Produk Hasil Startup Harus Repeatable dan Expandable

Untuk dapat menjadi pemilik perusahaan startup, menurut Antovany Reza Pahlevi, technopreneur bisnis yang membidani lahirnya sejumlah startup dan transformasi digital, ada dua syarat yang harus terpenuhi. Pertama, barang atau jasa yang dihasilkannya harus repeatable, dapat digunakan  berulang oleh para pengguna. Kedua, produk atau jasa tersebut expandable, artinya bisa diekspansi ke manapun. Hal tersebut mengemuka dalam dialog interaktif online, sociopreneur discussion series yang dipandu Nadia Hasna Humaira, penggagas sociopreneur.

“Saat ini saya sedang meng-handle enam perusahaan startup yang sedang berjalan, salah satunya “Pantoera” yang digagas anak-anak muda yang bermukim di wilayah Pantai Utara Jawa – Pantura. Kami membangun Pantoera sebagai wadah bagi anak muda, sehingga mereka juga dapat mempelajari keahlian digital dan sektor-sektor yang termasuk dalam bidang ekonomi kreatif,” papar Reza yang juga menjadi Direktur Investasi Shinta VR.

Lulusan FISIP Hubungan Internasional UGM ini melanjutkan argumentasi, mengapa dia memiliki  passion menggandeng anak-anak muda di sekitar wilayah domisilinya, Kabupaten Batang – Pekalongan, Jawa Tengah, dan mengoptimalisasi talent (bakat) mereka sebagai digital natives (yang lahir sebagai generasi digital).  “Mereka memiliki peluang bergerak lebih cepat, lebih gesit, dan lebih paham banyak hal yang lebih bagus di era sekarang dibanding era sebelumnya,” jelas Reza yang baru akhir 2020 menjadi talent scout sampai lahirnya Pantoera.

Sementara itu Nadia yang mewadahi pemuda Indonesia untuk saling bertukar gagasan dan pandangan serta menyerap ilmu dari sejumlah praktisi berbagai keahlian, menanggapi ide tersebut secara terbuka dan penuh harap, gagasan membangun satu movement seperti Pantoera, juga dapat diduplikasi di wilayahnya berasal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Dengan lapang dada dan tangan terbuka, kami pemuda dan pemudi di Kabupaten Bogor mengharapkan adanya sentuhan dan coaching yang lebih ‘mengena,’ sehingga potensi anak muda di sini, akan lebih terlihat dan juga mampu menghasilkan benefit, baik yang sifatnya komersial maupun non komersial,” papar Nadia yang sempat mengenyam pendidikan di Kualalumpur, Malaysia.

Sejumlah hal menarik yang mengulik keinginan Reza membangun movement, sebelum menuju pada tahapan menjadi perusahaan startup bagi Pantoera, bahwa anak-anak muda di sepanjang pantau utara Jawa itu sebelumnya minder, tidak mudah terbuka (speak up).  Padahal sebenarnya mereka memiliki bakat yang cukup kuat, namun selama ini terpendam begitu saja. Terbukti saat diminta menampilkan eksistensinya melalui medsos TikTok dan berpose di Instagram , keahlian mereka mulai terlihat, tetapi belum mampu diekspresikan kepada audiens yang tepat dan berpotensi. 

Reza yang gemar melahap berbagai buku, termasuk memahami sejumlah metodologi ini menggambarkan, ide untuk menjadikan kisah atau narasi di balik bisnis start-up satu perusahaan, sejatinya selalu dimulai dengan keresahan yang terjadi pada diri sendiri.

“Anak muda itu harus merawat keresahan dirinya sendiri, sehingga dari situ akan ada proses mengalami keresahan berpikir. Dari proses berpikir ini akan muncul berbagai ide, sehingga dari berbagai ide tersebut, pada akhirnya akan muncul yang dinamakan validasi ide. Sampai akhirnya perusahaan startup tersebut akan mampu mengalahkan kekuatan perusahaan (enterprise), bahkan yang besar mampu bertumbuh menjadi perusahaan kelas unicorn,” jelasnya. 

Menurut Reza, salah satu metodologi yang menjadi acuan adalah lean method. Metode ini mengajarkan untuk memulai bisnis awal tidak memerlukan resource yang banyak sebagai modal dasar, melainkan perlu mencari di mana problemnya, lantas perlu mengadakan atau mencari solusi, baik dalam bentuk produk maupun jasa sebagai hasil akhir, atau apapun yang dapat menyelesaikan problemnya. Begitu problem sudah terpecahkan, maka tinggal men-scaleup usaha tersebut, seraya melihat indikator berapa kasus yang dapat dipecahkan dalam satu bulan, misalnya. Jika pada bulan pertama hanya selesai satu kasus, maka bulan berikutnya ditingkatkan menjadi 10 sampai 100 kasus yang dapat diselesaikan.

Bagi Reza, startup harus  selalu berpikir menciptakan jalur income baru. Mereka akan terus mencari dan menguji coba ide bisnisnya, sampai kemudian menjadi produk yang established (mapan). Itu sebabnya kebanyakan startup tidak takut gagal, namun akan terus berupaya supaya bisnisnya survive (bertahan).  Sebaliknya, di sejumlah perusahaan, apabila produk yang dihasilkan pada akhirnya gagal atau tidak laku lagi sesuai perkembangan zaman dan selera pasar, maka produk tersebut harus dihentikan produksinya.         

Harus diakui, tambah Reza, bahwa bisnis yang agile adalah usaha bisnis yang tangkas. Agile merupakan satu jenis kerangka kerja (framework) yang juga digunakan di dalam proyek startup manajemen. “Dengan agile framework, maka pelaku bisnis  startup akan terus mencari, karena mereka merasa belum sempurna, sehingga usahanya akan terus-menerus disempurnakan. Ibaratnya seperti update software di laptop, baik dengan perangkat iOS atau pun menggunakan aplikasi Playstore, adakalanya sistem meminta dilakukannya update data.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)