Perbanyak Riset untuk Garap Kelas Menengah

Piramida penduduk Indonesia mulai “menggemuk” di bagian tengah. Ini menunjukkan jumlah penduduk di usia produktif yang semakin bertambah. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Majalah SWA bekerja sama dengan Inventure, pertumbuhan kelas menengah berlangsung sejak 2010 sekitar 8-9 juta/tahun. Oleh karena itu, diperlukan cara efektif untuk menggarap kelas menengah. Managing Director Inventure, Yuswohady, menuturkan kelas menengah terbagi dalam segmen dengan kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda. Para marketers harus jeli membuat program agar tepat sasaran. Untuk itu, perlu melakukan banyak riset untuk mempelajari perilaku kelas menengah.

“Kenapa perlu ada riset ini? Karena kelas menengah di Indonesia itu semakin membesar dan perilaku mereka tidak kita ketahui secara pasti. Sebagai pemilik produk harus mengetahui dengan teliti dulu perilaku konsumen produk mereka, sehingga dapat membuat program yang ‘tajam’,” katanya.

Menurut dia, ada tiga faktor utama yang harus diperhatikan dalam riset kelas menengah, yaitu daya beli, tingkat pengetahuan, dan koneksi sosial. Masyarakat kelas menengah sudah memiliki daya beli yang tinggi. Mereka tidak lagi harus membeli barang dengan harga murah karena sudah dapat membeli produk yang premium. Segmen kelas menengah juga telah memiliki banyak informasi mengenai suatu produk. Kehidupan mereka yang lekat dengan gadget semakin memudahkan mereka membandingkan satu produk dengan yang lain.

“Mereka tumbuh menjadi smart bargainer. Terakhir dari sisi social connection, pencitraan diri dan aktualisasi menjadi penting. Artinya program diarahkan ke program yang bisa menjadi wadah untuk mengekspresikan diri mereka,” ujarnya.

Managing Partner Inventure, Yuswohady Managing Partner Inventure, Yuswohady

Yuswohady menjelaskan, pasar kelas menengah yang besar tentu sangat potensial. Namun, penelitian tentang segmen tersebut masih tergolong baru di Indonesia. Pertumbuhan kelas menengah yang cepat sejak 2010 memicu kenaikan permintaan sejumlah produk yang akhirnya berpengaruh terhadap peluang bisnis. Secara mudah kelas menengah dapat digambarkan sebagai kelas masyarakat yang inovatif, daya beli tinggi, dan melek teknologi. Segmen tersebut mudah mengakses informasi dari gadget yang mereka miliki. Namun, gaya hidup mereka masih dalam tahapan transisi dari gaya hidup yang lama.

“Para pemilik merk sudah mulai menyesuaikan pemasaran dengan kebutuhan konsumennya. Mereka sudah mulai melakukan survei kecil-kecilan untuk menganalisis pasar. Itu cara awal yang baik untuk kemudian menghasilkan produk yang based on customer need and based on customer want,” katanya.

Dia mencontohkan, Yamaha melakukan top up atau treating up ketika pasar motor mulai terlihat jenuh dengan prduk yang hampir sama. Pabrikan berlambang garputala itu merilis motor besar dengan cc di bawah kompetitor. Kemudian, IKEA melakukan pilihan yang smart karena secara kualitas mereka meng-global tapi harga bisa bersaing dengan pesaingnya seperti Informa. Mereka kompetitif karena produk dibuat terkonsentrasi secara global. Di Alam Sutera, IKEA meletakkan gudang di bawah agar konsumen lebih leluasa untuk berbelanja.

“Ketiga, ada Amaris. Menginap di hotel sudah menjadi kebutuhan bukan pencitraan. Jadi, sebenarnya tidak perlu bayar mahal untuk fasilitas kolam renang atau gym yang tidak dipakai. Amaris hadir dengan konsep yang mengakomodir kondisi tersebut. Prodia menawarkan program yang visionary, dimana mereka fokus pada preventif bukan kuratif,” katanya. (Reportase: Tiffany Diahnisa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)