Para Senopati Bisnis Diharapkan Aktif Berbagi

Para tokoh bisnis legendaris diharapkan lebih banyak berbagi untuk menularkan pengetahuan dan pengalamannya dalam menjalankan bisnis. Caranya, sperti dituturkan Tanri Abeng kepada Radito Wicaksono, adalah kesediaan meluangkan waktu dan aktif di arena pembelajaran. Apa saja kendalanya?

Apa cara yang bisa dilakukan untuk menggali ide dan pemikiran mereka?

Hal yang paling utama adalah, mereka harus banyak meluangkan waktu untuk aktif di arena pembelajaran, seperti contohnya pelatihan, forum, seminar, dan diskusi-diskusi lainnya. Kalau contohnya seperti Robby Johan, beliau masih bersama dengan saya di Executive Center for Global Leadership. Di sana beliau ikut saya. Hampir sama seperti saya, Robby sering ikut memberikan ceramah, baik di depan eksekutif-eksekutif maupun di instansi pendidikan (universitas).

Tapi ada beberapa tokoh yang tidak seperti Robby. Seperti, kalau saya, lihat T.P Rahmat, beliau masih cukup intensif dalam bisnisnya. Tapi sebenarnya, mereka ini harus bisa, secara ikhlas, dan memang dengan tujuan untuk menularkan apa yang telah mereka alami, harus aktif di forum-forum pembelajaran maupun forum-forum manajemen. Mungkin, apa yang saya dan Robby lakukan di Executive Center for Global Leadership, bisa dijadikan contoh. Di sana kami secara rutin melakukan sharing experience. Jadi, memang harus banyak melakukan sharing.

Yang menjadi persoalan adalah, di tengah demand waktu yang begitu besar bagi orang-orang ini, maka keterbatasan untuk bisa memberikan waktunya untuk sharing menjadi terbatas. Orang-orang seperti Pak Ciputra dan T. P. Rahmat, yang masih intensif di bisninya, akan mengalami kesulitan untuk memberikan pengalamannya kepada orang lain. Kecuali, jika mereka mendirikan lembaga pembelanjaran, seperti yang dilakukan Pak Ciputra dengan Universitas Ciputra-nya. Tapi saya pun tidak tahu seberapa besar waktu yang dilakukan Pak Ciputra aktif di universitas tersebut.

Seperti saya dan Robby di dalam Executive Center for Global Leadership,yang sudah berdiri dari 12 tahun yang lalu, bahkan saya mendirikan universitas, di mana hal tersebut merupakan komitmen bagi kami. Tujuannya adalah, supaya kami bisa membagi pengalaman dan pengetahuan kami supaya terus berkembang. Dan, tidak berarti bahwa kami sudah tidak belajar lagi. Kami terus belajar, karena banyak hal-hal baru yang kami temukan di sana.

Jadi, menurut saya, constraint-nya adalah masalah waktu. Karena demand bagi orang-orang yang sudah “senior” ini, sudah terlalu tinggi. Sehingga, spare waktu mereka menjadi terbatas. Itulah yang menjadi isu sebenarnya. Dan ini adalah sebuah pilihan yang harus mereka pilih. It is a choice. Mereka harus bisa memilih ingin mengorbankan yang mana?

Tanri Abeng

 

Apa pula yang harus dilakukan agar ide dan pemikiran itu bisa direalisasikan? Siapa yang harus merealisasikan?

Ada beberapa cara sebenarnya. Salah satunya adalah dari internal organisasi. Seperti Ciputra dan T.P Rahmat di organisaso perusahaannya. Disitu, mereka bisa membina dan mengembangkan tenaga-tenaga yang bisa mengikuti jejak mereka. Itu yang namanya succession planning dan succession program yang harus dilakukan di organisasi-organisasinya masing-masing.

Semisal Ciputra bisa melatih 10 orang di organisasinya, 10 orang tersebut jika nantinya “digunakan” di tempat lain, mereka akan menurunkan ilmu yang sudah diberikan oleh Ciputra. Dan, itu merupakan cara “satu arah”. Karena cara terbaik untuk belajar adalah pada tatanan praktek dalam organisasi. Karena ilmu tersebut hanya ada di lembaga-lembaga pembelajaran seperti sekolah, maka ilmu tersebut hanya ada pada tataran teoritis.

Kemudian ada cara berikutnya adalah melalui eksternal organisasinya. Yaitu bagaimana sebisa mungkin, orang-orang tersebut membangun lembaga-lembaga pembelajaran. Dengan begitu, ilmu atau pemikiran yang ingin dibagi ke orang lain, bisa dilakukan secara rutin.

Bagaimana seharusnya pemerintah mengakomodir dan mendukung agar pemikiran-pemikiran itu bisa diwujudkan?

Pemerintah harus lebih mendorong hal ini lebih penting. Jangan hanya menganggapnya sebagai hal penting saja. Pemerintah harus lebih mendukung kegiatan-kegiatan pembelajaran atau forum seperti ini.

Adakah best practices dari negara lain dalam mengoptimalkan pemikiran para “tokoh sukses” ini?

Paling tidak, saya lihat di Malaysia dan Singapura, karena saya sering aktif di forum-forum pembelajaran seperti ini. Di sana, pemerintah memiliki perhatian terhadap pentingnya masalah-masalah pembelajaran dan juga bagaimana supaya para “senior” bisnis ini mampu dimanfaatkan, betul-betul besar. Ada beberapa teman saya di sana, yang aktif mengembangkan lembaga atau forum-forum pembelajaran, menjadi penasehat perdana menteri. Mereka ini betul-betul praktisi, yang punya track record. Di sini justru yang paling banyak berada di posisi tersebut adalah politisi.

Bagaimana step-step mereka untuk merealisasikanya? Apa resources yang bisa mereka gunakan?

Saya kira susah apabila harus melakukannya secara step by step. Alasannya adalah, terlalu banyak tarik menarik di kebutuhan waktu mereka. Kecuali jika orang-orang tersebut sudah secara total melepaskan kegiatan eksekutifnya dan mereka masuk di dunia pendidikan dan pembelajaran secara total. Atau, paling tidak, mereka bisa membagi 70%-80% waktunya untuk berada di wilayah pembelajaran tersebut.

Tapi memang jika mereka bisa meluangkan waktunya lebih banyak atau bahkan total untuk berbagi, setidaknya di awal mereka harus aktif di dalam lembaga-lembaga khusus untuk eksekutif atau pendidikan eksekutif. Karena kalau untuk yang urusan teoritis dan normatif, kan sudah banyak.

Bagi saya, yang paling penting bagi mereka adalah, bagaimana mereka bisa mengurangi kegiatan eksekutif atau bisnisnya, dan betul-betul mengambil sikap bahwa teramat penting mereka berbagi, to give back.

Apa challenge terbesarnya?

Seperti yang saya katakan tadi, tantangan terbesar mereka adalah persoalan waktu. Mereka harus sibuk berbagi. They have to give up something. Tapi seperti , yang saya katakan tadi, it is a choice. Ini semua pilihan bagi mereka.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)