PT KAI Tak Gentar Dicibir Soal Transformasi

Ada saja komentar ‘miring’ saat PT Kereta Api Indonesia (Persero) memutuskan untuk melakukan transformasi. Contohnya saat anak usaha mereka, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) , menghapus kereta ekonomi, perusahaan pelat merah ini dituding seperti kacang lupa kulitnya, melupakan misi awal pendiriannya sebagai sarana transportasi rakyat.

Sulistyo Wimbo Hardjito (foto by: Lila Intana) Sulistyo Wimbo Hardjito (foto by: Lila Intana)

Menanggapi komentar miring tersebut, Direktur Komersial PT KAI, Sulistyo Wimbo Hardjito, menegaskan, PT KAI saat ini ingin berubah menjadi lebih modern dan lebih adil.

“Image stasiun kereta api dulu kumuh, tidak mungkin seperti Grand Central di New York. Setelah kami bertransformasi, stasiun jadi lebih tertib. Tidak ada lagi itu sindiran stasiun di dalam pasar. Masuk ke stasiun saja harus pakai kartu,” kata Wimbo.

Tentang penghapusan kereta ekonomi non AC, baik itu kereta api maupun KRL, menurut Wimbo justru PT KAI ingin penumpang jadi lebih nyaman. Pemberlakuan tarif sesuai jarak merupakan solusi yang dirasa lebih adil.

“Kalau dulu harga tiket Jakarta-Bogor Rp 9.000 semua penumpang bayarnya sama, sekarang bayar sesuai jarak. Jakarta-Bogor saat ini harga tiketnya menjadi Rp 4.500,” jelasnya.

Sejak pemberlakuan tarif sesuai jarak tersebut, penumpang KRL juga terbukti meningkat tajam. Jika biasanya penumpang KRL tercatat 450 ribu per hari, saat ini naik menjadi 600 ribu per hari. “Ini buktinya, semakin banyak rakyat yang menggunakan kereta.”

Wimbo mengakui, dengan semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan KRL, maka KRL semakin padat. Untuk mengatasi masalah tersebut, PT KAI berjanji ke depannya akan menambah jumlah unit kereta. “Nanti kami beli lebih banyak kereta lagi,” tambah Wimbo. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)