Perjalanan HM Sampoerna Merajai SWA 100 Tahun 2013

Akhir Juni 2013, PT HM Sampoerna Tbk keluar sebagai jawara SWA 100 yang didasarkan pada pencapaian Wealth Added Index  (WAI) yang digelar majalah SWA bersama Stern Stewart & Co. Tidak mengejutkan, mengingat Indonesia sudah sejak lama tahu perusahaan ini sebagai salah satu pilar produsen rokok terbesar.

Perjalanan Sampoerna yang sudah pernah dikomandani 4 generasi ini tak pendek. Menarik mengetahui lika-likunya dari tahun 1913 sampai 2013 kini. Terutama, apa yang terjadi ketika Philip Morris membeli mayoritas saham perusahaan dari keluarga Sampoerna dan masyarakat. Adiguna Ginting, Direktur External Affairs Sampoerna, menyampaikan pada presentasi malam penghargaan SWA100: Indonesia’s Best Wealth Creators 2013,  serta wawancara dengan Rosa Sekar Mangalandum.

Yos Adiguna Ginting, Direktur  External Affairs PT HM Sampoerna Tbk.

Sejarahnya bermula dari seorang anak yatim piatu,yang dengan semangat dan kegigihannya, bukan hanya kemudian mampu menghidupi diri dan keluarganya saja, tetapi bahkan sekarang mampu menghidupi lebih dari 100.000 warga negara Indonesia.Dia adalah Liem Seeng Tee.

Liem Seeng Tee, generasi pertama, mendirikan usahanya  tahun 1913. Bukan tanpa jatuh bangun. Dari upaya awal dengan berjualan arang berkeliling dengan menggunakan sepeda, lalu berdagang asongan di atas kereta api, lalu bekerja di pabrik rokok (sambil belajar meracik tembakau), lalu membuka warung bermacam-macam kebutuhan, sampai kemudian mendapatkan sukses besar sebagai pengusaha tembakau dan rokok dengan memanfaatkan kesempatan yang tepat saat ada seorang pedagang tembakau yang terpaksa menjual tembakunya dalam jumlah besar karena kesulitan keuangan.

Dengan impian pada suatu saat nantinya bisa membuat perusahaannya menjadi “Raja Tembakau”, Liem Seeng Tee menggunakan ilmu yang dia pelajari saat bekerja di pabrik rokok untuk meracik tembakau guna menghasilkan Dji Sam Soe  yang kemudian terbukti benar-benar menjadi “Rajanya Rokok Kretek” karena kualitasnya yang unggul. Inilah produk generasi pertama Sampoerna yang sukses besar sejak dari awal hingga di usianya yang ke 100 tahun ini.

Generasi kedua, Aga Sampoerna, mengeluarkan produk Sampoerna Kretek. Generasi ketiga, Putera Sampoerna, kami sebut sebagai akselerator. Sebab beliau tidak hanya membawa perusahaan go public  di tahun 1990, tapi juga berani meluncurkan A Mild sebagai terobosan karena merupakan produkyang dianggap belum waktunya pada zaman itu. Terbukti, segmen rokok rendah tar dan rendah nikotin yang dimotori oleh A Mild itu kini berkontribusi paling besar di antara seluruh segmen produk rokok di Indonesia.

Sejarah bergulir terus.Pada 2001, persisnya pada masa generasi keempat, Michael Sampoerna melanjutkan kepemimpinan perusahaan dari ayahnya. Saat itu dia berusia 23 tahun, sangat enerjik dan berketetapan untuk banyak melakukan terobosan baru .

Saya bergabung dengan Sampoerna tahun 2002. Saya sebelumnya bekerja di Sinar Mas Pulp and Paper dan saat saya diterima di Sampoerna, Michael Sampoerna menunjuk saya untuk memimpin divisi SDM. Yang menarik adalah bahwa pada waktu itu, saya pahami beliau mencari Head of HR yang tidak berlatar belakang HR. Saya belum pernah mengetahui ada perusahaan yang begitu berani melakukan terobosan seperti itu, mengingat karyawan Sampoerna saat itu sudah 65.000 lebih dengan total pendapatan sekitar Rp 15 triliun. Belakangan saya memahami bahwa keputusan itu meupakan bagian dari upaya Michael untuk bisa melakukan terobosan yang tidak terbebani dengan faktor historis yang disebabkan oleh si pengambil keputusan mungkin sudah terlalu lama diposisinya.

Satu peristiwa besar terjadi tahun 2005.  Saya masih ingat, hari Senin, 14 Maret 2005. Hari masih gelap waktu itu saat saya ditelepon agar datang ke kantor segera. “Pak Putera Sampoerna sudah menandatangani sales and purchase agreement dengan Philip Morris International untuk seluruh saham keluarga,” demikian saya diberitahu.

Saat saya sampai di kantor, saya melihat seluruh direksi sudah ada di kantor. Di saat itulah baru diformulasikan isi dari komunikasiyang harus dipropagasikan pada karyawan, media, dan bursa terkait pembelian saham oleh Philp Morris tersebut. Mereka harus mendapat penjelasan bahwa salah satu perusahaan terbesar di Indonesia telah berpindah tangan dengan nilai transaksi total US$ 5,2 miliar. Sampai hari ini, bilangan tersebut merupakan transaksi korporasi terbesar dalam sejarah perusahaan di Tanah Air.

Saya sangat beruntung bisa ikut menjadi bagian dari proses alih generasi dari generasi ketiga (Putera Sampoerna) ke generasi keempat (Michael Sampoerna). Ini tak akan tergantikan oleh pengalaman apa pun. Apalagi ditambah adanya proses transformasi setelah perusahaan diakuisisi oleh Philip Morris di tahun 2005, yang justru terjadi saat Michael Sampoerna berhasil mencapai volume penjualan tertinggi dalam sejarah perusahaan.

Salah satu hal yang membuka mata dan perspektif saya adalah, ternyata tidak ada resep tunggal yang universal untuk rute menuju kesuksesan. Bahwa semua keputusan harus disesuaikan dengan segala faktor dan situasi yang ada.

Pada waktu ada pengumuman mengenai telah diakuisisi-nya perusahaan oleh Philip Morris, terjadi kekhawatiran dari para pekerja Sampoerna waktu itu. Sebab yang ada dalam bayangan para pekerja adalah, kalau orang asingmengakuisisi perusahaan Indonesia yang prosesnya mempekerjakan banyak tenaga kerja karena dilakukan secara manual, pasti yang akan dilakukan oleh perusahaan asing yang lebih modern tersebut adalah  merubah proses ke arah mekanisasi dan otomasi. Kekhawatiran itu sangat masuk akal, karena satu mesin rokok yang paling mutakhir saat ini bisa menggantikan sekitar 4.500 pekerja. Dan, oleh karenanya, sangat terbayang akan terjadinya PHK besar-besaran pada waktu itu. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Bukannya jumlah pekerja-nya berkurang, justru sejak akuisisi sampai hari ini, perusahaan telah dapat menyerap tidak kurang dari 20.000 tenaga kerja baru..

Meskipun diakuisisi oleh perusahaan asing dengan budaya yang tentunya berbeda, budaya di Sampoerna tidak berubah drastis. Orang “bule”nya justru mau mengikuti untuk mengenakan batik seragam Sampoerna. Lalu, karena di Sampoerna angka 9 dipercaya sebagai angka keberuntungan, mereka ikut percaya pula. Pada jamannya dulu, hampir semua hal pasti berbau angka 9 di Sampoerna. Ini tidak mengherankan karena Dji Sam Soe berarti  yang merupakan “Rajanya Rokok Kretek” andalan Sampoerna, bertuliskan angka 234, yang kalau dijumlahkan akan ketemu 9. Sebagai contoh, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Sampoerna selalu diadakan di tanggal yang jumlahnya 9. Kalau bukan tanggal 9, maka akan pada tanggal 18, atau 27. Delapan tahun setelah akuisisi di tahun 2005, Philip Morris terus melanjutkanbanyak budaya dan tata kerja yang sudah ada di Sampoerna.

Kami baru saja membuka pabrik sigaret kretek tangan di Jember, Jawa Timur pada Juni lalu. Pabrik ini mempekerjakan 4.500 orang untuk memproduksi Dji Sam Soe yang sepenuhnya dilinting tangan. Pasalnya, ada permintaan pasar sigaret kretek tangan (SKT) yang tidak bisa lagi dicukupi dari pusat-pusat produksi SKT yang ada. Terkait produksi yang ditargetkan, kami tentunya ingin lebih dari tahun yang lalu. Dengan tenaga kerja 4.500 orang, kira-kira pabrik tersebut akan dapat memproduksi setidaknya 2 miliar batang setahun. Karena kecepatan pekerja rokok linting sekitar 300-an batang per jam.

Kini, ada lebih dari 100.000 orang yang bekerja untuk Sampoerna dan mitra-mitra-nya di 47 fasilitas produksi. Lokasi produksi ini ada di 30 kabupaten dan kotamadya di seluruh Jawa. Yang dimiliki sendiri, ada 2 pabrik untuk sigaret kretek mesin dan 7 pabrik sigaret  kretek tangan, sedangkan 38-nya dimiliki oleh mitra yang berbentuk koperasi dan UKM yang digandeng erat sejak jaman Putera Sampoerna. Sampoerna adalahpembeli tembakau dan cengkeh lokal terbesar yang merupakan refleksi dari fakta bahwaSampoerna memegang 35% pangsa pasar Indonesia sekarang.

Secara konsisten, Sampoerna bisa menumbuhkan pendapatan dengan compound annual growth rate senilai 22,4% dalam periode 2007-2012. Ini menunjukkan kinerja yang sangat bagus.

Sebagai direksi yang mengelola perusahaan, kami berupaya untuk berkontribusi dalampeningkatan nilai positif WAI (Wealth Added Index) lewat kiat-kiat operasional. Sesuai karakter sektor ini, inovasi produk menjadi salah satu faktor yang penting. Faktor lainnya adalah dengan selalu memantau segmen mana saja masih memiliki potensi yang dapat meningkatkan volume dan profit.

Sampoerna senantiasa mencari kesempatan dengan memantau tren preferensi konsumen, dengan tetap mempertahankan agar produk-produknya selalu yang terbaik dari segi kualitas dengan harga yang wajar.

Terkait denga filosofi yang menopang kesuksesan, Sampoerna memiliki “Falsafah Tiga Tangan”. Dalam falsafah ini, tiga pemangku kepentingan utama (Konsumen; Karyawan dan Mitra Usaha; Masyarakat Luas) merupakan pihak-pihak yang harus senantiasa dijaga dan dipenuhi kebutuhannya.

”Tangan Pertama” adalah Konsumen: ini sudah jelas karena para konsumen-lah yang menjadi penyerap dari produk Sampoerna. “Tangan Kedua” adalah Karyawan. Secara tegas karyawan dimasukkan sebagai salah satu pemangku kepentingan yang utama yang merupakan pemaknaan bahwa tanpa karyawan yang berdedikasi dan berkualitas, perusahaan tidak akan berkembang. Sama halnya dengan karyawan, mitra usaha masuk sebagai “Tangan Kedua”. Mitra usaha dan Sampoerna harus menikmati keuntungan yang layak supaya dapat tumbuh bersama secara berkesinambungan dalam jangka panjang. “Tangan ketiga” adalah masyarakat luas. Ini dimaknai bahwa kesuksesan Sampoerna tidaklah lepas dari dukungan masyarakat. Oleh karena itu, Sampoerna berusaha maksimal untuk ikut menumbuhkembangkan masyarakat, terutama mereka yang berlokasi berdekatan dengan kegiatan operasional Sampoerna.

Sejak tahun 2005 hingga hari ini, Sampoerna sudah menginvestasikan lebih dari Rp 5,8 triliun untuk pengembangan usahanya. Proporsi terbesar digunakan untuk mendirikan pabrik sigaret kretek mesin di Karawang, Jawa Barat. Pendirian pabrik di Kerawang ini juga merupakan bagian dari strategi untuk kontinuitas bisnis setelah akuisisi Philip Morris. Sebelumnya, pembuatan sigaret kretek mesin terpusat di lokas produksi di Jawa Timur yang berada di lereng Gunung Arjuna. Dengan risiko bencana alam Indonesia yang relatif tinggi, risiko ini tentunya perlu untuk diminimalkan.

Pada 2012, Sampoerna dan Philip Morris menyumbangkan cukai dan pajak sejumlah Rp 36,9 triliun. Ini kontribusi yang sangat besar di tengah tantangan di sektor industri kami yang sangat berat dengan kemunculan regulasi-regulasi yang makin restriktif.

Selain kontribusi terhadap penerimaan negara melalui cukai dan pajak, Sampoerna juga telahmemberikan lebih dari 1.300 beasiswa sejak tahun 2012.Dan sejak 2008, sudah diadakan pengembangan profesional pada lebih dari 11.000 guru. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)