Rahasia Pulau Sambu Langgeng Sampai 50 Tahun Lebih

Membangun perusahaan hingga mencapai lebih dari setenagh abad bukan hal mudah. Namun, mempertahankan kesuksesan hingga puluhan tahun merupakan tantangan yang lebih berat.

Suksesnya PT Pulau Sambu, produsen santan Kara yang sudah berjalan lebih dari 50 tahun patut dijadikan contoh dalam menciptakan ekosistem berkelanjutan bagi lingkungan dan perusahaan.

“Banyak yang tidak tahu Pulau Sambu, tapi semua tahu santan Kara. Memang dari awal filosofi kami adalah to be no profile, bukan low profile. Sangat sulit untuk bertahan 50 tahun, apalagi selama 50 tahun itu kami harus berkembang dan skilled-up karena pada awalnya kami mulai, lahan rawa di sana tidak ada akses dan infrasturktur. Tidak ada air, listrik, dan jalan. Benar-benar harus mulai dari nol,” ujar Tay Enoku, Vice President Director PT Pulau Sambu, pada acara Indonesia Living Legend Forum 2018 di Jakarta (11/10/2018).

Ia menjelaskan, sepanjang jalan, pihaknya selalu memikirkan jalan bagaimana caranya berinovasi, bukan hanya terhadap produk, tapi juga terhadap kelangsungan ekosistem kelapa itu sendiri. Mengandalkan model bisnis social enterprise, PT Pulau Sambu memberdayakan petani dengan cara yang berbeda dengan kebanyakan perusahaan pertanian lain. Pasalnya, 90% pasokan kelapanya didapatkan dari petani lepas yang tidak memiliki kontrak dan ikatan dengan perusahaan. Hanya 10% bahan baku kelapa dihasilkan dari lahan perusahaan sendiri.

“Justru untuk memahami bagaimana Pulau Sambu bisa bertahan selama 50 tahun, dan bagaimana pulau sambu ini bisa terus berkembang 50 tahun kemudian, caranya adalah dengan meningkatkan kesalingtergantungan antara industri dan ekosistemnya. Hal tersebut berarti semakin kami memperluas daerah cakupan, semakin kami memberikan kendali pada ekosistem itu sendiri,” tambah Tay.

Filosofi  Pulau Sambu adalah untuk mendapatkan keamanan, bukan berarti harus memiliki lingkungan karena fokusnya harus selalu pada lingkungan dan ekosistem itu sendiri.

Tay mengatakan, kalau pihaknya berhenti melakukan kegiatan sosial seperti yang dijelaskan, maka keberhasilan komersial perusahaan akan menciut. Menurutnya, yang perlu dilakukan oleh perusahaan untuk terus bertahan bukanlah melakukan CSR, tapi social inclusive yang mana menjadikan aspek sosial menjadi bagian business success non-CSR.

“Strategi kami justru untuk mereduksi lahan milik sendiri. Jadi, memang harus membagi pie dengan ekosistem. Karena sangat disayangkan sekali, Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar, tapi sangat terfragmentasi, tidak ada satu solusi yang bisa memecahkan masalah untuk di berbagai macam daerah," ujar dia.

Model industri daerah satu belum tentu cocok dengan daerah lain. Makanya harus disesuaikan. Seperti halnya alami, pada saat kita mencoba memaksakan suatu model kepada alam, itu menjadi tidak sustainable, menciptakan externality. Jadi memang dalam mengembangkan harus memikirkan hal tersebut.

Tanpa public interest terlayani, ekosistem tidak akan bekerja. Tay memaparkan, kalau perusahaan mengandalkan mayoritas pasokannya dari petani lepas yang bisa menjual barangnya ke siapapun, perusahaan menjadi lebih peka terhadap kepentingan mereka. Jika pertani kelapa tidak dipastikan kesejahteraannya, mereka bisa beralih profesi.

“Untuk memastikan keberlangsungan perkebunan kelapa dan perkembangan industri serta menyelaraskan permintaan pasar, kami harus memastikan petani kelapanya happy menjadi petani kelapa. Ini tantangan yang sangat sulit. Generasi-generasi muda dari anak-anak petani ini memang punya keinginan pindah ke kota mendapatkan kehidupan yang lebih bergengsi," ungkapnya.

Ia menambahkan, jika semua petani Indonesia tidak lagi menginginkan bertani, apa yang terjadi dengan ketahanan pangan Indonesia. Secara struktur, hal itu akan memengaruhi struktur ekonomi Indonesia ke arah melemah karena tidak ada kedaulatan pangan. “Apa yang kami lakukan di industri kelapa sebenarnya merupakan miniatur terhadap model yang baik untuk diterapkan pada ekosistem yang lebih luas, dalam hal ini sebenarnya produksi pangan Indonesia.”

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)