SDM Indonesia Belum Siap Menghadapi MEA 2015

Aribowo Mondrowinduro (Corporate Human Resource Management Function Head Triputra Group) dan Immanuel Adi Pakaryanto (Corporate Human Resource Management Deputy Function Head Triputra Group) menuturkan dua sisi koin dari kesiapannya terhadap iklim Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Desember 2015 mendatang. Triputra Group, salah satu perusahaan yang masuk hasil riset Accenture untuk tema riset uncovering Opportunities of ASEAN Economic Integration dan Reinventing Work & Workforces in ASEAN.

Mereka menuturkan akan ada sisi positif dan negatif dari iklim tersebut, yakni positifnya akan ada kemudahan dalam hal hunting talent dari luar negeri karena work permit akan menjadi lebih mudah. Dan sisi negatifnya, persaingan memperebutkan market lokal bisa saja terancam. Berikut penuturan mereka kepada Fardil Khalidi dari SWA Online :

(ki-ka) Immanuel Adi Pakaryanto dan Aribowo Mondrowinduro (ki-ka) Immanuel Adi Pakaryanto dan Aribowo Mondrowinduro

Bagaimana Anda menyoroti akan dibukanya perdagangan bebas melalui AEC 2015 Desember mendatang?

Aribowo: Ada 2 perspektif, dari segi sumber daya dan market-nya. Dari SDM saya lihat bangsa Indonesia belum siap terhadap itu. Kita masih sibuk ngurusin DPR, Pilkada, korupsi dan lain sebagainya, sementara negara lain sudah lebih siap untuk menghadapi MEA ini. Ibaratnya kita ini seperti raksasa yang bangun tidur di sebuah pulau, dan begitu pulau dibikin jembatan terhubung dengan pulau lain, dan penduduk pulau lain masuk ke pulau ini barulah kaget. Contoh konkret dari ketidaksiapan ini salah satunya tercermin dalam proyek MRT yang cuma 1 dan engak jadi-jadi. Sementara Singapura di waktu yang sama telah menyiapkan 5 MRT dan sudah beroperasi. Sementara itu, dari sisi kesiapan tenaga kerjanya, saya melihatnya kurang, kenapa? Begitu bergelar sarjana mereka baru bisa dikatakan siap berkompetisi di dunia setelah melalui Management Trainee. Beda dengan Singapura atau Malaysia yang fresh graduate-nya sudah siap pakai, seperti contohnya lulusan NUS Nanyang Technology University dll.

Dari perspektif lainnya yakni persaingan dalam memperebutkan market. Iklim MEAmembuat profesional, investasi, produk menjadi free flow. Indonesia dengan 240 juta penduduknya, terlihat sebagai pangsa yang gemuk dan lemah. Ini yang membuat nantinya kita akan digempur dengan produksi- produksi luar negeri, yang mungkin jika tidak dipersiapkan dengan matang – bisa menjadi raja bahkan di negara kita sendiri.

Seberapa besar level confidence Anda untuk bisa klop dengan jadwal penerapan MEA pada Desember 2015 mendatang? Apa alasannya dan apa yang sudah Anda siapkan hingga saat ini?

Aribowo: Dari sisi kompliansi kita, bisa dikatakan kami merasa sudah cukup compliant dengan akan diterapkannya iklim MEA pada Desember 2015 mendatang. Alasannya adalah bisa dieloborasi dari faktor, antara lain:

Sifat bisnis kita sendiri : artinya dari bisnis ke bisnis. Kami cenderung menyuplai kebutuhan bisnis-bisnis yang terkait dengan concern kami yakni pada sektor manufaktur, pertambangan, agribisnis, dan trading & services. Jadi kalau dari segi bisnis, untuk MEA sendiri ada advantage yang kami akan alami, yakni dengan terbukanya market tadi (free flow market) akan mendorong produktivitas mereka. Itu artinya kami juga akan menghadapi dimana permintaan akan supply akan mengalami pertumbuhannya. (Aribowo)

Namun terlepas dari itu, tetap akan ada challenge yang akan kami hadapi dimana persaingan menggandeng bisnis ini akan menjadi sangat ketat. Terlebih tidak hanya skala ASEAN saja yang mungkin akan kita hadapi, melainkan juga yang dari China, Jepang, dan Korea. (Aribowo)

Triputra2

Immanuel Adi: Kesiapan tenaga kerja: tidak menutup kemungkinan, untuk menjaga ritme produktivitas perusahaan, dibutuhkan talent yang kompeten. Kami cenderung lebih meng-encourage talent lokal kami yakni dengan berbagai macam persiapan, salah satunya MT (management trainee) atau Officer Development Program yang tidak hanya diperuntukkan bagi talent level staf, melainkan juga untuk supervisor.

Hanya saja, yang saya sayangkan adalah environment kita belum menunjang untuk itu. Sebab, kurikulum pendidikan sering berubah-ubah, sehingga membuat talent yang kita rekrut (sarjana), tidak begitu siap menghadapi persaingan dunia pekerjaan. Dan mereka baru cukup ready ketika telah melewati proses Management Trainee. Thats why, untuk menyiasatinya, kami mencoba hunting talent dari luar (expat). Ini maksudnya bukan untuk menipiskan prosentasi peluang kerja di perusahaan kami bagi orang lokal, namun lebih kepada agar expat ini menularkan ilmu kepada talent lokal kami, baik itu secara teknis, budaya (etos kerja), dan motivasi.

Seberapa antusias Anda terhadap penerapan MEA ini (dan apa alasannya)? Atau, sebaliknya seberapa besar kekhawatiran Anda dengan bakal diberlakukannya MEA (dan apa alasannya)?

Aribowo: Untuk antusiasme sendiri, mungkin lebih kepada kekhawatiran. Mudah saja dilihat dari rumah tangga Indonesia sendiri yang bahkan untuk MEA saja belum begitu concern, melainkan lebih menyibukkan kepada hal-hal yang bahkan enggak akan ada habisnya, seperti permasalahan politik misalnya.

Immanuel Adi: Sehingga efek negatifnya bagi kita adalah dalam hal mempersiapkan talent. Banyak dari mereka yang belum begitu aware dengan akan diberlakukannya MEA, sehingga perusahaan perlu men-train lagi untuk mempersiapkan itu. Lha, ini merupakan implikasi dari belum adanya kurikulum pendidikan yang ditujukan untuk mencetak akademisi yang siap tempur di dunia bisnis. Namun bukan berarti tidak ada yang siap, ada sih cuma presentasenya masih sangat kecil, dan kalaupun ada yang compliant dengan kita, akan menjadi mahal.

Inilah yang membuat kami lebih beralih hunting talent di negara tetangga. Bahkan kami memetakan basis mana yang jago untuk bidang manufaktur (Thailand), IT (Malaysia – Singapura), finance, dan lain sebagainya. Ini juga mengacu pada tingkat UMR employee Indonesia di beberapa provinsi yang cenderung tinggi. Objektif kami adalah, mencari talent yang worth it antara kompetensi dengan gaji.

Aribowo: Kemudian menyikapi dari segi perilaku masyarakat Indonesia yang cenderung lebih tinggi konsumtifnya daripada produktifnya. Ini bisa membuat pelaku asing lebih leluasa bermain di Indonesia, apalagi jumlah penduduknya besar. Bahkan ada anekdot, jualan mie saja di Indonesia bisa jadi konglomerat. Ini juga yang mesti pelan-pelan diubah, mental konsumtif harus diganti produktif guna mengantisipasi hal tersebut. (Aribowo)

Menurut perkiraan Anda, apa saja dampak penerapan MEA terhadap iklim bisnis di Indonesia?

Immanuel Adi: Dampak positif : Dampak positifnya, izin kerja sudah mudah. Dengan demikian bagi dunia kerja di Indonesia, expat akan mudah masuk ke sini. Jika ditanggapi secara positif, talent-talent lokal bisa menggali ilmu lebih dalam darinya, mengadopsi working style mereka. Kemudian dari sisi pelaku bisnis juga tidak lagi kesulitan mencari talent yang diinginkan untuk mengisi role-role penting, karena hunting talent sudah semakin luas, tidak hanya scope-nya Indonesia saja. Jadi bisa dapat yang worth it antara fee dan kualitas. Begitu juga dengan talent Indonesia, mereka berpeluang juga untuk hijrah ke luar negeri, sepanjang kompetensi mereka mencukupi, seperti secara English litteracy, teknis, dan sertifikasi.

Dampak Negatif : Perilaku konsumtif membuat pelaku bisnis dari negara tetangga melihat Indonesia sebagai market yang gemuk dan lemah. Jika ini tetap dipertahankan, tidak menutup kemungkinan industri lokal akan kalah saing dengan global.

Kemudian menyangkut soal infrastruktur. Ini juga erat kaitannya dengan produksi. Kita masih mesti menyelesaikan PR untuk ini. Betapa masih kurang rapinya supply chain di Indonesia. Bahkan sebagai contoh untuk harga beras saja, antara Indonesia dan Thailand (yang notabene Impor) sudah mengindikasikan kalau kita kalah. Beras Thailand bisa dijual lebih murah dari beberapa beras lokal. Nah, kaitannya dengan MEA ini, konsumen itu tidak mungkin dong memilih produksi berdasarkan nasionalisme? Tapi lebih kepada kualitas, harga, dan packaging-nya.

Apa yang akan Anda lakukan untuk mengisi peluang yang muncul? Bagaimana progressnya?

Immanuel Adi: Sebetulnya, bisnis kami ini bukan costumer to costumer atau government to government, tapi lebih kepada business ke business. Peluang itu pasti ada, di mana kami juga tengah mempersiapkan beberapa ekspansi kapasitas produksi di beberapa titik. Seperti misalnya inisiasi membuka pabrik di luar negeri, seperti yang dilakukan di Filipina. Semakin mendekatkan dengan business partner, maka bisa memotong cost untuk distribusinya, jadi bisa lebih profitable. Selain itu juga persiapannya lebih kepada train talent-talent yang kita miliki.

Apa pula yang akan Anda lakukan untuk mengatasi dampak buruknya?

Immanuel Adi: Ketidaksiapan Indonesia, seperti yang sempat saya singgung adalah mengenai kualitas SDM-nya. Ini seharusnya juga menjadi concern pemerintah juga untuk meng-improve kualitas edukasi sistem kita. Jika boleh mengambil contoh, Malaysia kenapa bisa jauh lebih maju dari Indonesia, karena pemerintahnya support banget buat mahasiswanya untuk menuntut ilmu di luar negeri, internship di perusahaan global. Namun Indonesia rasionya sangat sedikit. Tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang dimiliki. Untuk mengantisipasi ini, yang perusahaan lakukan adalah men-train mereka secara simultaneously.

Sudah siapkah Anda dengan perubahan lanskap dunia kerja yang akan terjadi? Bagaimana agar talent-talent bagus Anda tidak dibajak perusahaan dari negara ASEAN lainnya, dan sebaliknya bisa memperoleh talent yang bagus? Apa yang sudah Anda lakukan untuk hal ini?

Aribowo: Untuk perubahan lansekap dunia kerja, mau tidak mau harus siap. Toh pasti akan bergulir. Sementara itu, untuk mempertahankan talent-talent bagus agar tidak dibajak perusahaan lain adalah dengan menciptakan kultur kerja yang nyaman. Berikan kesempatan mereka untuk lebih berkembang di perusahaan ini ketimbang di perusahaan asing. Perlu diketahui ya, untuk bersaing di perusahaan asing (mancanegara), seperti misalnya perusahaan Singapur, itu pesaingnya itu macam-macam, jadi mobilitas ke atas itu lebih kompetitif lagi. Bagi mereka yang ready, ya silakan. Namun bagi mereka yang masih berpikir “lebih nyaman bekerja di negeri sendiri/perusahaan dalam negeri” ya kami akan totally mem-provide untuk itu, terutama untuk mengoptimalkan potensi mereka.

Untuk bisa memperoleh talent yang bagus tentunya kami juga ada keinginan untuk itu. Yang kami lakukan adalah memetakan mana basis negara yang memiliki karakteristik keunggulan tertentu. Gampangnya, untuk finance mungkin bisa merujuk ke Filipina, Singapura. Untuk IT-nya mungkin dari Malaysia, untuk manufaktur ke Thailand. Kenapa bisa begini, karena jauh sebelum MEA dimulai, Triputra telah melakukan bisnisnya dengan beberapa mitra di luar negeri. Jadi sekaligus memetakan juga. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)