Pasar CPO Terus Tergerus Seiring Melemahnya Mata Uang Asia terhadap US$ | SWA.co.id

Pasar CPO Terus Tergerus Seiring Melemahnya Mata Uang Asia terhadap US$

Pada bulan Ramadhan ini, pelaku industri kelapa sawit mengharapkan permintaan CPO di pasar global akan meningkat. Namun, hal ini bertolak belakang karena ternyata volume ekspor CPO dan turunanannya asal Indonesia mengalami penurunan sebesar 11% dibandingkan bulan lalu. Meski demikian, dibandingkan tahun 2012 permintaan CPO mengalami kenaikan 29% dari 1,254 juta ton pada Juni 2012 menjadi 1,619 juta ton pada Juni 2013.

CPO

Sementara, harga CPO di pasar dunia masih relatif stagnan. Harga CPO pada Juni hingga pertengahan Juli 2013 berkisar diantara US$ 835 - 880 per metrik ton. Kisaran harga ini hanya mengalami kenaikan yang sangat kecil dibandingkan dengan bulan sebelumnya dikisaran US$ 828 – 865,” jelas M. Fadhil Hasan , Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia.

Pada minggu ketiga Juni 2013 harga CPO tercatat naik di kisaran US$ 870- 880. Namun, kenaikan ini tidak bertahan lama, pada minggu keempat harga kembali tergerus di kisaran US$835 – 855. Sementara itu, volume ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia mengalami penurunan sebesar 11% dibandingkan dengan bulan lalu yaitu dari 1,82 juta ton menjadi 1,62 juta ton.

Merosotnya volume ekspor CPO dan produk turunannya pada bulan Juni disebabkan berkurangnya permintaan dari India dan beberapa negara lainnya. India mengurangi pasokan CPO dan turunannya karena melemahnya mata uang India terhadap dollar Amerika Serikat (US$) yang menyebabkan pembelanjaan luar negeri menjadi mahal. Akibatnya, biaya impor CPO juga menjadi tinggi. Pada Juni ini, ekspor CPO dan turunanannya ke India tercatat turun 31,5% dibandingkan dengan bulan lalu atau dari 590,52 ribu ton menjadi 404,52 ton.

Penurunan permintaan juga diikuti oleh Cina. Volume ekspor ke Cina tercatat turun sebesar 9% dari 187,72 ribu ton menjadi 170,57 ribu ton. Penurunan permintaan dari Cina masih disebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan penurunan persediaan CPO di Negeri Tirai Bambu itu. Penurunan permintaan ini juga diikuti oleh negara-negara Asia lainnya, kecuali Pakistan.

Secara fundamental, permintaan CPO global memang masih lemah. Kelangkaan kedelai di Amerika masih berlangsung di bulan Juni sehingga permintaan CPO dari Amerika dan negara Uni Eropa tercatat meningkat. Penguatan mata uang Amerika terhadap mata uang negara Asia juga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan permintaan karena belanja impor menjadi lebih murah dengan budget yang sama. Kenaikan volume ekspor CPO dan turunannya ke Amerika tercatat 23,5% dibanding bulan lalu atau dari 35,50 ribu ton menjadi 43,85 ribu ton. Sementara volume ekspor ke negara Uni Eropa tercatat meningkat sebesar 36,9% dibanding bulan lalu atau dari 250,71 ribu ton menjadi 343,27 ribu ton.

Menjelang Ramadhan, permintaan CPO dan turunannya tercatat naik cukup signifikan untuk negara Pakistan yang merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim. Volume ekspor ke Pakistan tercatat dari 17,25 ribu ton menjadi 44,25 ribu ton atau meningkat lebih dari 150% dibandingkan dengan permintaan bulan lalu. Meningkatnya permintaan Pakistan karena jelang hari raya Idul Fitri di mana konsumsi pangan akan lebih tinggi dari pada bulan biasa.

Namun sayang, ekspor CPO ke Pakistan masih rendah, hanya 44.250 ton. Pasar CPO diprediksi relatif stagnan sepanjang Juli dan Agustus. Pada sisi pasokan, stok CPO Indonesia dan Malaysia diperkirakan akan menjadi andalan ekspor karena produksi yang relatif rendah pada bulan Juli dan Agustus. Penurunan pasokan ini tidak akan memberikan dampak yang berarti terhadap harga jika mata uang Asia tetap melemah. Sementara itu pasar dunia sudah mulai berspekulasi akan datangnya panen raya di bulan September sampai akhir tahun 2013 yang sudah tentu akan meningkatkan stok CPO Indonesia dan Malaysia.

Pada awal Juli ini penanaman kedelai di Amerika dan Argentina juga telah dimulai dan dukungan cuaca yang baik diperkirakan akan meningkat. Hal ini juga ikut memengaruhi harga di pasar bursa berjangka. GAPKI memperkirakan harga CPO pada Juli masih akan bergerak di kisaran harga US$ 840-870 per metrik ton. Harga CPO Rotterdam diperkirakan berada pada rata-rata US$ 856 dengan harga patokan ekspor sekitar US$ 783 dan BK 10,5%. (EVA)

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)