RI Mulai Bisa Lepaskan Kutukan SDA

Kutukan sumber daya atau paradoks keberlimpahan mengacu pada paradoks bahwa negara dan daerah yang kaya akan sumber daya alam, terutama sumber daya nonterbarukan seperti mineral dan bahan bakar cenderung mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dan wujud pembangunan yang lebih buruk ketimbang negara-negara yang sumber daya alamnya langka.

Direktur Utama PT Ilthabi Rekatama, Ilham Akbar Habibie, mengharapkan, perusahaan di Tanah Air bisa melepaskan ketergantungan terhadap kelebihan akan sumber daya alam yang melimpah. Kelebihan itu dinilai pakar ekonom menjadi kutukan sumber daya alam. Mayoritas negara yang punya SDA melimpah tidak tergolong negara maju. Sebaliknya, kelemahan itu tak dimiliki negara yang miskin akan SDA, yang justru mampu menjadi negara maju dengan berbekal kreativitas segudang.

“Saat ini, Indonesia sudah menuju pada tingkat kesejahteraan yang memadai dan di arah yang benar. Namun, pertumbuhan harus lebih kuat daripada sekarang. Dorongan dari pemerintah merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan potensi yang ada,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah harus menjadi leader karena swasta merujuk pada pemerintah. Utamanya, saat pelan-pelan membuka pasar untuk meningkatkan persaingan. Ke depan, ia berharap Indonesia bisa menjadi negara yang tumbuh dengan inovasi dan negara yang mengenal aset. “Untuk itu perlu upaya yang tidak kecil. Jangan dilihat dalam jangka pendek, namun jangka panjang. Pemerintah menjadi benang merah antar semua keterkaitan yang ada,” katanya.

Direktur Utama PT Ilthabi Rekatama, Ilham Akbar Habibie Direktur Utama PT Ilthabi Rekatama, Ilham Akbar Habibie

Kutukan sumber daya diduga memiliki beberapa alasan, salah satunya penurunan tingkat persaingan di sektor-sektor ekonomi lain akibat apresiasi nilai tukar asli setelah pendapatan sumber daya alam mulai memengaruhi ekonomi, volatilitas pendapatan sumber daya akibat menghadapi perubahan pasar komoditas global, salah pengelolaan sumber daya oleh pemerintah, atau institusi yang lemah, tidak efektif, tidak stabil, atau korup.

Pemikiran bahwa sumber daya alam lebih bisa digolongkan sebagai kutukan alih-alih anugerah ekonomi mulai muncul pada tahun 1980-an. Kata tesis kutukan sumber daya pertama dipakai Richard Auty tahun 1993 untuk menjelaskan bagaimana negara-negara yang sumber daya alamnya berlimpah tidak mampu memanfaatkan kekayaan tersebut untuk mendorong ekonomi mereka dan bagaimana mereka mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat daripada negara-negara yang sumber daya alamnya sedikit.

Beberapa penelitian, termasuk oleh Jeffrey Sachs dan Andrew Warner, telah memperlihatkan hubungan antara keberlimpahan sumber daya alam dengan lambatnya pertumbuhan ekonomi. Ketidaksinambungan antara kekayaan sumber daya alam dan pertumbuhan ekonomi dapat dilihat di negara-negara penghasil minyak bumi.

Sejak 1965 sampai 1998, di negara-negara industri OPEC, pertumbuhan produk nasional bruto per kapita rata-rata 1,3%, sedangkan di negara-negara maju, pertumbuhan per kapitanya rata-rata 2,2%. Sejumlah ahli berpendapat bahwa arus finansial dari bantuan asing dapat menciptakan dampak yang mirip kutukan sumber daya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)