Public Relation, Penjaga Garda Terdepan Reputasi Perusahaan

Reputasi perusahaan merupakan salah satu unsur terpenting dalam dunia bisnis. Sebab baik dan buruk reputasi perusahaan merupakan indikator penting dari keberhasilan perusahaan tersebut. Dan menjaga reputasi perusahaan merupakan tanggung jawab bersama tiap departemen yang terdapat dalam perusahaan. Namun, departemen public relation (humas) merupakan garda terdepan untuk menjaga dan meningkatkan reputasi perusahaan di mata publik.

Elizabeth Goenawan Ananto, Founder and Director EGA Briefings, yang merupakan pembicara dalam acara Public Relations Week Indonesia, mengatakan, di Indonesia saat ini masih banyak perusahaan hanya mementingkan citra perusahaan saja dibanding reputasi. “Tugas public relation (PR) bukan hanya sekadar teknisi,” kata Ega, sapaan Elizabeth Goenawan Ananto. Teknisi yang ia maksudkan adalah bukan hanya menjalankan perintah atasan tetapi harus punya strategi untuk meningkatkan reputasi perusahaan di mata publik,” imbuh Ega.

PR Ega

Ia juga mengatakan masih banyak PR yang berkerja secara konvensional. “Pekerjaan PR bukan berkelit atau menyembunyikan fakta. Why-nya harus dijelaskan ke publik. Kenapa hal ini bisa terjadi sehingga orang harus mengerti. Sehingga tercipta balancing antara berita yang beredar di masyarakat dengan klarifikasi dari perusahaan. kata Ega yang juga Presiden International Public Relations Association tahun 2010.

Konidisi tersebut membuat seorang PR berada pada posisi dilematis antara memberikan informasi ke publik atau mengikuti perintah atasan. “Jadi, PR yang baik itu harus memberikan informasi apa adanya. Jelaskan risiko positif dan negatif dari tindakan yang akan diambil oleh perusahaan. Kasih rekomendasi ke atasan. Jika ditolak, terserah perusahaan. PR tidak bisa berjalan sendiri,” kata Ega. Ia juga berharap departemen PR merupakan unsur yang independen dalam suatu perusahaan.

Untuk menjadi seorang PR yang baik, Ega mengatakan seorang PR harus bisa memberikan solusi yang baik ketika perusahaan membutuhkan. Ia menambahkan PR jangan malas untuk melakukan riset studi kasus dan riset terhadap suatu permasalahan yang sedang dihadapi perusahaan. “Cari tahu apa penyebabnya. Kadang-kadang permasalahan bisa disebabkan seorang pemilik bukan hanya pegawai biasa. Jangan sedikit-sedikit jumpa pers,” tambah Ega yang merupakan penggagas EGA Briefing.

Perkembangan media internet seperti media sosial mengharuskan seorang PR harus mengikuti perkembangan zaman. Sayangnya, Ega mengatakan perkembangan pesatnya media tidak diikuti perkembangan dunia PR itu sendiri. Menurutnya, PR bisa memanfaatkan media seperti media online sebagai untuk berhubungan dengan masyarakat luar. “Sosial media bisa dimanfaatkan sebagai issue management yang merupakan strategi PR. Maksudnya, misalkan ada suatu keputusan yang akan dibuat suatu perusahaan. Nah, hal itu seharusnya ditanyakan ke publik melalui media sosial. Apakah banyak pendapat publik yang setuju atau tidak. Jadi, tercipta dialog.” jelas Ega.

 Ega mengatakan dunia PR ke depannya akan terus mengalami perkembangan mengingat kebutuhan global saat ini. Ia berharap PR di Indonesia dapat mengikuti perkembangan zaman dan bersaing dengan negara lain. (Yanuar Rizky)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)