Tangkapan Berkurang, Tridaya Eramina Lirik Ikan Budidaya

Kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang menghentikan sementara izin operasi kapal eks-asing berdampak buruk pada pengusaha. PT Tridaya Eramina Bahari yang bergerak di bisnis ekspor ikan jenis pelagis besar yang hidup di perairan dalam, seperti tuna, marlin, cakalang (skipjack tuna), ikan pedang (swordfish), ikan selfish, dan wahoo. Ikan diekspor dalam bentuk utuh, fillet, loin (belah empat bersih), steak, kubus, sesuai permintaan pelanggan.

“Selain tangkap, kami juga sudah mulai melirik pasar budidaya mulai tahun ini, seperti lele. Langkah ini diambil semenjak ada moratorium (izin tangkap kapal eks-asing) dari Ibu (Menteri KKP) Susi (Pudjiastuti),” kata Dayat Suntoro, Direktur PT Tridaya Eramina Bahari.

Ia mesti jeli karena ikan tidak ditangkap sendiri. Perseroan mendapatkannya dari 30-40 pengepul ikan atau tengkulak yang ada di Jakarta, Bali, Ambon, dan Bitung. Sementara, pasokan lele diperoleh dari Indramayu. “Sekarang bisnis kami agak tertatih. Pabrik kami yang di Bitung, Manado kekurangan pasokan bahan baku. Biasanya, kami dapat pasokan dari daerah Timur, kalau sekarang, daerah Timur saja mintanya dari (daerah) Barat,” ujarnya.

Dayat Suntoro, Direktur PT Tridaya Eramina Bahari Dayat Suntoro, Direktur PT Tridaya Eramina Bahari

Sebenarnya, lanjut dia, ada plus dan minus dari moratorium yang digagas Menteri Susi. Perseroan kebanjiran order karena negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina tak lagi mendapat pasokan ikan yang mencukupi. Namun, dampak buruknya adalah persediaan bahan baku menjadi cepat habis. “Walaupun ikan di perairan laut kita melimpah, tapi kalau tidak ada yang menangkap, ya bagaimana. Memang, daya tangkap (ikan) kita kalah dengan negara lain,” ujarnya.

Nelayan lokal memang tak punya armada kapal yang memadai untuk menangkap ikan. Dengan kapal kecil, sulit bagi mereka menangkap ikan di lautan lepas. Ongkos menangkap ikan melambung karena besarnya tangkapan tak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan seperti untuk BBM, dan sebagainya.

Namun, Dayat mengakui dampak buruk kebijakan Menteri Susi bisa diminimalisir dengan ekspor yang tidak fokus pada satu jenis ikan. Biasanya ada bermacam-macam jenis yang diekspor dalam satu kontainer. “Sekarang, kami mengekspor rata-rata sampai 7 kontainer sebulan. Itu gabungan dari macam-macam jenis ikan pelagis dan juga budidaya. Jadi, ada 6 kontainer ikan pelagis besar dan 1 kontainer budidaya,” katanya.

Saat ini, Tridaya mengekspor ikan paling banyak ke Eropa, seperti Perancis, Portugal, Jerman, dan Belanda. Ada juga yang ke wilayah Asia, seperti Thailand dan Vietnam. Jenis ikan yang paling diminati adalah ikan tuna. Harga ikan yang paling mahal per kontainer adalah ikan pedang (swordfish) yang rata-rata hampir US$ 200 ribu per kontainer. “Umumnya, satu kontainer itu hampir US$ 100 ribu, yang isinya kombinasai, ada tuna, kakap merah, dan lainnya,” katanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)