Rahasia Konglomerasi Tetap Eksis

Mitos dalam perusahaan keluarga, yaitu generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan, boleh jadi ada benarnya. Hanya segelintir perusahaan keluarga yang mampu bertahan hingga generasi ketiga.

Hanya perusahaan yang kuat, sehat, dan kompetitif yang mampu bertahan di tengah persaingan bisnis yang semakin tajam dan keras. Untuk itulah diperlukan perubahan fundamental alias transformasi bisnis agar tetap eksis di masa depan.

“Ada anekdot perusahaan famili hanya akan survive selama 3 generasi. Lebih dari itu mungkin akan berantem, entah memperebutkan saham atau cekcok-lah secara famili misalnya, antara anak, cucu dengan paman,” kata pengamat bisnis, Christianto Wibisono.

christian wibisono

Transformasi bisnis adalah seluruh proses perubahan yang diperlukan oleh suatu korporasi untuk memposisikan diri agar lebih baik dalam menyikapi dan menjawab tantangan-tantangan bisnis baru, lingkungan usaha yang berubah secara cepat maupun keinginan-keinginan baru yang muncul dari dalam perusahaan.

Perubahan dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan terhadap pola pikir, pola pandang dan pola tindak perusahaan, strategi bisnis, budaya perusahaan maupun perilaku dan kemampuan organisasi. “Maka dari itu perusahaan harus go public. Konglomerat meredup karena tidak bisa mengikuti perubahan zaman. Era pasar bebas membuat persaingan semakin sengit. Transformasi sangat diperlukan agar bisa terus bersaing,” katanya.

Situasi yang penuh tantangan itu pula yang harus dihadapi perusahaan keluarga. Bisnis keluarga harus berubah atau akan terlindas perkembangan zaman. Perubahan itu harus melibatkan eksekutif baru dari pihak nonkeluarga untuk meningkatkan profesionalisme dan akuntabilitas. Sinergi dengan perusahaan lain juga bisa dilakukan untuk memantapkan posisi perusahaan.

“Pengusaha Indonesia banyak yang mati ditelan persaingan. Buktinya, saat ini banyak mereka yang sudah tidak terdengar lagi namanya. Kalau mau terus establish, harus go public, untuk menghindari konflik internal,” ujarnya.

Ia menilai konglomerasi saat ini sudah sadar dan kembali ke bisnis intinya sejak diterjang krisis moneter 1998. Ekspansi usaha ke segala bidang bisa menjadi bumerang jika tak menguasai ilmunya. Selama hampir 20 tahun konsolidasi, ada beberapa konglomerasi yang tergoda untuk ekspansi kembali. “Namun, secara umum mereka sudah kembali ke core bisnis. Umumnya mereka lari ke properti. Kalau dulu ekspansi ke perbankan, begitu ambruk lari semua ke properti,” ujarnya. (Reportase: Rizky C. Septania)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)