Saatnya Perbankan Tancap Gas

Tahun 2015 kurang menggembira bagi sebagian besar bank di Indonesia. Dari data Otoritas Jasa Keuangan, kredit bank umum hanya tumbuh 9,8% hingga November 2015, tak beda jauh dengan kenaikan dana pihak ketiga sebesar 7,7%.

Kredit tak mengucur deras seiring perlambatan ekonomi domestik dan ekonomi global yang belum menentu. Bankir berharap industri perbankan bisa rebound pada tahun 2016 seiring dikeluarkannya beberapa paket kebijakan ekonomi.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Asmawi Syam, optimis kondisi perekonomian akan jauh lebih baik pada tahun Monyet Api. Ia memerkirakan industri perbankan tumbuh 15% pada tahun ini. Apa saja faktor penggeraknya?

“Ekonomi tahun 2016 diprediksi tumbuh 5,3%, sementara inflasi hanya 4%. Pemerintah juga berjanji akan mengakselerasi APBN pada tahun ini. Tahun lalu, pencairan anggaran terhambat karena ada transisi pemerintahan, perubahan nomenklatur, dan lainnya,” kata dia.

Direktur Utama BRI, Asmawi Syam Direktur Utama BRI, Asmawi Syam

 

 

 

 

 

 

 

 

Apalagi, Bank Indonesia sudah menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Primer dalam rupiah dari 8% menjadi 7,5% sejak 1 Desember 2015. Penurunan tersebut akan menambah likuiditas perbankan sebesar Rp 18-23 triliun. Dengan begitu, kapasitas pembiayaan akan jauh lebih besar.

Likuiditas sebesar itu bisa meningkatkan penyaluran kredit sebesar 0,6-1% pada tahun berikutnya. Di tahun 2016 mendatang, Bank Sentral memproyeksi pertumbuhan kredit berada pada kisaran 12%-14%. Sementara, pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2-5,6%, yang bersumber dari konsumsi domestik dibantu dengan pengeluaran pemerintah.

“Prediksi Bank Dunia, perekonomian domestik akan tumbuh lebih bagus pada 2016 dengan dimotori dampak positif 7 paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah dan BI,” katanya.

Meski begitu, Asmawi mengakui tantangan 2016 tak kalah besar. Beberapa faktor yang perlu diwaspadai adalah rencana kenaikan kembali suku bunga The Fed, pelemahan ekonomi Tiongkok, serta harga minyak dunia dan komoditas yang terus merosot, serta aliran modal keluar dari Indonesia.

Bank pelat merah yang berdiri tahun 1895 itu berkomitmen untuk terus membantu menggerakkan perekonomian melalui penyaluran KUR, kredit bagi UKM dan korporasi juga untuk pembangunan infrastruktur yang menjadi program pemerintah.

“Kami akan mengambil peran besar dalam penyaluran KUR dan kredit untuk UKM. Kami memiliki pengalaman yang banyak, memiliki jaringan yang luas dan sumber daya manusia yang berpengalaman,” katanya.

Pada tahun 2016, BRI mendapat jatah penyaluran KUR senilai Rp 67,5 triliun yang terdiri dari KUR ritel senilai Rp 6 triliun, KUR mikro senilai Rp 61 triliun, dan KUR untuk tenaga kerja Indonesia senilai Rp 500 miliar dengan suku bunga kredit sebesar 9%. (Reportase: Jeihan Kahfi Barlian)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)