Perbankan Bisa Jadi Penggerak Properti

Biasanya investasi properti merupakan aset yang aman untuk orang-orang Indonesia. Tidak seperti bursa saham, banyak orang mengerti dan menerima risiko bahwa harga saham bisa saja jatuh, kebanyakan orang yang membeli rumah tidak pernah berpikir kalau harga rumah bisa jatuh. Orang-orang pun biasanya lebih berhati-hati dalam membeli suatu properti karena besarnya harga yang harus dibayarkan dan biaya pemeliharaannya.

mochtarRiady

Sama dengan harga barang-barang lainnya, harga properti juga bergantung pada banyaknya penawaran dan pembelian. Saat permintaan bertambah dan atau penawaran menurun, harga-harga naik. Sebaliknya juga jika permintaan menurun dan atau penawaran meningkat, harga-harga akan turun.

Bubble terjadi ketika kenaikan harga yang sangat pesat melebihi tingkat yang rasional dan tidak didukung oleh faktor ekonomi lainnya. Pada saat banyak orang menyadari harga pasar yang sudah terlalu tinggi dan tidak masuk akal, mereka mulai menjual barang mereka sehingga meningkatkan jumlah penawaran di pasar yang pada akhirnya menurunkan harga barang tersebut. Ketika jumlah penawaran meroket dan disertai dengan permintaan yang menurun, maka terjadi pecahnya bubble tersebut. Fenomena ini terjadi juga di bidang properti.

Kondisi ekonomi yang sedang turun di tahun 2015 demikian halnya dengan properti yang mengalami penurunan. Hal ini menimbulkan beberapa prediksi bahwa Indonesia akan mengalami bubble properti dalam kurun waktu 5 tahun. Meski demikian, Mochtar Riady, Pendiri Lippo Group menyatakan pendapat yang berbeda. Baginya, properti di Indonesia masih bisa diharapkan. Hal ini dikarenakan meski harga properti mengalami ketidakseimbangan, tapi kebutuhan properti di Indonesia masih cukup besar.

“Kalau cerita harga tinggi atau murah atau rendah, saya kira harus ada patokan. Di sini, patokan yang diambil adalah Singapura, Malaysia dan Thailand. Mungkin Singapura merupakan negara kecil, jadi bagi saya kurang cocok untuk dibandingkan. Kalau mau dibandingkan, saya lebih condong ke Malaysia. Yang menjadi cacatan adalah, pertama harga properti di Indonesia ini masih lebih rendah dari di Malaysia. Kedua adalah demand dari properti ini masih begitu banyak,” ujar Mochtar.

Mochtar juga menyatakan bahwa dalam setiap bisnis pasti terdapat business cycle. Bisa naik dan turun pada periode tertentu. Namun jika dilihat dari segi tren, masih tetap naik. Baginya, itu bukanlah bubble properti. Ia berpendapat bahwa tantangan dari properti bukan dari sektor bisnis, melainkan dari pemerintah dalam hal ini adalah kantor pajak.

“Ada satu masalah di properti adalah pemerintah dalam hal ini adalah kantor pajak. Kantor Pajak canggih sekarang. Siapun beli properti pasti tanya uang darimana. Ini jadi kendala. Banyak berpikir bagaimana uang ini dilaporkan. Nantinya takut ada masalah” paparnya.

Mochtar menambahkan, perbaikan kondisi di sektor properti ini adalah perbankan. Baginya, perbankan harus memperbaiki sistemnya dengan baik dan benar. Terlebih, sektor properti dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi Indonesia. “Ketika sistem perbankan sudah baik dan bisa memberi kredit secara proporsional, maka properti bisa berkembang jadi penggerak ekonomi Indonesia,” ia menegaskan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)