Resep Telkomsel Jaga Talent Terbaiknya

Telkomsel menargetkan pertumbuhan dobel digit pada tahun ini. Untuk itu, Departemen SDM harus membuat strategi pengembangan dan pengelolaan SDM yang mendukung target di level bisnis dan korporasi.

Menurut Direktur Human Capital Management PT Telkomsel, Priyantono Rudito renumerasi di Telkomsel ada yang fix dan variable. Namun, percentile harus mendorong target korporasi, di atas P50.

“Yang variabel makin menarik. Ada bonus atau insentif ekstra untuk performasi karyawan di bulanan dan tiga bulanan incentive extra. Saat ini, sedang kami diskusikan,” katanya.

Anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk itu memang tidak bisa main-main untuk urusan sumber daya manusia. Saat ini, renumerasi sudah mencapai percentile 75, jauh di atas pasar. Tak heran, turn over karyawan cukup rendah, yakni di bawah 2%.

Untuk mendukung tercapainya target tinggi, lanjut dia, perseroan juga tak ragu mengambil sumber daya yang berkompeten di pasar. Contohnya, tenaga ahli di bidang e-payment. Telkomsel juga memiliki unit pengembangan talent secara intensif, yakni Talent Committee, yang diisi sekitar 5% dari total karyawan plus talent-talent muda.

“Kami tetap kami shadow, karena dia (talent dari luar) kontrak sifatnya. Kalau dia pergi, orang Telkomsel sudah ready,” katanya.

Direktur Human Capital Management PT Telkomsel, Priyantono Rudito Direktur Human Capital Management PT Telkomsel, Priyantono Rudito

Untuk meningkatkan retensi, Telkomsel juga memberikan beasiswa keluar negeri. Menurut Dharma Syahputra, VP Human Capital Strategic Management Telkomsel, boleh jadi ini satu-satunya yang secara continue dilakukan perusahaan di industri telko.

Dia menjelaskan kultur di Telkomsel sangat bergantung pada performansi, sehingga strategi skim renumerasinya juga berbasis kinerja. Hal ini sejalan dengan industri telekomunikasi yang sangat cepat berubah dan kultur perusahaan untuk mendorong tantangan.

Untuk itulah renumerasi selalu dibenahi. Yang wajib harus naik tiap tahun adalah based salary memenuhi selera pasar, alias jangan sampai lebih rendah. Filosofinya, Telkomsel 75 percentile di pasar.

”Jadi posisi kami leading di hi-tech industry, bukan hanya diantara pemain telko tapi industri teknologi lain di sekitarnya,” katanya

Penataannya sendiri tidak lagi bermain gaji tetap, kecuali karena penyesuaian tiap tahun yang selalu dilakukan terkait inflasi. Yang dilakukan untuk mendorong kondisi karyawan untuk selalu menjadi pemenang adalah di performance based.

Ini memang berisiko karena di pasar rata-rata menggunakan skema 82% fixed dan 18% kinerja. Sedangkan, Telkomsel, justru 73% fixed, dan sisanya performance based di semua level. Biasanya makin tinggi level makin besar di variable-nya, sedangkan di Telkomsel sama saja.

“Kami sedang menata lagi agar makin tinggi posisi makin besar di performance base-nya, sedang yang makin rendah factor fixed-nya makin besar,” ujarnya.

Perseroan juga berani membuat insentif regular tambahan untuk posisi yang dekat ke pengejaran target, lebih besar faktor risiko dan variabelnya. Itu belum termasuk bonus tahunan yang dilekatkan dengan target. “Jadi, kalau bisa mencapai target lebih tinggi dari rata-rata industri, karyawan dapat bonus satu kali,” kata Dharma. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)