Roy Sembel: Ini Tantangan di Klub Satu Triliun

Angka Rp 1 triliun bisa berarti banyak untuk satu perusahaan. Biasanya, manajemen perusahaan yang telah mampu menembus omset Rp 1 triliun, merasa diri telah sukses dalam berbisnis. Ini berbahaya karena bisa menjadi bumerang. Sejumlah tantangan melintang di hadapan perusahaan yang sudah cukup besar.

“Pertama, mereka sudah merasa besar dan berpuas diri. Akibatnya, terlena dengan pencapaian dan tak lagi agresif dalam mengembangkan pasar,” kata Roy Sembel, Guru Besar IPMI International Business School.

Jika dibiarkan, lanjut dia, mereka bisa disusul kompetitor baru yang lebih agresif mengembangkan pasar. Umumnya, perusahaan yang sudah besar juga akan semakin birokratis. Akibatnya, tidak bisa lagi leluasa dan lincah bergerak sehingga kurang bisa bersaing dibandingkan dulu saat masih kecil dan merintis menjadi besar.

“Berikutnya, perusahaan yang sudah besar memiliki banyak cash. Namun, alokasi kelebihan cash-nya itu seringkali tidak optimal lagi. Justru alokasi atau investasi tidak memberikan nilai tambah seperti semula,” katanya.

Roy Sembel, Guru Besar IPMI International Business School Roy Sembel, Guru Besar IPMI International Business School

Roy menilai perusahaan yang sudah cukup besar tidak boleh berhenti mengembangkan bisnisnya. Justru, mereka harus lebih kreatif dan inovatif, tidak bisa bermain seperti kompetitor biasa. Lantas, bagaimana caranya?

“Pertama, dengan cara mencari demand yang baru di luar yang sudah ada. Artinya demand tersebut ada, tetapi belum terealisasi. Jika hal tersebut dapat direalisasikan maka industrinya dapat berkembang,” ujarnya.

Menurut dia, hal tersebut dapat direalisasikan dengan mencari pasar baru. Artinya, mencari lokasi baru atau ekspansi secara geografis atau ekspansi terhadap target pasarnya.

“Kedua, mereka dapat mengembangkan produk baru yang berhubungan dengan produk yang lama. Produk baru tersebut dapat disinergikan dengan produk yang lama hingga dapat berkembang lebih lanjut,” katanya.

Ketiga, perusahaan yang sudah cukup besar bisa memanfaatkan tekhnologi untuk menghasilkan produk baru. Dengan begitu, produknya dapat dipasarkan dengan baik dan demand-nya bertambah.

“Mereka juga bisa berinovasi dengan menciptakan produk baru yang tadinya tidak ada dan tidak terpikirkan untuk diciptakan. Dengan inovasi baru, mereka dapat membuka pasar baru,” ujarnya.

Roy mencontohkan saat bank bermitra dengan asuransi. Akhirnya, terciptalah produk bancassurance, yakni produk asuransi yang dipasarkan lewat jaringan perbankan. Dengan adanya sinergi seperti itu, batas-batas industrinya akan semakin meluas.

“Jadi, lebih kepada mindset para pelaku bisnisnya sendiri. Sukses bisa membawa benih kegagalan karena cara berpikirnya sudah tidak sama lagi seperti dulu saat masih merintis, masih agresif, masih inovatif dan masih mementingkan value creation,” katanya. (Reportase: Istihanah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)