Pertaruhan Eddi Danusaputro Membesarkan Mandiri Capital

Eddi Danusaputro, CEO PT Mandiri Capital Indonesia (MCI)

Eddi Danusaputro adalah sosok yang punya pengalaman berkarier di lembaga pengelola dana dan konsultan keuangan papan atas. Sebut saja, Morgan Stanley, AXA, Makara Capital, Booz Allen Hamilton, dan AT Kearney. Masa untuk kariernya itu lebih banyak dihabiskan di Singapura. “Saya 12 tahun bekerja di Singapura di berbagai institusi, namun mayoritas di fund management yang mengelola dana nasabah dalam bentuk micro fund, hedge fund, private equity fund. Saat ini saya bertugas mengelola dana Bank Mandiri dalam bentuk venture capital,” kata Eddi yang juga pernah mencicipi pengalaman sebagai angel investor dan wirausaha sosial (sociopreneur).

Setelah berkelana di luar negeri, Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada ini menjalani petualangan baru di Indonesia. Sejak 2016 Eddi dipercaya sebagai CEO PT Mandiri Capital Indonesia (MCI), anak usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. atau Grup Mandiri. MCI yang beroperasi sejak Januari 2016 merupakan perusahaan modal ventura yang menjembatani antara investor dan wirausaha di industri teknologi finansial (financial technology/fintech). MCI telah mengantongi izin yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan pada akhir 2015.

Eddi berpendapat, industri perbankan serta layanan keuangan di Indonesia dan global terkena disrupsi digital dari industri fintech yang menyedot minat konsumen lantaran menawarkan kemudahan dan pelayanan yang lebih cepat daripada perbankan. Karena itu, MCI didirikan untuk menyokong bisnis Grup Mandiri agar bisa bersaing dengan perusahaan fintech yang cukup agresif dan menyedot minat masyarakat untuk mendapatkan layanan keuangan di platform digital.

Untuk itu, Eddi hanya memprioritaskan investasi MCI di perusahaan fintech. “Kami memulai kerjasama, berkolaborasi, dan berinvestasi ke perusahaan startup fintech yang menghasilkan inovasi baru,” tuturnya. Per September 2018 MCI menyalurkan pembiayaan ke sepuluh perusahaan startup fintech senilai Rp 400 miliar. Perusahaan rintisan yang menerima aliran investasi dari MCI itu dijuluki sebagai investee. “Portofolio investee kami antara lain PrivyID, Cashlez, Amartha, Investree, Moka, dan Yokke,” ungkapnya.

Porsi kepemilikan saham MCI di tiap perusahaan fintech ini berkisar 5-51%. “Rata-rata kami masuk sekitar 10% sebagai pemilik saham saat pertama kali berinvestasi di satu perusahaan fintech,” kata Eddi. Agar investasi MCI tepat sasaran, dia bersama tim mencermati berbagai indikator. Untuk perusahaan fintech yang beroperasi di tahap awal, MCI menyoroti fungsi produknya bagi masyarakat, kualitas pegawai, serta rekam jejak pendiri bersama tim kerjanya. Untuk perusahaan fintech yang mendapat pendanaan Seri A atau Seri B, Eddi menilainya dari berbagai aspek, antara lain validasi produk dan model bisnis, jumlah pelanggan yang menggunakan produk, serta omset. Mayoritas investasi MCI adalah pendanaan Seri A.

Setelah mengalirkan dana investasi itu, Eddi bersama seorang direktur, dua komisaris, beserta sembilan pegawai MCI berkolaborasi untuk memberikan bimbingan teknis kepada perusahaan fintech tersebut agar meningkatkan valuasi dan bisnis dalam jangka menengah-panjang. “Salah satu caranya adalah membawa mereka masuk ke dalam bisnis Bank Mandiri. Misalnya, kami bawa startup ke business unit Bank Mandiri untuk bekerjasama, proof of concept, hingga pilot project. Dalam hal ini, Grup Mandiri diuntungkan karena ada inovasi baru dan perusahaan startup diuntungkan karena dapat meningkatkan traction,” tutur penyandang gelar Doktor Ilmu Manajemen dari Universitas Indonesia ini.

Boleh dikatakan, MCI ingin menciptakan ekosistem fintech yang menunjang bisnis Grup Mandiri dan anak usahanya. Hal ini diamini Eddi. “Tujuan didirikan MCI adalah sebagai investment vehicle Bank Mandiri. Artinya, apabila ada satu perusahaan atau platform yang dirasakan penting dimiliki Bank Mandiri, MCI bertugas mengeksekusinya. Kami mencari inovasi platform, produk, layanan yang bisa membantu kinerja yang bisa dalam bentuk efisiensi dan kenaikan revenue Grup Mandiri, tidak terbatas untuk bank saja tetapi juga anak perusahaan lainnya,” tutur Eddi yang meraih gelar MBA dari Duke University, Amerika Serikat.

Sejauh ini, performa investasi MCI diklaim Eddy berada di jalur yang terpat. “Kami terus melakukan tracking dari unrealized gain karena kami belum melakukan penjualan. Namun, unrealized gain kami cukup sehat,” katanya tandas.

Ke depan, Eddy berancang-ancang mengembangkan sayap bisnis MCI dengan meluncurkan dana ventura di semester I/2019. “Kami baru saja mendapatkan izin dari OJK untuk meluncurkan venture fund (dana ventura). Jadi, selain mengelola dana Bank Mandiri di kantong kanan, sekarang kami sudah boleh mengelola dana investor lain yang menjadi kantong kiri seperti reksa dana. Sementara reksa dana untuk ritel, ini untuk high network individual atau perusahaan besar yang ingin berinvestasi ke startup. Bisa melalui dana kelolaan kolektif,” Eddy menjelaskan. (*)

Jeihan Kahfi Barlian & Vicky Rachman

Riset: Elsi Anismar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)