APRINDO: Ritel Merupakan Sektor Padat Karya

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia memiliki program 100 hari untuk lebih mengekspos keberadaannya di masyarakat. Roy Nicolas Mandey, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo), mengatakan bahwa dengan terpilihnya dirinya sebagai ketua umum yang baru akan muncul tantangan yang akan dihadapi oleh Aprindo.

DSC_1480

“Yang petama dilakukan adalah kami akan mengatur suatu kepengurusan yang baru, karena melihat ke depan tidak akan lebih mudah. Jadi pembentukan formatur dan kepengurusan akan kami buat dalam waktu dekat, diharapkan minggu depan sudah terbentuk. Yang kedua, dalam target 100 hari, kami ingin mencoba mengaktualisasikan diri dengan adanya sebuah kantor sekretariat milik sendiri,” kata Roy.

Roy lebih lanjut mengatakan bahwa Aprindo harus memiliki sebuah buku panduan. “Aprindo harus memiliki manual book untuk menjalankan kegiatannya. Kami akan membuat road map yang berkaitan dengan komisi program dan komisi rumah tangga kami,” lanjutnya. Dengan adanya program dan yang terstruktur, Aprindo berencana untuk bisa bekerjasama dengan pemerintah.

Roy menyatakan bahwa Aprindo ingin mematuhi dan bekerja sama dengan pemerintah. Oleh karena itu, diperlukan sebuah komunikasi antara kedua pihak. “Sebelum pemerintah memberikan peraturan, sebaiknya kami diedukasi terlebih dahulu oleh pemerintah,” ujarnya. Menurut pengakuan Roy, Aprindo merasa siap untuk menjadi mitra pemerintah. Dengan adanya kerjasama tersebut, diharapkan segala kebijakan yang dilakukan pemerintah bisa dimengerti oleh pelaku ritel. “Sama-sama mengajak komunikasi sehingga kami bisa mengerti apa yang sebenarnya diharapkan,” lanjut Roy.

Satria Hamid Ahmadi, DPP Demisioner Aprindo, turut menyampaikan bahwa Aprindo akan mencoba menggunakan ritel untuk menstabilkan harga di pasar. “Kami akan coba karena efeknya akan bagus bagi perekonomian Indonesia. Efek dari ritel adalah bisa menstimulus perekonomian sector riil,” ungkapnya.

Menurut Satria, ritel merupakan sebuah sektor usaha yang padat karya. “Selama ini pemerintah melihat padat karya itu ada di sektor industri. Padahal orang-orang yang baru lulus bisa langsung kerja di ritel,” ujarnya. Dalam sebuah perusahaan ritel yang berskala besar, dapat menampung sekitar 1000 orang karyawan tetap. “Belum lagi yang tidak tetapnya,” tambah Satria. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)