Tingkatkan Daya Saing Tekstil Nasional Melalui Pameran Inatex 2015

Perkembangan teknologi merupakan salah satu kunci utama percepatan ekonomi, tanpanya ekonomi suatu negara akan semakin melemah. ”Inovasi teknologi amat dibutuhkan, kita tidak bisa menutup diri dari hal tersebut. Inovasi teknologi dapat kita jumpai dalam pameran seperti ini,” ujar Hardjanto, Kementrian Perindustrian RI.

Hal ini diungkapkan saat menghadiri pembukaan pameran Inatex-Indo Intertex-Technitex 2015. Pameran ini menghadirkan berbagai produk, bahan, dan teknologi terbaru tekstil. Pameran yang bertempat di Jakarta International Expo atau JIExpo, Kemayoran itu menghadirkan 40 perusahaan dari 24 negara atau region dan menempati area 12.000 meter persegi di hall A dan D. Pameran yang berlangsung selama tiga hari sejak 23-25 April ini diharapkan mampu menarik 8.000 pengunjung dengan target pengusaha dan profesional.

Pameran-tekstil

Menurut Paul Kingsten, penanggung jawab proyek pameran, tahun ini pameran yang ke-13 kalinya menampilkan semua aspek yang berkaitan dengan industri non woven dan techincal textile. Hal ini dikarenakan pasar untuk non woven cukup cepat tumbuh dalam kawasan Asia. Adanya pameran ini diharapkan agar pengusaha lokal tertarik dengan industri non woven.

Hardjanto menjelaskan, pameran ini diharapkan mampu menumbuhkan daya saing masyarakat terutama dalam menghadapi AFTA. “ Untuk bersaing terhadap dunia globa kita harus memiliki daya saing salah satunya energy innovation driven economy. Di dalamnya ada 3 kelompok yang disebut factor different economy, efficiency driven economy, dan innovation. Berhadapan dengan efesiensi dan inovasi, tentunya kita akan mendapatkan gambaran yang utuh melalui pameran ini.”

Ia pun menyatakan bahwa pemerintah juga telah menentukan langkah dalam mendorong industri mesin teksti di dalam negeri. Salah satunya dengan berbagai insentif yang diberikan dalam berbagai pertemuan sejak beberapa tahun lalu. Indonesia juga telah melakukan berbagai kerjasama dengan negara lain sperti Jepang, Cina, Korea, dan Uni Eropa seperti Belgia.

Kerja sama ini dilakukan dalam rangka memunculkan investasi, sehingga mereka mau menanamkan modal. Namun Indonesia harus siap dengan mengubah beberapa hal.” Dari segi bisnis manufaktur juga harus diubah. Kemarin saya empat menyinggung soal gas, ini mendapat sambutan yang baik dari pak Sofyan Djalil. Nanti tahun 2016 akan diadakan eksekusi dengan semua perhitungan cost dan benefit. Hasilnya nanti akan termasuk dalam gross domestic product yang akan muncul sebagai bentuk dari benefit revenue pemerintah dalam bentuk pajak," dia menguraikan.

Perbaikan ini dilakukan dari hulu ke hilir, yang artinya semua sektor yang berhubungan dengan tekstil harus dibenahi.”Listrik itu kan sebenarnya juga salah satu pendukung dalam industri tekstil, jadi kita benar-benar harus memperhatikan dari hulu ke hilir, jangan hilirnya maju, tapi hulunya terlambat. Ini akan menjadi hambatan. Kalau kita berbicara ekspor market dengan target sekitar 300% pada akhir tahun artinya Indonesia harus punya daya saing," jelasnya lagi. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)