Pengamat: Konsolidasi Perbankan Mendesak

Wacana penggabungan bank atau konsolidasi perbankan menjelang diberlakukannya pasar bebas ASEAN (MEA) adalah harga mati. Harapannya, bank lokal memiliki daya saing lebih besar dan sejajar dengan bank besar di kawasan ASEAN, seperti UOB, CIMB, DBS, OCBC, Maybank, dan Bangkok Bank.

Pengamat perbankan A Tony Prasetiantono mengatakan bisnis bank sangat padat modal. Banyak pemiliknya yang menyerah dan memilih menjual banknya jika tak kuasa menyuntik modal lagi. Modal memang elemen penting dalam bisnis jasa keuangan yang satu ini.

Bank sulit memiliki infrastruktur teknologi dan informasi yang memadai tanpa dukungan modal yang kuat. Imbasnya, layanan kepada nasabah pasti akan terganggu. Misalnya, nasabah sulit menarik uangnya karena terbatasnya jumlah ATM. Nasabah juga akan lebih memilih bank yang bisa menawarkan transaksi via mobile ataupun internet banking ketimbang harus ke kantor cabang terdekat.

Tanpa dukungan modal yang kuat, bank tak bisa melakukan ekspansi kredit. Setiap kredit yang disalurkan akan menurunkan angka rasio kecukupan modal (CAR). Ada batas minimum CAR yang harus dipenuhi setiap bank sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Di Indonesia memang agak aneh, ada 119 bank yang melayani 250 juta penduduk. Yang hanya bisa suntik modal secara rutin paling hanya 20 bank besar,” ujarnya.

Pengamat Perbankan A Tony Prasetiantono Pengamat Perbankan A Tony Prasetiantono (Foto: IST)

Bank yang tak punya modal kuat akan tersisih di era pasar bebas ASEAN. Solusinya tiada lain adalah konsolidasi perbankan. Hingga saat ini, merger bank masih terbatas wacana. Regulator dan pemilik bank mesti segera mencari strategi jitu untuk mempercepat konsolidasi agar perbankan nasional punya daya saing lebih besar.

“Jumlah bank di Malaysia terus menyusut hingga sekarang hanya tersisa 8 bank untuk melayani sekitar 30 juta penduduk. Singapura hanya punya 3 bank, tapi tergolong besar di regional ASEAN, untuk 6 juta penduduknya,” katanya.

Menurut Tony keberadaan banyak bank juga tak berbanding lurus dengan jumlah masyarakat yang telah mendapat layanan perbankan (financial inclusion). Dari data Bank Dunia tahun 2011, masyarkat yang sudah bisa mengakses layanan perbankan tidak sampai separuh dari total penduduk Indonesia.

“Jumlah kredit yang disalurkan pun tak pernah lebih dari 50% terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Indonesia memang masih menarik untuk investor asing karena NIM (margin bunga bersih) tinggi. Demikian juga ROI (tingkat pengembalian investasi),” ujarnya.

Selama ini, merger terutama di bank-bank milik pemerintah, hanya dibiarkan sebatas wacana. Padahal, kehadiran bank pelat merah yang kuat bisa melecut bank-bank lainnya untuk melakukan hal serupa agar bisa bertahan di era pasar bebas seperti sekarang. Teranyar, rencana penggabungan Bank Mandiri dan BNI juga masih belum mendapat respons positif dari pemerintah dan direksi bank yang bersangkutan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)