Resep Andy Fajar Handika Membesarkan Kulina

Andy Fajar Handika, Founder dan CEO marketplace Kulina
Andy Fajar Handika, Founder dan CEO marketplace Kulina

Setelah malang melintang membangun bisnis kuliner, akhirnya Andy Fajar Handika menuai hasil ketika membesut Kulina. Didirikan pada awal 2016, Kulina diklaim sebagai startup pertama dan hingga saat ini satu-satunya situs pesan dan langganan katering makan siang dengan konsep marketplace di Indonesia. Kulina merupakan marketplace untuk home chef: orang bisa menaruh makanannya dan siapa pun bisa beli. Salah satu pelanggan utamanya adalah para pekerja kantoran di berbagai gedung tinggi di Jakarta.

Menurut Andy yang lahir pada 2 April 1981 ini, tahun 2014 bisnis food on delivery belum ramai, sehingga ia pun mendirikan Makandiantar.com. Namun, setelah jalan setahun, problemnya ada pada kapasitas dapur karena dapurnya milik sendiri sehingga tidak memadai. Kemudian, ia bertemu dengan mitranya yang operasional bisnisnya di Jakarta. Mitranya tersebut kemudian menjadi co-founder Kulina. “Awalnya, kami ingin bagaimana caranya orang yang punya dapur bisa masuk ke bisnis restoran. Kami ingin semua orang yang bisa masak, bisa berjualan dengan mudah,” katanya.

Ia tidak bersedia menyebutkan modal awal membesut Kulina. “Tidak bisa dijawab secara detail. Tapi kami punya privilage, karena bukan first time founder. Sebelumnya, kami sama-sama sudah pernah berbisnis, bahkan co-founder saya pernah sempat IPO perusahaannya. Sementara saya sudah bergelut di dunia restoran,” kata Andy yang pernah berbisnis food court FoodFezt di Yogyakarta pada 2007 ini.

Nah, para 2016 awal, ia meluncurkan Apps Kulina, tetapi belum berhasil. Hal ini karena tidak spesifik dan ada masalah dalam konsistensi, kualitas, dan logistik. “Kulina merupakan marketplace untuk home chef, di mana orang bisa menjajakan makanannya dan siapa pun bisa beli,” katanya. Awalnya, ada 40 dapur yang tergabung dengan Kulina. Untuk merekrut pemilik dapur, pihaknya bergerilya dengan masuk ke grup-grup Facebook yang berisi masakan. Lewat media sosial inilah, pihaknya mulai memperkenalkan model bisnisnya.

Hambatannya, masih banyak yang tidak paham bagaimana cara memotret makanan yang baik dan menarik sehingga pihaknya yang membantu membuatkan foto dan memajangnya. Walaupun itu lebih menarik, tetapi ekspektasi konsumen atas makanannya menjadi lebih tinggi. Selain itu, masih banyak penjual yang belum paham tentang packaging, misalnya tidak boleh menggunakan styrofoam atau staples karena berbahaya untuk makanan. Tidak semua paham. Edukasinya juga lumayan susah dan respons pasar belum menggembirakan. “Dalam sebulan yang beli mungkin hanya satu atau dua orang,” katanya menceritakan.

Kemudian, ia merambah pemilik katering sehingga yang menyuplai makanan di Kulina adalah para profesional katering yang memiliki pengalaman dan pernah berjualan. Selain itu, Kulina juga mulai menggarap pasar yang lebih spesifik, yaitu orang-orang kantoran di Jakarta, khususnya di kawasan bisnis, di gedung-gedung bertingkat. Orang-orang kantoran ini merasa kesulitan untuk menjangkau makanan yang affordable dan berkualitas. “Itu idenya, mengapa Kulina dibutuhkan,” ujar lulusan Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada ini.

Lalu, model bisnisnya seperti apa? Dijelaskan Andy, pihaknya memiliki dua jenis produk, yaitu marketplace dan private label. “Private label, kami mem-branding-nya dengan merek Kulina. Bisa dibilang kami adalah pionir cloud kitchen di Indonesia. Kami baru akan buka kitchen ketika ada demand di daerah sana. Kemudian, baru kami mencari dapur mana yang cocok. Dapur yang masuk ke aplikasi, kami pastikan demand-nya ada dan stabil,” kata Andy yang pernah berkongsi dengan pakar kuliner Bondan Winarno saat membuka Kopitiam Oey.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)