PTPN XII Bidik Ekspor Kopi Bubuk &Teh Celup

Ekspor bahan mentah tak banyak memberi keuntungan untuk perusahaan. Bila diolah lebih dulu menjadi barang jadi, perusahaan akan mendapatkan nilai tambah. Produk pun bisa lebih bersaing di pasar internasional. PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII tengah merintis ekspor kopi bubuk dan teh celup. Saat ini, mereka masih fokus mengekspor bahan mentah seperti karet, kopi, kakao, dan teh.

"Keduanya masih rintisan. Ekspor sudah mulai berjalan ke Amerika dan Pakistan. Kami juga mulai menjajaki pasar lainnya," kata Yus Martin, Head of Marketing Department PTPN XII.

Saat ini, 80% dari total produksi berupa bahan mentah karet, teh, kopi, dan kakao diekspor keluar negeri. Perseroan memiliki 34 kebun yang tersebar di wilayah Jawa Timur, mulai dari Banyumas hingga Ngawi. Untuk kopi jenis robusta diproduksi di dataran rendah sedangkan kopi jenis arabika di dataran tinggi. Untuk kakao, ada dua jenis yakni kakao edel dan kakao bulk. Sementara, teh dikembangkan di dataran tinggi.

"Kami juga punya usaha tanaman semusim seperti hortikultura dan tanaman lainya. Misalnya, tebu yang diolah menjadi gula siap dikonsumsi. Kami juga mulai mengembangkan wisata agro. Contoh, kami membangun hotel dan resort di kebun teh di Wonosari. Kami juga mengembangkan wisata agro kopi di Bondowoso," ujar dia.

bijihkopi

Dia menjelaskan, pasar ekspor PTPN XII terus meluas. Misalnya, pasar ekspor untuk kopi arabika yang awalnya hanya Jerman sebanyak 125 ton pertahun, kini mulai meluas ke beberapa negara seperti Amerika, Malaysia, Belanda, Jepang, dan beberapa negara lainnya. Jumlahnya pun bertambah menjadi 15.000 ton. Ekspor teh juga semakin luas dari awalnya hanya ke Malaysia, kini sudah merambah Timur Tengah.

"Ke depan, kami akan meningkatkan produksi dengan intensifikasi lahan. Saat ini, kami punya 25 area tanam dan pada 2020 ditargetkan bertambah menjadi 33 area. Produksi juga terangat, misalnya di tahun 2015 menghasilkan 12 ribu ton dan pada 2020 akan naik menjadi 25.500 ton. Arabika dari 1.500 ton menjadi 5.000 ton, teh dari 2.000 ton menjadi 3.000 ton. Untuk cokelat dari 2.000 ton menjadi 6.500 ton," ujar dia. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)