Schneider Electric Bidik 40% Porsi Perempuan di Posisi Puncak Manajemen

Schneider Electric Bidik Porsi Perempuan Hingga 40%

Isu gender saat ini boleh dibilang tidak lalu dominan saat ini di Indonesia. Wanita kini ada di banyak lini pekerjaan, bahkan yang dahulu pekerjaan tersebut banyak dipegang laki-laki. 

Walau demikian masih ada sebagian masyarakat masih menganggap sebelah mata kemampuan profesional perempuan. Tidak heran setiap 8 Maret diperingati Hari Perempuan Internasional, dalam upaya terus mendorong kesetaraan gender dalam berbagai peran, termasuk di lingkunga kerja. 

Scheider Electric pun menunjukkan komitmennya dalam mempromosikan kesetaraan gender di sektor engeri dan otomasi. Olivier Blum, Chief Human Resources Officer Schneider Electric dalam sebuah wawancara khusus (05/02/2019) mengungkap bahwa perusahaan global ini mempekerjakan 35% dari total pekerjanya di dunia adalah perempuan, bahkan 22% diantara mereka berada di posisi puncak manajmen.

Indah Prihardini, HR Director Schneider Indonesia, menambahkan, untuk Indonesia angka tersebut justru lebih besar mencapai 47% porsi perkerja perempuan, yang mayoritas didominasi pekerja mereka yang berada di pabriknya di Batam. “Untuk posisi leader sekitar 20% perempuan targetnya sampai 40% pemimpin akan diisi perempuan,” imbuhnya. 

Menurut Indah bahkan perusahaan ini berambisi akan menyeimbangkan porsi perempuan dengan laki-laki dengan porsi 50:50. “Saat ini tantangan kami bukan masalah kompetensi, tapi pool of talent yang belum siap. Maka itu kami kini akan lebih mengiddentifikasi high potential talent SDM perempuan untuk dikembangka  ke posisi lebih tinggi. Selain itu kami akan customize training dan mentoring,” imbuhnya. 

Oliver menegaskan, insinyur perempuan yang bekerja di Schneider Electric memastikan slogan “Life is On” diterapkan dengan menjadi yang terdepan dalam transformasi digital di pengelolaan energi dan otomasi. 

Indah mengakui tantangan pekerja perempuan di Indonesia adalah keluarga. “Namun Schneider memiliki banyak dukungan bagai pekerja perempuan. Contohnya saya, dengan posisi saya sekarang sebagai direktur, untuk bisa berkembang, saya harus keluar dari Indonesia. Agar kami para perempuan bisa mencapai itu, Schneider menyiapkan multiple hub. Tidak harus ke Eropa, untuk regional role bisa tetap based di Jakarta,” terangnya. Untuk itu didukung oleh fleksibiltas, mentorship dan leadership dalam mengelola SDM. 

Schneider sebagai perusahaan yang bergerak di bidang transformasi digital dalam pengelolaan energi dan otomasi turut  mempercepat inklusi dan dialog, menyatukan semua keragaman dalam dukungan terhadap kesetaraan gender. Tahun ini, Schneider Electric Indonesia bekerja sama dengan Society of Women Engineers untuk mengadakan Women Engineering Talks.

Diskusi dengan tema “Balance for a Better Future, Shaping Industry 4.0 through Diversity & Inclusion in Engineering Sector” untuk berbagi wawasan tentang pengembangan partisipasi perempuan dalam sektor energi dan otomasi di Indonesia, dan bagaimana strategi keragaman dan inklusi memainkan peran penting dalam mempercepat implementasi industri 4.0.

Women Engineering Talks, sesi diskusi yang menghadirkan perempuan-perempuan berpengaruh di sektor energi, komunitas teknik perempuan dan universitas terkemuka untuk berbicara tentang masa depan dalam bekerja di sektor ini, dan bagaimana perempuan dapat mengambil kesempatan dari revolusi industri keempat untuk membangun karier mereka; dan Energy University, kursus pelatihan online gratis untuk memberikan informasi terbaru dan pelatihan profesional tentang konsep Efisiensi Energi dan praktik terbaik.

“Di Schneider Electric, kami menghargai perbedaan dan menawarkan kesempatan yang sama bagi semua orang, di mana saja. Ambisi kami adalah menjadi salah satu perusahaan paling beragam dan sangat mendukung kesetaraan gender. Karena itu, kami berkomitmen untuk bertindak sebagai agen perubahan dan membangun dunia yang lebih baik dan lebih adil sebagai wujud nyata keragaman gender dan kesetaraan di sektor energi  dan otomasi,” kata Oliver. 

Dalam beberapa tahun terakhir, Schneider Electric telah melakukan transformasi di seluruh bisnis dalam mengembangkan strategi proaktif untuk melibatkan perempuan di setiap tingkat organisasi, berdasarkan empat pilar - komitmen dari para pemimpin, inisiatif pemberdayaan perempuan, kampanye perubahan manajemen dan penyelarasan sumber daya manusia dengan praktik-praktik inklusif, termasuk perumusan barometer kesetaraan remunerasi untuk menghilangkan perbedaan apapun antara laki-laki dan perempuan.

Pada awal tahun 2019, Schneider Electric terpilih menjadi salah satu di antara 230 perusahaan yang termasuk dalam Bloomberg Gender-Index untuk tahun kedua berturut-turut. Schneider Electric adalah salah satu dari 8 perusahaan di sektor industri yang mendapatkan pengakuan atas kebijakan inklusif yang dimilikinya.

Menurut laporan terbaru Schneider Sustainability Impact, Kebijakan Cuti Keluarga (Global Family Leave Policy) telah mencakup 75% dari total karyawan di 59 negara setelah satu tahun diimplementasikan. Schneider Electric, sebagai salah satu dari HeForShe Corporate Impact Champion, juga telah menggunakan Kerangka Kesetaraan Remunerasi (Pay Equity Framework) untuk 92% karyawannya, dengan ambisi untuk mencapai 95% karyawan pada tahun 2020.

Christina Winata, perwakilan dari Society of Women Engineers, mengatakan, perempuan kurang terwakili dalam sektor teknik dan teknologi, yang secara historis dianggap sebagai wilayah dominasi laki-laki. Menurutnya, ketika kita memasuki Revolusi Industri Keempat, teknik dan teknologi memegang kunci untuk memperkuat visi Making Indonesia 4.0, oleh karena itu para pemimpin industri, seperti Schneider Electric, perlu terus menjadi agen perubahan untuk mengubah citra dan meningkatkan pemahaman perempuan muda tentang teknik dan industri terkait untuk mendorong penyerapan karier di sektor tersebut.

Di Indonesia, Schneider Electric memiliki 4.500 karyawan dengan 47 persen adalah perempuan dan lebih dari 200 di antaranya bekerja sebagai insinyur perempuan. “Melalui program pengembangan talenta muda kami dan kolaborasi dengan komunitas perempuan lain yang berbagi nilai yang sama dengan kami, diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak perempuan muda Indonesia untuk mengeksplorasi peluang dalam membangun karir masa depan mereka di sektor energi dan mengambil peran yang lebih besar di era industry berbasis teknologi digital,” kata Olivier.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)