Pergulatan Bisnis Hijau KaDO, Akankah Menang?

Masih ingat banjir yang menggenangi Jakarta pertengahan Januari lalu? Kala itu, kalangan pelaku dan pengamat bisnis di Indonesia sempat menyinggung praktik bisnis hijau (green business). Keprihatinan soal praktik bisnis peduli lingkungan ini bisa jadi alasan kuat buat mendirikan unit usaha baru, salah satunya Kampoeng Djamoe Organik (KaDO).

“KaDo merupakan usaha penanaman tanaman obat, kosmetik, dan aromatik Martha Tilaar Group untuk kepedulian lingkungan,” kata Community Development PT Martina Berto, Tbk., Heru D. Wardana yang mengepalai KaDO. Diceritakan Heru lebih jauh, berawal dari keprihatinan terhadap terkikisnya biodiversitas Indonesia, perusahaan kosmetik tersebut berani membuka kebun tanaman obat seluas 10 hektar di tengah-tengah kawasan industri yang kian ramai.

Proses pembukaan KaDO sulit dan lama. Tanah di kawasan industri Jababeka berketinggian 7-9 meter itu diolah sejak 1994 hingga belasan tahun karena memiliki kandungan cadas. “KaDO baru dibuka untuk umum tahun 2010. Ketika didahului soft launcing pada 2008, sebenarnya jumlah pengunjung lumayan,” kata Heru. Kesulitan lain, tumbuhan KaDO lambat membesar.

Ada 140 jenis tumbuhan yang dibiakkan KaDO secara organik, di antaranya pegagan, remujung, rosela, keji beling, bidara laut. Yang paling diminati pembeli adalah jati belanda yang sudah ditanam sampai 1000 pohon karena berkhasiat mengatasi kegemukan. Rangkaian proses tanam, pengolahan, sampai penjualan jamu siap minum berlangsung di KaDO. Kebun jamu pun dijadikan tujuan wisata keluarga dan siswa sekolah.

Menurut Heru, KaDO menyasar konsumen yang melek gaya hidup sehat, terutama perempuan dan kaum ibu. Tak mudah memasarkan jamu pada mereka di kota metropolitan ini sebab citra jamu yang pahit dan berwarna gelap tak digemari. Menghadapi karakter konsumen semacam ini, KaDo pun berstrategi. “Digabunglah unsur green science dengan produk supaya konsumen teredukasi. Setelah itu, selera konsumen mesti dipertemukan dengan manfaat jamu. Karena itu, KaDO mengandalkan produk jus herbal,” terangnya panjang lebar. Walhasil, KaDO mulai mendapat tempat di hati kelas menengah ke atas.

KaDO mulai gencar memasarkan wisata kebun jamu di antara siswa sekolah dengan kemasan pembelajaran luar ruang (outdoor learning). Meski ada margin untuk pemasukan dari wisata siswa sekolah, Heru mengakui bahwa prinsip subsidi silang berlaku. “Untuk siswa sekolah internasional, tarif masuk Rp100.000 per kepala masih murah. Tapi untuk sekolah negeri, Rp25.000 baru berterima,” jelas magister ilmu hortikultura dari Selandia Baru ini.

Kendatipun masih merugi, KaDO tetap berniat memenangkan pergulatan. Sebagaimana pernah diungkapkan CEO PT Martina Berto, Tbk., Handiwidajaja, kepada SWA akhir 2012 silam, perusahaannya akan memperbesar produksi jamu. Sebuah pabrik seluas 3000 meter persegi sedang dipersiapkan di kawasan KaDO. “Selain pabrik, KaDO akan bangun klinik herbal yang dijalankan oleh para dokter lulusan S-2 Herbal Medicine, Universitas Indonesia,” ungkap Heru.

Sejauh pergulatan berlangsung, usaha jamu organik ini masih bertengger di taraf tanggung jawab sosial (CSR). “Bagaimanapun juga, saya dan kawan-kawan pengelola KaDO kan, pekerja PT Martina Berto, Tbk. Sekalipun belum untung, KaDO bisa tetap jalan,” kata Heru menyimpulkan. Akankah KaDO naik tingkat menjadi unit usaha yang strategis buat arus kas Martha Tilaar Group? Kita lihat saja ke mana arah tren gaya hidup 2013 berhembus. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)