Saatnya Melibatkan Karyawan Bekerja dengan Kepala dan Hati

employeeengagement

“There are only three measurements that tell you nearly everything you need to know about your organization’s overall performance: employee engagement, customer satisfaction, and cash flow. It goes without saying that no company, small or large, can win over the long run without energized employees who believe in the mission and understand how to achieve it”  (Jack Welch, former CEO of GE).

Kutipan dari Jack Welch menunjukkan employee engagement merupakan satu dari tiga faktor utama penentu kinerja perusahaan secara keseluruhan. Hal itu berlaku bukan saja pada perusahaan besar juga pada UKM. Employee engagement sendiri dikenalkan oleh Kahn pada tahun 1990 pada sebuah jurnal bisnis.

Menurut Yudi B. Lesmana, Head of Recruitment and Assessment Center Division PT Astra International, tidak bisa lagi pimpinan perusahaan saat ini hanya fokus pada performa karyawannya. Yudi menyampaikan hal itu pada seminar employee Engagement untuk mitra binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) beberapa waktu lalu. Karyawan bekerja harus melibatkan apa yang di kepala dan di hati. Perusahaan melibatkan bukan saja kemampuan, pengetahuan tapi juga perilaku karyawan.

“Employee engagement adalah ketika karyawan melibatkan pengetahuan, kemampuan dan perilaku untuk menghasilkan unjuk kerja yang tinggi,” ujarnya di hadapan 250 mitra binaan YDBA. Mengutip yang disampaikan Dale Carnegie, pakar HR dunia, bahwa employee engagement juga bisa berarti komitmen karyawan yang melibatkan intelektual dan emosi untuk menghasilkan unjuk kerja yang tinggi.

Dalam pengalamannya mengelola SDM di Grup Astra, Yudi meyakini bahwa komitmen mutual dari perusahaan dan karyawan dapat membuka potensi karyawan itu. “Engagement itu mengerjakan tugas saya dengan luar biasa, membuat saya dan perusahaan sukses, itu harus merupakan komitmen bersama,” tuturnya.

Ia menyampaikan, ada tiga tipe employee engagement. Pertama Full Engage, yaitu karyawan yang bekerja dengan semangat tinggi dan sepenuh hati untuk perusahaannya. Mereka menggerakan inovasi dan mendorong peusahaan bergerak maju. Kedua, Partially Engage, yaitu karyawan yang pada dasarnya hatinya sudah tidak di pekerjaannya lagi, meskipun setiap tugas dikerjakan selesai. Karyawan tipe ini hanya mengerjakan yang diberikan padanya dan selalu pulang tepat waktu. Ketiga, Actively Disengage, karyawan tipe ini selalu jadi provokator karyawan lain, mengganggu temannya menyelesaikan pekerjaannya dan menganggu karyawan lain yang ingin mengerjakan lebih baik pekerjaannya.

Yudi mengutip hasil Gallup Q 12 Employee Engagement Survey tahun 2013, bahwa karyawan yang memiliki engagement pada perusahaan tinggi, 4-5 kali lebih komit membantu suksesnya perusahaan. Dalam survei yang dilakukan Gallup setiap 3 tahun sekali itu juga menunjukan karyawan dengan engagement tinggi 2,5 kali lebih efektif dalam mendorong perbaikan atau improvement dalam perusahaan.

Selain itu, karyawan dengan engagement tinggi juga 3-4 kali lebih banyak merekomendasikan perusahaan atau menjadi ambassador perusahaan. “Sedangkan karyawan dengan tingkat engagement rendah 4 kali lebih besar keinginan untuk keluar dari perusahaan. Bahkan level manajer yang disengage membuat karyawan atau bawahan disangage 3 kali lebih besar,” paparnya. Menurut riset yang dilakukan di perusahaan-perusahaan Amerika tersebut, employee disengagement menimbulkan kerugian hingga US$ 450 juta.

Menurut Yudi, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun employee engagement, Pertama, bahwa employee engagement itu harus melibatkan seluruh awak mulai dari pimpinan teratas, juga melibatkan pimpinan unit karena merekalah yang paham anak buahnya. Kedua, menyadari bahwa employee engagement perperan penting dalam tingginya kinerja perusahaan. Ketiga, dalam employee engagement, komunikasi adalah kunci, sesuaikan caranya, bisa personal, bisa juga generalis, tergantung kebutuhan individu. Keempat, ciptakan budaya motivasi diri. Kelima, adakan mekanisme feed back. Kelima, perkuat penghargaan, konsekuensi dan recognition. “Karyawan itu diajak makan atau ditepuk bahunya sebagai recognition dari pencapaian prestasi kerjanya saja sudah senang,” imbuhnya. Keenam, komunikasikan perkembangan perusahaan pada karyawan. “Dukung karyawan yang memiliki engagement tinggi, perhatikan karyawan, lakukan check dan recheck: tolong kembangkan saya, kenali saya, dengarkan saya, bebaskan saya dari stress kerja, dan sebagainya,” paparnya.

Sigit Prabowo Kumala, CEO Astra Motor yang juga narasumber dalam seminar tersebut, menyampaikan berdasarkan pengalamannya bahwa employee engagement itu berkat kondisi lingkungan yang mendukung. “Di Astra Motor setiap proses strategi manajemen menunjukan bahwa setiap orang berkontribusi terhadap setiap keseluruhan pencapaian dari strategi perushaaan,” ujarnya. Pihaknya selalu mendorong keterlibatan karyawan dalam mendukung apa yang menjadi tujuan perusahaan sesuai level tanggung jawab dan komitmen masing-masing. “Karyawan harus happy bekerja. Kami ada culture day, kebersamaan, menanamkan budaya-budaya perusahaan dan bebas mengekapresilan kreativitas,” imbuhnya.

Sigit juga memandang employee engagement dapat terwujud jika perusahaan membantu karyawan sangat menikmati pekerjaannya dan dengan partisipasi aktif menciptakan rasa kepemilikan untuk kesuksesan perusahaan. Ekspresi positif terhadap perusahaan dari karyawan diyakini bisa menjadi pendorong positif perusahaan.

Hasil dari berbagai upaya mendorong engagement karyawan, menurut Sigit tahun ini dua karyawan bisa menghasilkan satu inovasi. Targetnya tahun depan Astra Honda bisa lebih lagi setiap satu karyawan bisa menghasilkan satu inovasi. “Net quality income pun naik terus, tahun lalu Rp 27,4 miliar, tahun ini diperkirakan jadi dua kali lipat,” ungkapnya. Selain itu dari pasar sepeda motor Indonesia 2016 sebesar 3,4 juta unit, Astra Honda menguasai pangsa pasar hingga 72,3 persen. “Perlakukan karyawan seperti pelanggan, kalau kita tidak bisa memperlakukan karyawan dengan baik jangan pernah berharap kita bisa meraih pelanggan terbaik,” tegas Sigit. Saat ini Astra Honda memiliki 3.960 karyawan. Sekitar 66 persen adalah tenaga sales dan 34 persen back office. Bahkan 80 persen dari total karyawan itu adalah mereka yang lahir antara tahun 1981-1999 atau masuk dalam Generasi Y.

Ketua Pengurus YDBA, Henry C. Widjaja ,menyampaikan bahwa employee engagement merupakan hal penting dalam pengelolaan karyawan di suatu perusahaan termasuk juga di UKM. Seminar ini ia harapkan dapat menjadi salah satu langkah para pelaku bisnis dalam mengelola karyawannya yang terdiri dari Generasi Y, Generasi X dan Generasi Baby Boomer. Sehingga, semua bisa menyatu untuk tujuan bersama, yaitu mencapai produktivitas dan pertumbuhan perusahaan yang baik.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)