RS Pondok Indah akan Membangun RS Baru Berkapasitas 200 Kamar

Peluang bisnis rumah sakit di 2014 makin bersinar. Dalam 2-3 tahun terakhir jumlah pertambahan rumah sakit di Indonesia cukup signifikan. Pertambahan itu akan memberikan kontribusi yang cukup signifikan pada industri rumah sakit secara keseluruhan, dan juga industri penunjangnya seperti farmasi dan alat-alat kesehatan.

Salah satu faktor pendorong utama pertumbuhan industri rumah sakit adalah diberlakukannya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Faktor kedua, peningkatan daya beli masyarakat karena perbaikan ekonomi. Dengan daya beli yang meningkat, otomatis kesehatan menjadi kebutuhan utama masyarakat. Yang terakhir, dari segi populasi, adalah bertambahnya usia harapan hidup manusia Indonesia.

Kalau tidak salah, angka harapan hidup laki-laki dan perempuan Indonesia sudah di atas 70 tahun. Saat ini terjadi peralihan tren penyakit di Indonesia, dari penyakit infeksi akut ke penyakit degeneratif seperti jantung, kanker, dan diabetes.

Para ahli memprediksikan tiga penyakit itu akan menjadi masalah jamak di masyakarat, sehingga Rumah Sakit Pondok Indah fokus meningkatkan pelayanan di tiga penyakit itu. Caranya dengan menambah tenaga ahli, alat medis baru, dan pelayanan one-stop. Maksud pelayanan one-stop adalah penanganan satu penyakit oleh satu tim. Misalnya, yang biasanya setelah operasi jantung diserahkan ke fisioterapi, ini tidak. Ada tim khusus, jadi pelayanannya terintegrasi.

Apa saja rencana RS Pondok Indah (RSPI) di 2014, dikemukakan  Dr. Yanwar Hadiyanto, Presiden Direktur Grup Rumah Sakit Pondok Indah kepada Rangga Wiraspati:

RS Pondok Indah-Dirut

Bagaimana cara RSPI meningkatkan kualitas layanan rumah sakitnya?

RSPI secara intens menerapkan prinsip continous improvement dalam 5-6 tahun terakhir. Bukan berarti sebelumnya tidak pernah dilakukan, tetapi dalam beberapa tahun terakhir kami beradaptasi terhadap standar-standar internasional penyelenggaraan rumah sakit. Sejak lima tahun yang lalu kami membentuk tim quality and risk yang bertugas menganalisisi aspek-aspek pelayanan rumah sakit yang bisa dikembangkan. Ada tiga bidang yang kami jadikan sasaran continous improvement, yaitu kompetensi karyawan, keterlibatan (engagement) karyawan, dan teknologi. Tiga bidang ini terkait. Misalnya dengan meningkatkan teknologi, waktu karyawan lebih bisa dialokasikan untuk interaksi dengan pasien/konsumen. Dengan peningkatan teknologi juga pasien bisa mendapatkan hasil lebih cepat ataupun melakukan registrasi dari luar rumah sakit.

Bagaimana mengantisipasi diberlakukanya Program Jaminan Sosial?

Dengan adanya BPJS, pasar industri kesehatan yang timbul luar biasa besar. Semua pemain, terutama pelaku industri rumah sakit akan berebut untuk mengambil sepotong kue dari pasar itu. RSPI menganggap BPJS dan Program Jaminan Sosial merupakan terobosan luar biasa, karena menguntungkan masyarakat Indonesia. Sampai saat ini masih terjadi perdebatan antara pelaku industri rumah sakit swasta dengan pihak penyelenggara Program Jaminan Sosial mengenai biaya dan tarif yang dicanangkan BPJS untuk pengobatan pasien.

Sebagai langkah awal antisipasi, RSPI bersama Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) intens menjalin dialog dengan pemerintah. Kami mengambil strategi efisiensi biaya tanpa mengorbankan kualitas layanan, sehingga ketika Program Jaminan Sosial sudah berjalan, kami bisa menjadi provider. Kami akan meningkatkan kualitas infrastruktur, terutama perbaikan sistem teknologi informasi. Jika program jaminan sosial diberlakukan, pelaku industri asuransi akan lebih ketat dalam mengelola klaim, dan melalui pembaruan sistem teknologi informasi kami bisa memberikan informasi yang akurat dan transparan pada pihak penyedia asuransi.

RS Pondok Indah2-Dirut

Untuk memudahkan kalkulasi biaya, kami sedang menyusun clinical pathway penanganan penyakit. Clinical pathway adalah pedoman penyelenggaraan medis yang berguna untuk mengurangi variabilitas biaya medis. Dengan adanya Program Jaminan Sosial, RSPI akan selalu mengevaluasi efisiensi biaya operasional. Sampai saat ini proses rekrutmen di RSPI terjadi sepanjang tahun dan tahun depan kami tidak akan stop rekrutmen selama kebutuhannya ada. Karena bisnis RSPI berkembang, penambahan karyawan akan selalu ada, tetapi tidak menutup kemungkinan juga untuk relokasi karyawan.  Tahun depan kami akan menerapkan konsep digital hospital, sehingga karyawan yang selama ini bekerja manual bisa dirotasi ke pekerjaan lain.

Bagaimana pula caranya agar layanan tetap bisa menjangkau masyarakat kelas bawah?

RSPI punya layanan kelas tiga, yang biayanya tidak terpaut jauh dengan kelas sama di rumah sakit lainnya. Upaya yang kami lakukan untuk menjangkau masyarakat lebih luas adalah menyediakan layanan efisien yang berbasis ilmiah. RSPI memang berfokus pada peningkatan kualitas layanan agar pasien Indonesia tidak terus-menerus berobat ke luar negeri. Masalah yang kami hadapi saat ini adalah kapasitas, yang sampai saat ini hanya ada 300 kamar. Sampai saat ini kami punya layanan yang menyasar masing-masing kelas, termasuk menengah ke bawah. Tetapi, untuk menyambut pasar kesehatan yang terbuka luas karena Program Jaminan Sosial, kami sedang mempertimbangkan cabang baru yang lokasinya mudah diakses pasien dari beragam kalangan.

Apakah ada rencana untuk membangun rumah sakit baru? Berapa investasinya?

Kami sedang mempersiapkan rumah sakit ketiga berkapasitas 200 kamar di area Jabodetabek. Saat ini persiapannya sudah mencapai tahap akhir, dan kami berharap rumah sakit baru itu bisa beroperasi di tahun 2015. Besaran investasi tergantung dari fasilitas yang kami tawarkan. Untuk rumah sakit 200 kamar, biayanya berkisar Rp 100 miliar sampai Rp 1,5 triliun. Angka pastinya belum bisa kami sebutkan, dan kami agak khawatir dengan kurs rupiah yang bergolak. Kami berupaya agar investasi pada fasilitas bisa mengakomodasi sebagian besar kelas masyarakat agar biaya investasi tidak terlalu mahal.

Apakah ada kebijakan perusahaan yang bertujuan untuk mengurangi perlengkapan impor? Misalnya apa?

Sebenarnya kami tidak melihat barang impor maupun lokal dalam pengadaan perlengkapan. Selain manfaat teknis, kami juga mempertimbangkan nilai ekonomis dalam pengadaan perlengkapan. Tidak selalu barang lokal lebih murah daripada barang impor. Kami juga melihat industri perlengkapan rumah sakit di Indonesia belum stabil. Jarum suntik saja kami masih impor. Jika barang lokal mampu memenuhi syarat standar kualitas dan nilai ekonomis RSPI, tentu kami akan berpaling pada barang lokal.

Yang kami beli bukan merek, tetapi fungsi. Saat ini rasanya untuk mengurangi peralatan medis impor sulit, hampir 90% peralatan medis kami impor. Kalau obat, 60-75% lokal. Sementara itu, untuk perlengkapan yang termasuk consummable goods, tidak ada alasan untuk tidak memakai produk lokal. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)