Perbankan RI Seksi, Tapi Kalah Besar

Indonesia adalah negara paling berpengaruh di ASEAN. Dengan jumlah populasi penduduk mencapai sekitar 40% dari total penduduk di ASEAN, serta rasio PDB hampir 40% dari total PDB di regional, seharusnya RI mampu mengambil peran utama, tak hanya sekadar pasar bagi perbankan di Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan sebagainya. Sebelum sampai kesana ada beberapa hal yang harus diperbaiki lebih dulu. Dalam menghadapi ASEAN Banking Integration Framework (ABIF), ada tiga prinsip utama, equal access, equal treatment, dan equal environment.

“Kita harus punya level of playing field yang sama. Itu yang belum bisa diperoleh. Apalagi, nanti saat ABIF 2020 mendatang, ada yang namanya Qualified ASEAN Bank, bank yang bisa beroperasi di negara-negara ASEAN dan acting as a local bank. Cabang bisa di mana-mana,” kata Executive Director Mandiri Institute, Destry Damayanti di Jakarta, belum lama ini.

Untuk equal treatment, lanjut dia, Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan masih harus melakukan lobi tingkat tinggi dengan regulator perbankan negara-negara ASEAN lainnya. Kalau bank-bank asing maupun campuran bisa dengan bebas membuka cabang di Indonesia, tidak demikian halnya dengan bank lokal RI seperti Bank Mandiri Tbk yang kesulitan membuka cabang di Malaysia. Di negeri Jiran, bank asing hanya bisa punya 18 cabang, paling banyak di daerah terpencil, dan harus mau membiayai segmen mikro. Di Indonesia, tidak seperti itu, jauh lebih bebas.

“Contoh, Bank Mandiri mau menambah ATM tidak bisa karena berdasarkan aturan, ATM harus berada di dalam kantor cabang. Untuk bank di Malaysia, kantor cabang mereka di Indonesia bahkan lebih banyak dari negara asalnya. Untuk mereka keluar itu harus kalau mereka mau tumbuh. Kalau di Indonesia, keluar tidak harus karena pasar di Tanah Air masih sangat besar,” ujarnya.

Executive Director Mandiri Institute, Destry Damayanti Executive Director Mandiri Institute, Destry Damayanti

Menurutnya, tingkat penetrasi perbankan yang masih rendah membuat ruang untuk tumbuh masih sangat besar. Tak heran, banyak bank asing yang berlomba-lomba mendirikan cabang atau kantor perwakilan di Indonesia. Kalau dipetakan, dari cabang-cabang bank yang ada di Indonesia, 43% adalah milik bank asing dan campuran. “RI masih sangat menguntungkan. rasio kredit terhadap PDB masih di kisaran 30%. Filipina hampir 100%, Vietnam sudah di atas 100%. Jadi market mereka sudah jenuh. Sementara, Indonesia ruangnya masih gede untuk tumbuh. Di Malaysia dan Singapura sudah susah tumbuh,” ujarnya.

Untuk itulah, bank-bank di Tanah Air, harus melakukan konsolidasi agar tercipta satu bank dengan modal kuat. Wacana merger antara bank-bank BUMN yang punya banyak kesamaan seperti karakter nasabah yang kebanyakan korporasi seperti Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia mesti segera diwujudkan. Dengan demikian, Indonesia akan punya satu bank besar yang setara dengan bank besar di kawasan ASEAN seperti DBS, UOB, dan Maybank. “Untuk menggabungkan bank-bank milik pemerintah harus ada political will yang kuat dari pemerintah dan manajemen bank yang bersangkutan,” katanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)