RS St.Carolus Tidak Berorientasi Bisnis, Tapi Selalu Untung

Kalau bisa, jangan dekat-dekat dengan rumah sakit (RS). Begitu kata banyak orang. Apalagi kalau bangunan RS itu sudah tua. Biasanya menyeramkan. Tak terkecuali RS St. Carolus Salemba yang sudah dibangun pada tahun 1919.

RS umum yang dikenal dengan nama singkat Carolus Salemba ini dipimpin oleh dr. Markus Waseso Suharyono, MARS sejak tahun 2007. Meski bertubuh tinggi besar, rupanya pria asli Jakarta ini jauh dari kesan angker. Karakter dr. Markus yang easy-going dalam kemeja putih dan setelan khaki justru membuatnya tampak lebih mirip pemasar eksekutif daripada dokter. Saat berjalan melintasi taman Carolus Salemba, tak satu pun awak RS segan menyapa dokter umum lulusan Unika Atma Jaya, Jakarta ini.

Markus W. Suharyono, Direktur Utama RS St.Carolus Salemba

Bagaimana dr. Markus mengelola RS St Carolus, ia memaparkannya kepada Rosa Sekar Mangalandum:

Berapa jumlah RS yang dikelola oleh yayasan terkait?

Perhimpunan St. Carolus mengelola tiga unit operasional RS. Pertama adalah RS St. Carolus. Seperti tertulis di depan gedung, kami sering menyebutnya Pelayanan Kesehatan St. Carolus. Meski demikian, dalam izin tetap bernama RS St. Carolus. Ini merupakan RS umum.

Kedua, RS Bersalin St. Yusuf yang berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ini beroperasi sejak tahun 2010.

Satu lagi adalah RS Ibu dan Anak Carolus Summarecon Serpong, Tangerang. Ini diresmikan lebih awal, yaitu pada tahun 2009. Baik yang di Tanjung Priok maupun Gading Serpong termasuk RS khusus.

Apa keunikan tiap RS?

Dalam visi pendirian, ditekankan bahwa ketiga RS ini tidak berorientasi bisnis semata (not for profit). Namun dalam pengelolaan, RS tetap harus cost-effective dan cost-efficient sehingga bisa memperoleh laba. Ketiga RS Perhimpunan St. Carolus ini selalu untung setiap tahun. Nah, laba itu tidak dibagikan pada anggota perhimpunan seperti saham, tetapi dikembalikan untuk operasional. Tujuannya, meningkatkan mutu layanan, mengganti peralatan rusak, tambah gaji tenaga kerja. Laba tahunan selalu kembali ke modal. Bedanya dengan RS berbentuk PT yang profit-oriented, di sini tidak ada bagi hasil untuk perhimpunan. Disimpulkan, keunikan pertama adalah RS ini tidak berorientasi laba, namun tetap bisa menghasilkan laba.

Keunikan kedua, layanan jelas bermutu sudah pasti. Tetapi, juga berpihak dan memberi perhatian khusus pada lapisan masyarakat yang kurang mampu. Selain lewat praktik di Balai Kesehatan Masyarakat, ini dilakukan lewat kebijakan-kebijakan terhadap penetapan biaya layanan kesehatan dan rawat inap. Aspek mutu layanan RS tetap dipertahankan sebagai nomor satu. Di atas itu, ada keberpihakan terhadap mereka yang kurang mampu. Walaupun di kelas tinggi ataupun kelas tiga, mutu layanan dokter dan asuhan keperawatan harus sama. Yang berbeda adalah kondisi ruangan, tempat tidur, kelengkapan fasilitas.

Carolus Salemba sendiri berusaha mewujudkan citra sebagai RS umum pilihan keluarga. Tidak hanya merawat si sakit, tapi juga memperhatikan keluarga di sekitar si sakit. Untuk itu, ruangan-ruangan diatur supaya mendukung kepentingan keluarga. Lebih jauh, bila anggota keluarga memerlukan penyuluhan tentang uji kesehatan (medical check-up), Carolus Salemba memberi kesempatan untuk ini.

Apa keunggulan Carolus Salemba sendiri?

Secara umum, kelompok RS di bawah Perhimpunan St. Carolus siap mengikuti kebijakan pemerintah mengenai BPJS Kesehatan, termasuk Carolus Salemba ini. Kami akan berperan sebagai RS rujukan (sekunder).

Yang khusus, asuhan keperawatan Carolus Salemba masih menjadi keunggulan yang dikenal masyarakat. Ini terlihat dari kelulusan perawat yang dididik di STIK Sint Carolus Salemba. Meski sebagian besar lulusan bekerja di Carolus Salemba, cukup banyak juga yang diserap oleh RS jejaring kami.

Apa saja peralatan medis yang menjadi andalan RS ini?

Bukan hanya Carolus Salemba, ketiga RS yang saya sebut tadi sedang mengembangkan layanan spesialistik dan subspesialistik. Di layanan kesehatan sekunder seperti RS St. Carolus yang menjadi rujukan dari RS primer ini, boleh ada layanan spesialistik dan subspesialistik. Contoh layanan spesialistik di antaranya penyakit dalam, bedah, anak. Lalu di tingkat yang butuh keahlian lebih, ada layanan subspesialistik lagi, misalnya hematologi dan orthopedi.

Teman-teman saya staf pembedahan juga mengembangkan tindakan operasi yang mengurangi trauma. Istilahnya minimally invasive surgery. Layanan ini sedapat mungkin meminimalkan dampak trauma akibat operasi. Tentu saja harus didukung peralatan yang bagus.

Contohnya, di bidang bedah pencernaan (digestif), dilakukan tindakan bedah laparoscopy. Di bidang orthopedi, dikembangkan tindakan bedah khusus untuk persendian lutut. Tanggapan pasien memperlihatkan bahwa hasil bedah orthopedi RS St. Carolus terbilang bagus. Maka, kami ingin mengembangkan ini sebagai titik keunggulan.

Berapa jumlah dokter di seluruh RS milik Perhimpunan St. Carolus?

Total tenaga staf medik di ke-3 RS jejaring kami berjumlah 221 orang. Paling banyak ditempatkan di Salemba karena induknya di sini. Spesialis di RS St. Carolus Salemba ada 95 orang. Di Yusuf Tanjung Priok, ada 89 dokter spesialis. Dan yang di Carolus Summarecon ada 12 spesialis.

Berapa daya tampung?

Jumlah tempat tidur di Carolus Salemba mencapai 362. Rata – rata  jumlah pasien rawat inap yang bisa ditampung berkisar 14.000-15.000 orang tiap tahun. Tampaknya, kami mau bertahan dengan kapasitas sekian dulu. Saya rasa, ini mencukupi untuk kondisi RS rujukan di Jakarta Pusat.

Carolus Summarecon memiliki 71 tempat tidur, sedangkan Yusuf Tanjung Priok punya 25 tempat tidur. Nah, yang ini masih mungkin dikembangkan. Dan yang paling potensial untuk dikembangkan adalah Carolus Summarecon sebab kepadatan penduduk tinggi, penduduk berusia produktif banyak, dan tingkat kemampuan untuk membayar (ability to pay) mereka tinggi. Siapa tahu, bisa jadi RS umum nantinya? Pemikiran ke arah itu sudah terbuka sebagai rencana jangka panjang.

Akhirnya kalau ditotal, daya tampung ketiga RS mencapai 458 tempat tidur.

Sementara di bagian rawat jalan, St. Carolus Salemba melayani 500-600 kunjungan tiap hari. Biasanya menjelang hari Sabtu, jumlah kunjungan meningkat.

Apa prestasi yang pernah dicapai RS ini?

Carolus Salemba memperoleh predikat RS Sayang Ibu dan Bayi Terbaik dari Kemenkes dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dua kali berturut-turut, yakni tahun 2007 dan 2010, di lingkup Jakarta Pusat.

Bagaimana cara Anda meningkatkan layanan Carolus Salemba untuk pasien?

Caranya, mengkaji ulang semua prosedur Carolus Salemba. Prosedur layanan dibuat terintegrasi, baik di bagian rawat jalan, rawat inap, maupun unit penunjang. Apa yang diinginkan pasien? Itu yang kami perhatikan. Namun selain memberi kepuasan, Carolus Salemba mengutamakan keselamatan (safety). Keselamatan tidak boleh ditinggalkan.

Apa tantangan tersulit yang Anda hadapi selama mengelola RS ini?

Tantangan dari segi bisnis, manajer dan direktur RS harus mampu mengelola sumber daya RS yang padat modal, padat karya, padat fasilitas, termasuk padat masalah, sehingga bisa cost-efficient dan cost-effective. Profit pun terjaga dan RS mampu bersaing.

Selain bisnis, RS harus menghadapi tantangan dari segi sosial juga. Pasalnya, jasa layanan RS sebenarnya bersifat membantu program pemerintah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Apa artinya? RS harus bantu pasien yang tidak mampu.  Contohnya, UGD tidak boleh menarik uang muka dalam kasus kecelakaan atau kepada pasien yang kesulitan biaya. Harus ditolong dulu, biaya bicara belakangan.

Tantangan sosial yang lebih lanjut adalah bagaimana RS membina lingkungan sekitar melalui penyuluhan tentang pengetahuan kesehatan. Kesulitan juga timbul ketika menghadapi harapan masyarakat yang makin kritis dan pandai. Makin banyak tuntutan untuk mendapat layanan dan fasilitas lebih. Tapi, ujung-ujungnya adalah masalah pembiayaan. Ini jadi kendala ketika masyarakat tidak punya jaminan biaya kesehatan atau asuransi. Pasalnya, bagaimanapun juga, biaya kesehatan berbanding lurus dengan layanan yang diberikan RS.

Bagaimana Anda menyikapi persaingan antar-RS?

Di Jakarta sampai saat ini, ada sekitar 135 RS. Sebagian besar berorientasi bisnis. Saya menyikapi persaingan antar-RS secara positif saja. Dengan meningkatnya persaingan, RS semakin dituntut untuk meningkatkan mutu layanan. Yang tidak meningkatkan mutu tentu akan tersingkir karena masyarakat tidak mau dilayani dengan kualitas abal-abal. Maka, persaingan akan mendorong peningkatan mutu.

Di samping itu, jejaring kerja sama antar-RS semestinya dipererat. Ada RS yang tidak mampu membeli peralatan penunjang medis atau diagnostik yang mahal. Kalau ada RS lain yang punya, tinggal bangun kerja sama kemudian lakukan bagi hasil secara saling menguntungkan. Menurut saya, ini bukan persaingan yang saling mematikan.

Demikian juga dengan kerja sama dalam asosiasi seperti PERSI dan Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI). Ini bagus sebab tiap RS bisa mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing lewat wadah ini. Kemudian muncul kemungkinan menjalin kerja sama untuk saling mengisi. Ini sangat penting untuk menghadapi intervensi RS dari luar Indonesia. Kalau jejaring RS Indonesia dipererat, khususnya di Jakarta yang merupakan barometer, kita akan lebih kuat.

Lalu apa rencana Anda buat Carolus Salemba?

Dalam jangka pendek, kami harus bisa bertahan dalam persaingan RS untuk eksis. Maka, direksi diberi tugas memeperbaiki prosedur operasional dan sistem layanan yang berorientasi pada pasien.

Lahan kami di Jalan Salemba Raya Nomor 41 ini kan, cukup luas. Ada sekitar 50.000 meter persegi. Dalam jangka menengah, kami punya rencana, unit-unit mana lagi yang bisa dikembangkan secara fisik. Apakah gedungnya diperbaharui atau dibangun pusat layanan baru? Ini perlu investasi dan sedang dipikirkan dari mana duitnya.

Yang berat adalah jangka panjang. Dalam waktu 10-15 tahun, ke-3 RS kami harus tetap bisa merentangkan sayap, entah dengan cara membuka RS baru nantinya. Sebab dalam program yang lalu, kami sudah berhasil mengorbitkan Carolus Summarecon di Gading Serpong. Untuk kemungkinan buka RS baru, kami sedang menjajaki wilayah. Mungkin masih di Jakarta atau pinggirannya, namun wilayah yang berbeda. Kami belum tahu berhubung ini rencana jangka panjang. §

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)