P&G Prioritaskan Kualitas SDM daripada Jender

P&G, Bambang Suharyanto

Tidak banyak perusahaan yang memberikan kesempatan besar buat wanita untuk berkarier. Dan P&G Indonesia adalah salah satu perusahaan yang menjadi incaran kaum hawa untuk mengembangkan karier. “P&G merupakan perusahaan yang sangat memperhatikan komposisi eksekutif, khususnya yang wanita. Saat ini bahkan Group President P&G untuk wilayah Asia adalah seorang wanita,” ujar Bambang Sumaryanto, Direktur Hubungan Ekternal P&G Indonesia.

 

Menurut Bambang, untuk level BoD (Board of Director), komposisinya 50:50 antara pria dan wanita. Sedangkan secara keseluruhan tahun lalu pekerja wanita P&G Indonesia berjumlah 52%. Tapi saya lupa berapa total pekerja P&G Indonesia. Sejak dulu komposisi tersebut tidak terlalu berubah signifikan.

 

Meskipun begitu, bagi P&G, komposisi tidak terlalu penting. Justru, perusahaan consumer goods itu tidak ingin mengorbankan kualitas hanya lantaran ingin memenuhi kuota khusus. “Kami sangat menjunjung tinggi diversifikasi dalam berkarier. Hal itu untuk menunjang performa bisnis kami. Apalagi bisnis kami adalah menjual produk kecantikan, dan rumah tangga lainnya. Jadi, dibutuhkan banyak ide segar dari banyak orang, tanpa memandang kaum. Namun ada tiga hal menjadi kriteria diperusahaan yakni jender, keberagaman kebangsaan, dan faktor lain seperti keberagaman warna kulit. Strategi itu ditempuh agar ide-ide kreatif terus bermunculan yang nantinya diharapkan mampu menunjang aktifitas merek-merek P&G dalam hal promosi, branding dan penjualan,” jelas Bambang.

 

Untuk meningkatkan women talent, menurut Bambang, pihaknya memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada siapapun, baik wanita ataupun pria. Mulai dari rekruetmen (penyaringan), uji kemampuan, hingga proses akhir (penerimaan). Yang P&G cari adalah bukan jender, tapi kapabilitas serta kualitas. Kebetulan, wanita cukup banyak menduduki posisi di P&G.

 

Guna mendorong lahirnya women leader baru, pertama, P&G sering melakukan sharing antar sesama wanita. Acaranya semacam diskusi santai, seminar ataupun workshop dengan menghadirkan senior-senior brand manager yang sukses, baik skala nasional, maupun internasional. Mereka diharapkan dapat memberikan pencerahan ke pekerja wanita yang sedang dirundung kesuraman dalam berkarier. Bukan hanya itu, sejumlah aktifis wanita internasional juga kerap dihadirkan. Kedua, memberi kesempatan pekerja wanita untuk mengikuti pelatihan yang berguna untuk diri mereka dan untuk kepentingan bisnis, di luar latihan fisik. Dengan begitu, kemampuan talent akan keluar dan berdampak pada membaiknya prestasi kerja.

 

Kompetensi yang dibutuhkan pemimpin wanita pun sama dengan pria. “Tidak boleh dibedakan. Yang dibutuhkan seperti integritas dan kualitas dalam memimpin bisnis,” imbuhnya. Toh, dia mengakui bahwa wanita lebih peka terhadap sesuatu, sedang pria lebih rasional. Namun, itu adalah sebuah pernyataan yang belum tentu benar karena semua balik lagi ke individu masing-masing.

 

Menurut Bambang, tidak perlu ada keberpihakan atau regulasi khusus untuk wanita dalam berkarir.“Jangan mengorbankan kualitas hanya untuk memenuhi kuota. Lagi pula tidak perlu ada dikotomi antara wanita dan pria. Itu sama saja mendiskriminasikan sebagian orang yang seharusnya pantas menduduki sebuah posisi, tapi mesti ditendang lantaran alasan kuota,” tegasnya.

 

Kendala pemimpin wanita, lanjut Bambang, terletak pada diri mereka sendiri. Yang jelas, P&G tidak pernah mengkerdilkan kemampuan seseorang. Kendalanya seperti peran ganda yang mesti dijalankan. Di P&G ada beberapa manager wanita yang enggan bekerja/ditugaskan di luar negeri. Otomatis, kesempatan yang sudah diberikan oleh perusahaan terbuang sia-sia. Sehingga misalnya posisi untuk menjadi country manager sulit tercapai.

 

Cara pemecahannya, bagaimana? “Kami tempatkan mereka di lokasi yang memungkinkan wanita menjalankan dua peran sekaligus. Misalnya jika mereka sudah berkeluarga dan tinggal di Jakarta, ya kita tempatkan di Jakarta. Kami juga pindahkan posisi mereka ke posisi yang lain, yang memungkinkan mereka untuk tetap berkembang dan memiliki keahlian yang baru,” ungkap Bambang.

 

Untuk itu, P&G harus transparan dalam proses perekrutan. Dari keterbukaan proses tersebut, bisa diketahui dan dinilai mana yang layak atau tidak. P&Gi memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siapapun, baik wanita ataupun pria. Mulai dari rekruetmen (penyaringan), uji kemampuan, hingga proses akhir (penerimaan). Juga, menumbuhkan kepercayaan diri kepada wanita bahwa perusahaan tersebut tidak membeda-bedakan jender. Caranya dengan membuat seminar khusus wanita, diskusi antara wanita karir, dan sebagainya. (Ario Fajar/EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)