Permintaan Dunia Naik, Pendapatan Dharma Samudera Tumbuh 29%

Salah satu produsen produk perikanan terbesar di Indonesia, PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk meraup kenaikan pendapatan cukup besar sepanjang tahun lalu. Raihan tersebut didorong kenaikan permintaan produk perikanan di luar negeri. “Revenue kami tumbuh sekitar 29% dari tahun 2013. Volume ekspor di kisaran 450-500 ton sementara (untuk pasar) lokal mencapai 90 ton per bulan. Nilai ekspor per tahun mencapai US$ 36,5 juta,” kata Direktur Dharma Samudera, Saut Marbun.

Dari hasil riset SWA Online, emiten berkode DSFI ini membukukan penjualan sebesar Rp 450 miliar per Desember 2013, atau naik 30% dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp 345 miliar. Volume penjualan pada periode yang sama mencapai 6.750 ton atau naik 20% dibanding realisasi tahun sebelumnya sebesar 5.800 ton.

Berdiri sejak tahun 1973, Dharma Samudera memproduksi ikan olahan dalam bentuk fillet (potongan daging ikan tipis tanpa tulang) dan sebagian dalam bentuk whole gilled gutted (utuh disiangi ) yang dikemas dalam karton. Berbagai jenis ikan seperti tuna, kakap merah, tenggiri, kerapu, cuttlefish (sotong), dan octopus (cumi-cumi) diolah di dua pabrik yang berlokasi di Jakarta dan Kendari. “Ke depan, kami ingin meningkatkan produk menuju zero wise dan juga produk yang memberi banyak nilai tambah,” ujarnya.

Saut Marbun, Corporate Secretary dan Director PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk Saut Marbun, Corporate Secretary dan Director PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk

Perseroan memulai operasional komersialnya pada tahun 1983. Untuk mendapatkan hasil tangkapan laut yang akan diolah, perusahaan menggandeng mayoritas nelayan di wilayah Indonesia Timur. Dharma Samudera menjalin kerjasama operasional (KSO) dengan para nelayan yang membentuk kelompok nelayan dengan jumlah kapal yang cukup banyak. “Saat ini sudah ada KSO dengan nelayan Makassar, Banggai, Bitung, Dobo, dan Kendari. Perseroan mentransfer know-how dan membeli seluruh ikan hasil tangkapan mereka,” katanya.

Saut menjelaskan, kendala terbesar adalah masih terbatasnya pasokan bahan baku dari nelayan. Masih maraknya pencurian ikan (illegal fishing) membuat kekayaan laut Indonesia banyak dinikmati oleh negara lain seperti Vietnam, Thailand, China, dan Filipina. “Mereka tak punya kekayaan sumber daya ikan melimpah di tanah airnya. Hanya dapat pasokan dari hasil mencuri di perairan laut Indonesia,” ujarnya.

Ia memuji gebrakan pemerintah baru Joko Widodo dan Jusuf Kalla memberantas illegal fishing melalui serangkaian gebrakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Ia berharap program tersebut dapat dijalankan secara berkesinambungan. “(Pemerintah) sudah bagus dalam hal pemberantasan illegal fishing. Namun, transhipment (alih muatan untuk memperjualbelikan hasil tangkapan di tengah laut) untuk dikirim ke pabrik dalam negeri seharusnya diberi kebebasan. Jangan disamakan dengan transhipment bagi kapal yang akan membawa muatan ikan keluar negeri,” ujarnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)