. Ada fenomena di mana anak pengusaha yang bergelar master dari luar negeri menginginkan jajaran manajerial di perusahaan keluarganya juga bergelar master. Dalam kasus ini, sang anak mempermasalahkan seorang general manager-nya yang hanya berijazah SD, padahal GM tersebut memiliki jaringan buyer yang kuat. Pada kasus ini sang anak pengusaha tidak mengerti social capital yang dimiliki perusahaan keluarganya. Pelajaran-pelajaran itu yang harus dirasakan oleh sang anak, tidak bisa ia dapatkan melalui jenjang universitas.

Sebaliknya, apa sikap yang perlu ditunjukkan generasi penerus?

Bagi mereka yang akan diplot untuk memegang posisi penting di perusahaan keluarganya, jika mereka masih ragu lebih baik mereka mencari pengalaman bekerja yang berbobot di luar negeri dan jangan lupa untuk sering menjenguk negara tempat ia lahir agar ia tetap bersentuhan dengan kultur Indonesia. Dalam mencari pengalaman bekerja, ia perlu merasakan pengalaman menjadi karyawan atau staf biasa, agar ia mengerti beban dan dinamika yang dialami karyawan operasional. Kenapa ia perlu mencari pengalaman bekerja sebagai karyawan di luar? Jika ia baru lulus dari luar negeri dan langsung menempati posisi putra mahkota, sikapnya akan seperti bos tanpa pengalaman. Sementara, walaupun ia bekerja sebagai staf di perusahaan keluarganya, tetap saja lingkungan sekitarnya akan sungkan kepadanya karena tahu bahwa ia anak pemilik perusahaan. Hal itu sulit dipungkiri jika kita hidup di Indonesia. Keterbukaan dalam komunikasi akan terganggu karena adanya jurang psikologis.

Dalam pengamatan Anda, bagaimana proses transfer nilai dari sang orang tua kepada sang anak?

Di Indonesia tradisi sangat kuat, misalnya pada tradisi Tionghoa, anak laki-laki pertama harus dibina oleh ayah dan keluarga ayah. Bisa juga oleh teman-teman ayahnya jika upaya sang ayah sudah mentok dalam memberikan nasihat bagi sang anak. Jadi anak laki-laki pertama biasanya akan disuruh untuk meminta nasihat kepada pihak-pihak tersebut. Gaya cerita mereka terhadap sang penerus biasanya naratif, jadi mereka menceritakan pengalaman-pengalaman kepada sang penerus.

Bagaimana cara agar generasi penerus untuk keluar dari bayang-bayang?

Bagi penerus yang lama tinggal dan bersekolah di luar negeri, ia perlu diberikan waktu, agar ia bisa menyesuaikan diri dengan budaya di Indonesia. Jika ia sudah berada di perusahaan, sebaiknya informasi kepadanya jangan difilter, karena bila ia mengetahui informasi secara utuh, ia akan terbantu dalam memahami cultural values perusahaan keluarganya. Cultural values itu saya sebut sebagai cultural capital. Generasi tua harus legowo untuk melepaskan kontrol kepada anaknya, namun sebelumnya lebih baik sang anak dites dulu di sebuah perusahaan kecil baru, atau sebagai profesional di sebuah perusahaan. Di sebuah perusahaan kecil pun sebaiknya ia didampingi oleh tenaga profesional yang mengerti budaya komunikasi di Indonesia. Menurut saya, konteks kultural itu sangat penting. Jadi, dibutuhkan waktu bagi si penerus dan pengikutnya untuk beradaptasi.

Sejauh mana aspek negatif nama besar dan keberhasilan generasi tua membayangi generasi penerus?

Bayang-bayang ini akan membuat sang penerus dinilai oleh publik dan lingkungannya bahwa ia sama dengan ayahnya. Jeleknya, publik memiliki ekspektasi yang tinggi kepada si penerus bahwa ia memiliki perilaku dan kualitas yang sama dengan ayahnya. Jika tidak sesuai ekspektasi publik dan lingkungannya, maka si penerus rentan untuk selalu dibandingkan dengan ayahnya. Apalagi jika generasi pendiri merupakan pemimpin yang kharismatik, maka si penerus diharapkan mampu berperilaku seperti sang ayah. Jika generasi pendiri pernah mengalami masa hidup yang sulit, maka ia akan lebih mudah berempati kepada level bawah di perusahaannya, sedangkan anaknya butuh waktu untuk menguasai kualitas tersebut, karena memang anaknya mengalami kehidupan yang berbeda.

Bagaimana memadukan nilai-nilai lama warisan generasi tua dengan pemikiran era profesionalisme modern?

Menurut saya, ke-Indonesia-an harus tetap dijaga bagi sang anak. Sehingga meskipun sang anak tinggal lama di luar negeri, tidak membuat anak tersebut menjadi orang luar negeri karena ia masih akrab dengan nilai-nilai Indonesia. Selain itu, komunikasi antara orang tua dan anak harus tetap terjembatani meskipun berada di dua negara yang berbeda. Selain itu, anak perlu mengalami kesulitan-kesulitan sebelum ia bisa melompat lebih tinggi. Sejak masih dalam lingkungan keluarga, orang tua perlu membiasakan anaknya untuk memegang tanggung jawab, minimal terhadap kebutuhannya sendiri.

Bagaimana cara agar penerus dapat membangun kompetensi dan kepercayaan diri?

Semua berawal dari rumah, selain perlu diberikan tekanan dan tanggung jawab, orang tua perlu menjaga kebersamaan dengan anak-anaknya. Biarkan anak terbiasa dalam mengalami kesulitan, sehingga sang anak dapat menyadari talenta diri yang sebenarnya. Orang tidak perlu terus mencekoki anaknya, terutama ketika remaja, karena saat itu merupakan titik tolak tumbuhnya kepercayaan diri. Di sebuah perusahaan keluarga, anak jangan hanya ditempatkan di satu posisi saja, orang tua perlu mengevaluasinya secara langsung dan tidak ragu untuk merotasinya ke bidang-bidang lain. Orang tua perlu memberikan trial and error bagi anaknya. Meskipun banyak perusahaan menganggap itu buang waktu dan biaya, namun trial and error dapat membantu sang penerus untuk menemukan talentanya yang sebenarnya.

Bagaimana agar next leaders ini bisa mengembangkan bisnis keluarga?

Ia perlu memiliki ruang kreasi. Sejak dalam masa pendidikan, orang tua perlu menanyakan minat dan kesukaan anaknya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)