Resep Sukses Wariskan Perusahaan Keluarga

Tingkat keberhasilan peralihan (survival rate) dari generasi pertama ke generasi kedua dalam perusahaan keluarga hanya 30%. Artinya, sebanyak 70% usaha keluarga gagal melakukan transisi ke generasi penerus. Lebih parah, keberhasilan survival dari generasi kedua ke generasi ketiga merosot tajam hingga 7%. Benarkah kini bisnis keluarga di ambang kegagalan?

Jangan salah. Bukan hanya itu persoalan yang dihadapi para penerus bisnis keluarga hari ini. Masih ada tantangan lagi, yakni meruncingnya persaingan dalam industri yang digeluti serta perebutan SDM yang kompeten dan profesional (talent).

Dean Tong

“Di antara ketiga persoalan tersebut, peralihan generasi merupakan tantangan utama,” ujar Dean Tong,Partner and Managing DirectorPT Boston Consulting Indonesia (BCG) dalam perbincangan dengan SWA online (22/5). Apalagi karena angka statistik tersebut bisa naik atau bahkan makin hari makin rendah.

Untuk mengolah keadaan ini menjadi kekuatan, Tong yang sejak mahasiswa memang berspesialisasi pada bisnis keluarga ini menawarkan 3 langkah. Yang pertama adalah profesionalisasi. “Artinya, anggota keluarga harus punya pandangan yang jernih seputar sistem dan proses bisnisnya,” kata Tong. Dengan membesarnya skala bisnis dari tahun ke tahun, diperlukan sistem dan kontrol yang profesional, termasuk transparansi.

Langkah kedua adalah membangun people platform yang mapan. “Ini kerja yang butuh waktu bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.Perusahaan keluarga juga perlu berinvestasi untuk mempertahankan SDM terbaik,” tegas konsultan yang berbasis dan Singapura dan Jakarta ini.

Langkah ketiga merupakan jawaban untuk masalah transisi generasi. “Seiring bertambahnya anggota keluarga pada generasi berikutnya, bisnis juga makin rumit. Karena itu, diperlukan tata kelola keluarga,” kata Tong. Tata kelola keluarga akan memperjelas persoalan suksesi supaya perselisihan terjadi antara anak-anak pendiri. Dengan cara demikian, bisnis keluarga dijamin lebih awet.

Lalu bagaimana supaya generasi penerus sanggup membawa usaha keluarga mereka menaiki anak tangga yang lebih tinggi? Ada 3 model pengembangan yang perlu dicermati. Pertama, model helikopter. Sebelum memasuki perusahaan keluarganya, calon penerus menimba pengalaman dulu di perusahaan lain. Dengan pengalaman di luar, generasi penerus bisa membawa ide segar ke dalam bisnis keluarga atau cara-cara untuk menjalankan sistem yang sudah ada secara lebih baik.

Kedua, model elevator. Menggunakan model kedua, calon penerus langsung memulai kariernya di perusahaan keluarga, mulai dari posisi dasar lalu naik dengan cepat. “Dia harus mendapatkan banyak eksposur dalam waktu singkat,” jelas Tong.

Yang ketiga disebut model eskalator. Calon penerus juga bisa langsung diceburkan ke bisnis keluarga. Namun, keluarga memberinya lebih banyak waktu untuk belajar lebih lama di posisi dasar.

Jadi, mana model pengembangan yang paling baik? “Ini tergantung pada generasi keberapa dan berapa banyak orang yang harus dipersiapkan,” tandas Tong.  (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)