Rahasia di Balik Optimisme Pemerintah terhadap Perekonomian

Indonesia dinilai akan tetap menjadi negara yang menarik bagi para investor asing dalam beberapa tahun ke depan. Ini karena, salah satunya, negara ini berhasil mencetak pertumbuhan ekonomi di sekitar 6 persen belakangan ini.

Salah satu sesi diskusi di acara The Economist Summit, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (28/2/2013).

Boediono, Wakil Presiden Republik Indonesia, dalam acara The Economist Summit di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (28/2/2013), menuturkan, "Permintaan sekarang sedang sangat baik. Pertumbuhan baik di konsumsi dan investasi sangat kuat, dan saya yakin (keduanya) akan terus bertahan dalam 2-3 tahun ke depan."

Keyakinan Boediono tersebut didasarkan pada pengalaman bahwa Indonesia pernah berhasil melewati masa krisis global pada tahum 2008. Saat itu, perekonomian sempat terganggu, namun akhirnya bisa segera pulih. Dan sekarang ini, Indonesia masih bisa bertahan di tengah kondisi krisis yang melanda Amerika Serikat dan Eropa, bahkan sejumlah negara lainnya. Bukan sekadar ekonomi bisa tumbuh, Boediono mengatakan, tingkat pengangguran dan kemiskinan pun turun dengan stabil.

Mengapa ekonomi Indonesia bisa seperti itu? Dia menuturkan bahwa ekonomi Indonesia sangat berpegang kuat kepada dua pilar stabilitas, yakni politik dan makroekonomi. “Indonesia sangat diberkati dengan sumber daya alam yang luas dan beragam,” tutur Boediono.

Konsumsi domestik kini menjadi salah satu kekuatan ekonomi nasional. Porsi konsumsi domestik, kata dia, sekitar 60 persen dari perekonomian nasional. Konsumsi pun ditaksir akan terus meningkat karena didukung oleh masyarakat kelas menengah dan populasi kaum muda yang berkembang. Konsumsi domestik yang kuat tentunya merupakan hal yang menarik bagi para investor asing. Bisa dilihat dari, misalnya, pertumbuhan toko ritel yang juga disesaki perusahaan asing, cukup signifikan.

Bila melihat catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal, pada tahun lalu, Indonesia berhasil mendapatkan investasi langsung luar negeri (PMA) senilai US$ 22,8 miliar. Tercatat bahwa PMA pada kuartal IV tahun 2012 naik 22,9 persen dari periode yang sama tahun 2011.

Di luar ekonomi, Boediono berpendapat, perpolitikan nasional cukup stabil. Reformasi pun dipandang telah menghasilkan sejumlah keberhasilan. Salah satunya adalah berlangsungnya kegiatan-kegiatan pemilihan umum dengan damai.

Bukan hanya pandangan Wakil Presiden saja, sejumlah survei pun memperlihatkan pandangan bahwa ekonomi Indonesia itu baik dan menarik bagi asing. Salah satu survei, yakni Asia Business Outlook Survey (ABOS) yang dirilis Economist Corporate Network dari The Economist, menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di barat berharap Asia bisa menyumbangkan 32 persen dari total pendapatan global mereka. Bahkan Indonesia merupakan prioritas investasi peringkat ketiga setelah China dan India.

Sekalipun menarik bagi investor asing, pemerintah tetap berusaha untuk tidak membuka pintu selebar-lebarnya bagi mereka. Ada sejumlah kebijakan yang dibuat pemerintah untuk tetap mempertahankan keberlangsungan usaha lokal. "Negara menerapkan peraturan ketat demi melindungi kepentingan domestik. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara-negara Asia lain, dan ini adalah tindakan yang wajar," tambah Ross O'Brien, ekonom senior Economist Corporate Network. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)