Reindustrialisasi, Ini Sektor Industri Prioritas KADIN | SWA.co.id

Reindustrialisasi, Ini Sektor Industri Prioritas KADIN

Sektor industri di Tanah Air kian tenggelam. Pada beberapa tahun terakhir, Indonesia tengah mengalami de-industrialisasi. Salah satunya, disebabkan oleh tingginya biaya logistik dan minimnya infrastruktur. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia tengah membuat peta jalan pengembangan sektor industri hingga 2020 mendatang. Tujuannya adalah untuk menciptakan sektor industri yang sehat dan kuat.

“Juga sustainability-nya ada. Artinya, bagaimana industri bisa membuat produk yang berkualitas, sebanyak-banyaknya, dan semurah-murahnya agar terjangkau oleh masyarakat,” kata Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P. Roeslani saat berdialog dengan jajaran Pemimpin Redaksi di Jakarta, Kamis (14/1) malam.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P. Roeslani Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P. Roeslani

Menurut dia, sektor industri prioritasnya masih dibahas dan belum bisa disampaikan ke publik. Gambarannya adalah sektor industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja dan komponen impornya tidak terlalu besar. Saat ini, rata-rata kandungan produk impor sekitar 30-40% di seluruh sektor industri.

“Berarti, industri yang menjadi prioritas harus berbasis pada kekuatan dalam negeri. Untuk Indonesia, contohnya industri kemaritiman, energi, agriculture, dan pariwisata,” katanya.

 

Untuk mengurangi biaya logistik, pemerintah harus bergerak cepat membangun banyak kawasan industri yang terintegrasi dalam satu kawasan, dari hulu hingga hilir, serta tidak jauh dari pelabuhan. Saat ini, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia belum terintegrasi. Kewenangan pemerintah pusat maupun daerah masih besar meski sudah ada badan otorita khusus.

“Contoh, Izin Mendirikan Bangunan masih ditangani pemerintah daerah, pajaknya masih dipungut Kementerian Keuangan. Mestinya, semua izin, pungutan, serta insentif, semuanya itu diserahkan kepada otorita. Otoritasnya masih separo-separo,” katanya.

Jika digarap serius, Rosan menjelaskan, sektor industri tersebut bisa menghasilkan banyak pemasukan untuk negara. Contoh, industri pariwisata RI yang masih jauh tertinggal dari negara-negara tetangganya di ASEAN. Sepanjang tahun 2015, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia hanya 9,4 juta orang. Bandingkan dengan Singapura yang mencapai 15,1 juta, Thailand 24 juta, dan Malaysia 27 juta.

“Indonesia sudah kaya budaya dan keindahan alamnya. Industri pariwisata sudah tak perlu dibuat lagi. Tinggal dikelola dengan baik untuk mengundang kunjungan turis asing. Rule of thumb-nya, 1: 2. Belanja turis asing di Thailand hampir dua kali lipatnya, yaitu US$ 40 miliar. Kebanyakan dari wisata lautnya,” katanya.

Menurut dia, rahasianya adalah pemerintah Thailand memberi banyak insentif untuk pengadaan kapal pesiar dan pembangunan pelabuhan bertaraf internasional. Ini juga yang dilakukan negara tetangga seperti Singapura. “Di Phuket, ada 3 pelabuhan bertaraf internasional. Singapura juga sudah punya 3 pelabuhan sejenis. Sementara, Indonesia, baru satu. Itupun baru akan dibangun, yakni di Teluk Lamong,” katanya.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)