Pengelolaan Human Capital Perusahaan di Indonesia Makin Inovatif

Lembaga Manajemen UI kembali menggandeng SWA Media mencari perusahaan-perusahaan yang menerapkan praktik pengelolaan human capital terbaik. Ini merupakan tahun ke-10 diadakannya Program HR Excellence Award 2018.  Selain itu, diadakan pemilihan para calon pemimpin masa depan di bidang human capital. Dalam proses penjurian tersebut ditemukan fakta-fakta menarik dari para finalis, terutama dari best practice perusahaan dalam mengelola human capital.

Irvandi Ferizal salah satu juri mengagumi 30 finalis yang presentasi pada penjurian yang diadakan di Lembaga Manajemen UI pada 19, 22, dan 27 Maret 2018 lalu. “Semua menarik, peserta menunjukkan inovasi praktik pengelolaan human capital mereka. Bahkan sudah makin advance dengan digitalisasi serta dengan cara-cara yang unik,” ujarnya seperti disampaikan sebelum penyerahan award di Ceria Room Shangri La Hotel Jakarta (07/05/208).

Menurutnya, bisa dikatakan mayoritas peserta sudah menerapkan future concept works dalam pengelolaan human capital-nya, dengan tidak hanya memikirkan kapabilitas saat ini atau hari ini saja, tapi juga kapabilitas masa depan.

“Semua adalah pemenang. Semua adalah leaders terutama yang mendapat kesempatan presentasi. Salah satu kesimpulannya, dari skala A sampai C yang kami berikan pada para finalis, tidak ada nilai yang C, para finalis mendapat nilai A dan B,” kata pria yang juga Direktur Human Capital dari Maybank ini.

Sebelumnya, Keman E. Gani, Group CEO SWA Media Corp. menuturkan, program ini menekankan pada pencarian best practice perusahaan-perusahaan di Indonesia, yang diharapkan bisa menjadi benchmark bagi perusahaan lain. Sedangkan untuk pemilihan HR Future Leader adalah pencarian para calon pemimpin masa depan di bidang human capital. Langkah konsisten SWA Media bersama Lembaga Manajemen UI ini menunjukkan konsern keduanya dalam pengembangan SDM Indonesia di masa depan. “Great strategy without great people dalam perusahaan itu tidak ada artinya, tujuan akan sulit dicapai,” tegas Kemal.

Ia melanjutkan, penting bagi perusahaan menghasilkan eksekutif-eksekutif puncak, talenta baru terbaik sebagai bagian dari strategi perusahaan. “Jumlah tenaga kerja banyak tapi yang berintegritas, berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan tidaklah mudah,” tuturnya.

Dr Willem Makaliwe, Wakil Kepala Bidang Konsultasi dan Riset Lembaga Manajemen UI, mengungkapkan apresiasi kolaborasi pihaknya dengan yang SWA Media yang cukup panjang hingga 10 tahun ini. “Program ini menjadi saksi praktik human capital di korporasi hingga kini masuk era startup dan perusahaan berbasis online, dan ini makin memperkaya penjurian ini,” ujar Willem.

Ia menyebut, usia Lembaga Manajemen UI yang sudah memasuki 53 tahun ini paparan para finalis membuat pihaknya kagum yang selama inii banyak bergelut di teori, terutama tahun ini ada startup yang ikut dalam penjurian. “Kami mengapresiasi HR management practices yang bagus dalam perusahaannya Bapak dan Ibu sekalian, ini perjalanan yang sangat bagus,” tuturnya.

Bagus Setiawan ,Kadiv Capital & Management PT PLN (Persero), sebagai salah satu pemenanga, pegawai PLN di masa lalu banyak dibajak. Hal ini emmebuat manajemen melakukan transformasi dalam pengelolaan human capital-nya.  “Kami mencari tahu apa sih yang menarik dari pembajak, bukan saja ke perusahaan sejenis dengan kami, tapi juga dari industri berbeda. Kami menemukan adanya perang reneumerasi. Ketika kami merekrut tenaga baru ternyata tidak seperti yang kami harapkan. Jurusan Elektro arus kuat dari universitas atau perguruan tinggi terbaik justru tidak memilih PLN,” ujar Bagus yang diberi kesempatan presentasi pada acara ini.

Dari pasarlah PLN belajar bagaimana mengelola human capital dan terus melakukan perbaikan termasuk sistem reneumerasi yang kini berbasis kinerja. Dari sisi sistem karier pegawai, dengan sistem baru ini, memungkinkan karier lebih luas, sehingga pegawai bisa berkarier sampai anak perusahaan dan afiliasi dangan platform yang sudah tersandar dalam PLN Group.

“Kami juga bisa me-retain pegawai yang memiliki kompetensi non core business untuk tetap berkarier di PLN Group karena portofolio anak perusahaan yang luas. Dan kami memiliki talent pool yang terpusat di holding,” kata Bagus.

“Sistem kinerja juga kami memungkinkan orang untuk dikeluarkan. Jika tiga semester tidak perform ya PHK. Turn over tidak boleh nol, yang keluar tidak boleh orang yang mempunyai potensi. Kami sudah punya sistem yang sudah terbukti berjalan untuk membuat yang berpotensi tetap di PLN sedangkan yang tidak perform harus keluar,” katanya selepas penjurin. PLN memiliki lima kriteria penilaian mulai dari marginal, need improvement, meet requirement, exit requirement dan outstanding. Orang yang selama 3 kali berada di posisi marginal, dia harus di PHK dan otomatis sistem akan membuat begitu.

Irvandi menyampaikan masukan pada perusahaan dalam pengelolaan human capital yang menurutnya masih tergoda dalam konsep activity based. “Mereka punya kegiatan, tapi belum terlihat impact-nya, harus diperhatikan apa yang dilakukan memberikan impact yang jelas pada organisasi. Mari kita wujudkan Indonesia yang kompeten di 2019,” tegasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)