Platform Ekonomi Jokowi - JK, Tekankan pada Produktivitas

Angin segar dihembuskan pasangan Jokowi - JK terhadap sektor ekonomi Indonesia, baik ekonomi dalam negeri maupun internasional. Hal tersebut digadang akan menjawab segala tantangan dilematis berbagai masalah ekonomi Indonesia, terlebih yang terkatit dengan pangan, migas, trading, infrastruktur, serta investasi.

Salah satu breakthrough yang akan dititikberatkan adalah meningkatan sisi produktivitasnya guna menghadapi ketatnya atmosfir masyarakat ekonomi ASEAN 2015 nanti.

Jokowi-JK

"Oleh karenanya perlu adanya revolusi mental, di mana masyarakat Indonesia harus diganti mindsetnya dari masyarakat yang konsumtif menjadi masyarakat produktif. Galakkan aktivitas ekspor agar devisa negara meningkat," papar Calon Presiden RI, Joko Widodo kala menyampaikan visi dan misi platform ekonomi Indonesia di Ritz Carlton Pacific Place (4/6).

Optimisme tersebut tertuang lantaran bekal track record Jokowi kala berprofesi sebagai pengusaha mebel yang juga ikut andil dalam aktivitas ekspor.

Terobosan tersebut berlaku juga untuk sektor migas, di mana Profesor Ari Sumarno selaku pakar industri migas yang juga pernah menjabat sebagai Dirut Pertamina memetakan bahwa ada penurunan produktivitas di sektor tersebut, salah satunya ditandai dengan melemahnya kapasitas jual minyak bumi yang seharusnya 1 juta ton hanya mencapai 800 ribu ton. Hal tersebut juga diperparah oleh krisis pasokan listrik, untuk menyuplai pasokan sebesar 10 giga watt, 8 pembangkit listrik yang seharusnya rampung pada tahun 2006, sampai sekarang hanya mencatatkan progress sebesar 90%.

Sementara itu dari sisi pangan, perekonomian Indonesia sempat mencatatkan hasil yang di luar target, terutama untuk beras dan kelapa sawit. "Beras kita masih masih impor, sementara kelapa sawit masih belum jelas pembagiannya mana yang untuk bahan bakar dan mana yang untuk pangan," ujar FG Winarno, pakar pangan sekaligus akademisi IPB.

Lebih lanjut lagi Winarno menyoroti rendahnya produktivitas hasil perkebunan terutama kopi dan kokoa yang masing - masing sempat merosot hingga 10% lebih dikarenakan kurangnya perhatian dari pemerintah pusat akan kesejahteraan para petanianya. "90% dari total petani kita masih memprihatinkan kualitas hidupnya," tegasnya.

Kemudian soal infrastruktur, Jokowi juga memberikan garis merah sektor ini merupakan sektor krusial yang sangat memengaruhi berbagai aktivitas perekonomian Indonesia. Misalnya saja jalur logistik, menurut Ferdinand Nainggolan, mantan Deputi Meneg BUMN, peringkat Indonesia untuk jalur logistik cukup anjlok, dimana dari 159 negara Indonesia menempati peringkat ke 55. Oleh karena itu, menyinggung soal semangat produktivitas yang diumbar Jokowi, perlu adanya pembaruan yang kontinyu. (EVA)

Lebih lanjut soal produktivitas, Jokowi saat terpiliha menjadi presiden RI nanti akan secara tegas mematok target yang realistis. "Komitmen itu perlu dijaga. Kalau ada menteri yang melenceng dari target, maka copot. Masih banyak ribuan masyarakat yang berminat menjadi menteri," tegasnya seraya berkelakar.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)