Rahasia Busana Remaja Tembus 39 Negara

Semua orang membutuhkan pakaian dalam. Bagaimanapun bentuk tubuhnya, pakaian dalam adalah kebutuhan pokok sehari-hari. Inilah tambang emas PT Busana Remaja Agracipta (Busana Remaja), produsen dan eksportir pakaian dalam ke banyak negara di dunia.

Sempat turun saat Amerika Serikat terkena krisis pada 2011, nilai ekspor Busana Remaja naik 25% selama tiga tahun terakhir, dari sekitar Rp 760 miliar menjadi Rp 1 triliun. Mereka menargetkan nilai ekspor mencapai Rp 1,5 triliun pada 2018 mendatang.

“Order dari Amerika sempat turun. Ada satu pembeli, Hanes Brands yang share-nya 75% dari Amerika. Sejak itu, kami bertekad untuk diversifikasi, seperti sports bra dan lainnya agar pembeli dan market beragam,” kata President Director and Founder Busana Remaja, Shyam L. Uttam.

SL Uttan President Director and Founder Busana Remaja, Shyam L. Uttam

Sejak saat itu, perseroan juga mulai masuk ke banyak negara lain. Perlahan, permintaan semakin banyak. Produk mereka telah diekspor ke 39 negara sejak berdiri 1993 silam. Pembeli pertama berasal dari Jerman yang hingga kini masih menjadi pelanggan setia. Hubungan dengan pembeli selalu dibina dengan baik.

“Pasar terbesar adalah Amerika, Kanada, Australia, United Kingdom, Jerman, dan Perancis. Kami juga masuk ke negara Eropa lainnya. Ada juga Singapura, Hong Kong, Malaysia, dan India,” katanya.

Berbeda dengan industri kaos dan celana misalnya, lanjut dia, pembeli produk pakaian dalam yang tergolong bonafide hanya sedikit. Oleh karena itulah, taruhannya adalah kualitas produk dan layanan. Jika nama sudah jelek, bisnis hampir pasti habis.

Tantangan terbesarnya adalah produk Cina yang berharga murah. Kedua, biaya upah minimum di Indonesia yang belum stabil. Padahal, buyer di luar negeri mau prediksi. Ketiga, Vietnam sudah ikut Trans Pacific Partnership. Produk mereka akan jauh lebih kompetitif. “Mudah-mudahan, Indonesia juga bisa ikut TPP,” katanya.

Untuk memenangi persaingan, ada 4 strategi yang diusung Busana Remaja. Pertama, buka pabrik baru agar order yang tinggi bisa dibagi. Kedua, efisiensi operator dan training yang selalu ditingkatkan lewat dua lembaga pelatihan kerja di Yogyakarta. Ketiga, penggunaan teknologi canggih agar akurasi terus naik.

“Terakhir, membuat produk yang tak bisa dibuat negara lain seperti bra ukuran besar untuk perempuan Amerika dan Eropa. Kami punya teknologinya. Kami belajar hingga punya spesialisasi. Mau tidak mau, pembeli harus ke kami,” katanya. (Reportase: Raden Dibi Irnawan)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)