Pengobatan Kanker Usus Tidak Lagi Seharga Toyota Avanza

PT Bifarma Adhiluhung adalah salah satu anak perusahaan Kalbe Farma yang merupakan laboratorium genetik swasta pertama di Indonesia yang melayani pemeriksaan patologi molekuler. Laboratorium ini telah mendapat izin dari Kementerian Kesehatan pada pertengahan tahun 2009.

Ahmad Utomo, Bifarma Ahmad R. Utomo, Head of Laboratory PT Bifarma Adhiluhung

Melihat penderita kanker usus di Indonesia semakin meningkat dan usia penderitanya semakin muda, maka muncul inovasi uji gen ini. Ahmad Utomo, Head of Laboratory, mengatakan bahwa pada tahun 2007 muncul pengumuman bahwa pada obat tertentu, indikasinya bukan hanya untuk pengobatan kanker usus secara umum.

Menurut Ahmad Utomo, hanya 30% dari para penderita kanker usus yang mendapatkan manfaat penuh dari pengobatan yang ada. “Apabila pengobatannya tidak pas, maka kondisi pasien bisa memburuk,” ujar Ahmad. Dengan melihat hal tersebut Ahmad Utomo merasa timing untuk melakukan inovasi sangatlah tepat. “Timing-nya itu sangat pas dengan adanya obat itu kan sangat mahal. Kalau tahu apakah gennya bermutasi atau tidak jadi bisa melakukan pengobatan lebih tepat, sehingga bisa menghemat biaya,” katanya kepada Dadi A. Salim dari SWA Online. Berikut penuturan Ahmad R. Utomo, Head of Laboratory (PT Bifarma Adhiluhung, Kalgen):

Apa bentuk inovasi/NPD yang mereka tonjolkan?

Untuk yang diikutsertakan ini adalah pemeriksaan tes genetik untuk kanker usus. Yang kami bawa untuk transformasi ini adalah metode pemeriksaannya. Kalau untuk pemeriksaan mutasi GSR atau mutasi KRAS sebenarnya banyak perusahaan lain yang melakukan. Tapi biasanya mereka menggunakan kit comercial dari luar negeri. Jadi ini yang kami modifikasi dengan teknik yang kami kembangkan. Metode ini sudah divalidasi dan sudah diuji, dan ternyata cara yang kami lakukan ini bisa lebih spesifik sesuai kebutuhan klinis dan juga bisa lebih sensitif jadi lebih bagus dari segi hasilnya. Tentunya bisa lebih murah dan sesuai dengan pasar di Indonesia.

Dengan kondisi pengambilan sampel di rumah sakit yang mungkin kurang sempurna dan didiamkan terlalu lama sehingga jaringan rusak dan sebagainya, dan dengan teknik yang kami kembangkan bisa berkompromi dengan keadaan seperti itu dibandingkan dengan yang lain.

Bifarma2

Sejak kapan dilakukan? Apa targetnya?

Awal penelitiannya sejak tahun 2007, tapi mulai dipasarkan 2009. Target pasar kami memang ke rumah saki-rumah sakit. Karena orang yang kena kanker usus itu harus diperiksa dulu apakah gennya bermutasi atau tidak. Kalau misalnya bermutasi ya ngapain pasien bayar mahal buat obat yang ternyata tidak cocok buat dia.

Kalau untuk obat yang biasa dipakai dari luar negeri itu kan mahal sekali, bisa sampai satu harga Toyota Avanza. Kalau tahu gennya bermutasi kan jadi tidak perlu bayar semahal itu. Untuk uji gen ini untuk pasien kira-kira menghabiskan biaya sekitar Rp2,5 juta sampai Rp3 juta. Dan setelah tahu gennya bermutasi maka hanya perlu dikemoterapi saja yang harganya sekitar Rp30 juta. Ini kan biayanya jauh lebih murah.

Kebetulan timing-nya pas, pada tahun 2008 keluar guidline dari klinik, kami selalu ikut kongres luar negeri. Pulang dari kongres kami bingung, ternyata ada obat untuk penyakit ini tapi kok resep. Sebelum saya kasih resep harus dites dulu nih status gen KRAS-nya. Ternyata apa yang kami uji dari tinja itu sekarang ada manfaatnya, untuk menentukan pengobatan. Karena untuk obat yang ada ini harganya kan mahal. Keluarga di rumah harus mikir, mau nyekolahin anaknya atau ngobatin bapaknya. Nah dengan uji KRAS ini bisa membantu pasien mengambil keputusan. Kalau ternyata KRAS-nya belum termutasi, bisa lah diupayakan dengan obat yang sangat mahal ini. Tapi kalau sudah termutasi, tidak usah buang uang seharga satu mobil (Avanza). Pasien hanya perlu kemoterapi saja sekitar Rp20 juta sampi Rp30 juta, harganya beda jauh kan.

Apa saja investasi yang mereka lakukan untuk jalankan inovasi ini?

Kalau untuk lab ini bisa miliaran ya, karena untuk satu mesin saja ada yang sampai harganya Rp 1,5 miliar. Tapi kalau untuk uji tes gen yang bermutasi ini sekitar Rp 500 juta. Kalau mau dihitung dari total semuanya sih agak sulit, karena Bifarma ini kan salah satu anak perusahaan dari Kalbe. Jadi itu ada di Kalbenya, tapi Kalbe itu banyak pemasukannya kan dari yang produk seperti Extra Joss dan lain-lain kerena produk seperti itu tidak memerlukan resep, beda dengan farmasi yang membutuhkan resep dokter.

Bagaimana hasil inovasinya?

Seperti yang saya bilang, kalau di tempat lain itu pengambilan samplenya ada yang standar, ada yang tidak standar. Dengan adanya inovasi ini, kami bisa menguji sampel yang tidak standar. Untuk uji gen kanker usus besar, sampelnya dari jaringan kanker yang telah dioperasi. Penelitian kami memang diawali untuk mendeteksi mutasi gen dari sampel kotoran manusia di circa tahun 2007-2009. Artinya kami memang sudah terbiasa untuk mendeteksi mutasi gen KRAS dari tinja di mana jumlah gen nya pasti sangat kecil, tapi kami alhamdulillah mampu mendeteksinya.

Dengan adanya inovasi ini juga pasien jadi tidak perlu menunggu lama. Tapi tentu setiap inovasi harus ada nilai bisnisnya, karena kalau tidak penelitian ini hanya jadi program CSR dari Kalbe demi kepentingan kemanusiaan. Dari sisi finansial juga sidah bisa ikut berkontribusi dalam neraca keuangan meskipun tidak banyak. Sejak tahun 2010-2014 kalgen telah memeriksa 2.368 sampel yang dikirim dari 220 rumah sakit dan klinik di Indonesia.

Bagaimana tingkat kematangan inovasi mereka?

Kalau level kematangannya sih sudah sangat baik. Di Indonesia ini kan masyarakatnya krisis kepercayaan. Jadi kami setiap tahun selalu ikut uji tes profisiensi ke lembaga indenpenden seperti EMQN (The European Molecular Genetic Quality Network). Mereka mengirimkan sampel dan kami diminta untuk menguji sampel tersebut kurang dari satu bulan. Dan tingkat kelulusan tesnya hanya 70% dari lab yang terdapat di 40 negara. Kami adalah salah satu lab yang lolos di 70% tersebut.

Apa manfaat yang sudah mereka petik dari proses inovasi?

Pertama memang dari sisi finansial, alhamdulilah setelah tahun keempat sejak 2009 jadi ikut mengkontribusi neraca keuangan kami. Neraca kami sudah mulai positif walaupun angkanya tidak besar tapi ada nilai labanya. Yang kedua dari sisi experience, kami jadi tahu apa yang diperlukan untuk menjalankan suatu jasa di bidang medis yang sifatnya advance. Karena kalau dilihat di Indonesia lab yang seperti kami itu sangat jarang bahkan bisa dibilang tidak ada.

Apa keistimewaan inovasi mereka?

Kelebihan dari kami adalah kami bisa melayani sampel yang tidak standar, karena kelemahan di Indonesia adalah specimen atau sampel yang diambil itu tidak sesuai standar. Kelebihan lainnya adalah dari teknologi platformnya yang tepat guna sehungga bisa cost effective.

Kalau di tempat lain agar biayanya murah, mereka biasanya pakai sistem pulling atau kayak angkot ngetem dulu sampai sampelnya terkumpul dari beberapa pasien sehingga bisa melakukan tes sekaligus. Kalau di kami hanya menguji satu sampel pun kami layani, karena kami sudah tahu harus menguji seperti apa untuk uji gen yang mutasi ini. Dengan demikian pasien jadi tidak harus menunggu lama. Kalau pasien menunggu kelamaan kan kasian juga nanti keburu meninggal pasiennya.

Kelebihan kami juga dari sisi waktu. Kami hanya butuh waktu lima hari kerja dan dengan kualitas yang terjaga.

Lalu, apa yang masih menjadi kekurangan?

Sebenarnya yang menjadi tantangan di inovasi ini bukan dari teknologinya, tapi dari tenaga kerjanya atau orangnya. Karena orang yang punya kemampuan untuk melakukan tes ini memerlukan skill khusus dan tidak banyak yang mampu. Untuk uji gen yang mutasi ini saya hanya ada empat orang saja, jadi kalau misalnya nanti ada yang keluar berarti saya harus cari orang penggantinya.

Tapi dengan adanya tantangan seperti ini sebenarnya suatu hal yang bagus. Karena artinya tidak banyak pesaing, tapi kami juga melihat jangan sampai risikonya terlalu tinggi. Karena kalau terlalu tinggi juga risiko kemungkinan gagalnya jadi besar.

Karena itu, rencananya nanti akan ada pelatihan-pelatihan. Jadi nanti tenaga yang dari sini bisa jadi semacam duta atau pengajar untuk dikirim ke rumah sakit-rumah sakit untuk melatih. Seperti tadi yang saya sebutkan, bahwa nanti akan ada inovasi baru untuk membuat kit atau peralatan untuk tes ini yang bisa dibeli oleh rumah sakit dan mereka bisa melakukan tesnya sendiri. Untuk bisa melakukan tes ini kan butuh pelatihan yang nanti kmai bisa sediakan.

Alhamdulillah teknik yang kalgen kembangkan mampu mendeteksi mutasi gen EGFR dari sampel yang sedikit jumlah sel tumornya. Di tahun 2012, Singapura mempublikasikan data mereka yang juga menggunakan sampel sitologi, dan ternyata data mereka sama dengan data kami. Jadi kemampuan anak-anak Indonesia yang mayoritas lulusan S1 mampu dididik untuk bisa melakukan teknik biologi molekuler yang sebenarnya cukup kompleks. Di antara mereka kini sudah dan sedang menjalani pendidikan S-2 dan S-3 di Australia. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)