Polymindo Permata Andalkan Pameran

Viro adalah atap alang-alang, bambu, dan payung wisata dari bahan-bahan sintetis buatan PT Polymindo Permata. Inovasi ini tak hanya mengenalkan budaya asli Indonesia kepada dunia luar karena produk yang kebanyakan dianyam dengan tangan, tetapi juga melestarikan sumber daya alam.

“Budaya menganyam atap memang unik. Keterampilan ini hanya ada di beberapa negara seperti China, Vietnam, dan Indonesia,” ujar Manager Polymindo Permata, Adhi Susanto.

Viro memang berasal dari kata environment karena konsep dasarnya adalah kepedulian terhadap lingkungan. Dengan atap berbahan sintetis, masyarakat tak perlu lagi menebang pohon. “Produk utama kami adalah atap alang-alang. Sudah banyak yang menggunakan, terbesar di Beach Walk Kuta seluas 10 ribu m2, memakai atap dari Viro,” katanya.

Dari segi warna, produk mereka sangat mirip dengan aslinya. Yang membedakan adalah kekuatan warna yang tidak pudar hingga 25 tahun lamanya. Selain itu, produk mereka juga anti sinar UV dan tak mengandung racun. Rayap pun tidak akan mungkin bersarang karena atap dari bahan sintetis.

viro

“Tahun 2013 pertumbuhan sangat pesat. Viro ini based on project sehingga sangat tergantung pada kondisi perekonomian. Tahun 2014, kami turun 20-30%. Tahun ini, saya lihat naik kembali hampir sama seperti 2013, padahal belum akhir tahun,” katanya.

Adhi menjelaskan, perseroan mengandalkan pameran untuk mengenalkan brand Viro keluar negeri. Mereka juga rutin memasang iklan di majalah baik dalam maupun luar negeri. Setiap tahun, tak kurang dari 20 pameran mereka ikuti, terutama pameran furniture untuk menangkap dan membuka pasar baru.

“Kami sudah melakukan ekspor ke beberapa negara seperti Amerika, Qatar, Australia, China, Thailand, Malaysia, dan masih banyak lainnya,” kata dia.

Demi menciptakan material baru serta model dan desain baru nan unik, mereka juga selalu melakukan inovasi. Sejauh ini, permintaan dari luar negeri jauh lebih besar. Perseroan kini tengah fokus menggelar gathering agar lebih efektif langsung ke end user, yakni para arsitek.

“Kami berharap pemerintah memberi kemudahan melakukan ekspor. Yang juga penting adalah ketersediaan bahan baku. Jika tidak mencukupi, otomatis kami harus impor,” kata Adhi. (Reportase: Sri Niken Handayani)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)