Risiko Gagal Bayar Alfamart Rendah

Fitch Ratings Indonesia memberi peringkat Nasional Jangka Panjang Alfamart di 'AA-(idn) dengan Outlook Stabil. Di saat yang bersamaan, Fitch juga mengafirmasi peringkat obligasi Alfamart sebesar Rp1 triliun yang akan jatuh tempo di tahun 2017 di 'AA-(idn)' dan program obligasi berkelanjutan sebesar Rp 2 triliun di 'AA-(idn)'.

Obligasi dan program obligasi diberi peringkat yang sama dengan peringkat Nasional Jangka Panjang Alfamart di 'AA-(idn)' karena obligasi tersebut mencerminkan kewajiban perusahaan yang langsung, tanpa kondisi, dan tanpa jaminan. Peringkat yang diberikan untuk program obligasi tidak menjamin obligasi yang diterbitkan dalam program tersebut akan diperingkat, atau peringkat yang diberikan kepada obligasi tertentu akan memiliki yang sama dengan program obligasi.

“Peringkat Nasional 'AA' mencerminkan ekspektasi akan resiko gagal bayar yang relatif rendah terhadap perusahaan atau obligasi yang diterbitkan di negara yang sama. Resiko tersebut pada dasarnya hanya sedikit berbeda dari peringkat perusahaan atau obligasi tertinggi di negara yang bersangkutan,” kata Analis Utama PT Fitch Ratings Indonesia, Erlin Salim dalam rilisnya.

Dengan lebih dari 10.000 toko dalam portfolio, Alfamart mengontrol sekitar 50% pangsa pasar retail di Indonesia melalui berbagai merk: Alfamart, Alfamidi, dan Lawson. Dengan demikian Alfamart dapat mencapai skala ekonomis atas pusat distribusi sedangkan kepemimpinan pasar mendukung daya beli perusahaan.

Aktivitas di dalam gerai Alfamart (Foto: IST) Aktivitas di dalam gerai Alfamart (Foto: IST)

Meskipun Alfamart dan kompetitornya Indomaret telah berekspansi dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir dan tingkat kepadatan toko telah meningkat, Fitch percaya masih ada ruang untuk toko kelontong modern di Jabodetabek dan daerah luar pulau Jawa. Populasi yang besar dan kelas menengah yang meningkat, dan tingkat penetrasi toko kelontong modern yang masih rendah akan mendukung pertumbuhan di sektor ini.

Ekspansi perusahaan yang cepat akan berlanjut di tahun 2015-2016. Dalam waktu yang bersamaan, perusahaan mencoba untuk mendiversifikasi bisnis secara geografis dengan memasuki pasar baru. Alfamart akan menghadapi tantangan di pasar tersebut dalam bentuk kompetisi yang kuat, dan format serta bauran produk yang berbeda. Lebih lanjut, unit usaha Lawson masih belum menghasilkan arus kas positif.

Namun, Fitch percaya pengalaman perusahaan dalam kondisi yang dapat dibandingkan dan strategi perusahaan untuk segera menutup toko yang tidak menguntungkan memitigasi resiko. Alfamart telah berhasil menjaga profil keuangan di level yang baik meskipun tingkat ekspansi yang cepat dalam beberapa tahun terakhir. Produk dengan penjualan tertinggi merupakan produk fast moving consumer goods, dimana produk tersebut memiliki permintaan yang kuat, terutama di Indonesia dimana kelas menengah sedang bertumbuh.

Fitch berekspektasi Alfamart akan dapat menjaga tingkat pertumbuhan toko walaupun pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi rata-rata selama 10 tahun terakhir. Peralihan konsumen dari toko tradisional ke toko modern yang menyediakan lebih banyak jenis produk dan jasa akan juga dapat membantu pertumbuhan Alfamart dan rencananya untuk berekspansi ke luar pulau Jawa.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)