SDM Pertambangan dan Penerbangan Makin Dicari di RI

Bila melihat perkembangan jumlah kelas menengah yang berkisar 7 juta orang dari 250 juta penduduk, Indonesia mengalami perubahan gaya dan pola hidup masyarakat yang berdampak pula pada kebutuhan pekerja profesional. Di 2012, Sumber Daya Manusia (SDM) pertambangan dan penerbangan makin menjadi favorit para head hunter.

Pernyataan tersebut diungkapkan Advisor Amrop, Irham Dilmy. Batu bara menjadi bahan bakar yang paling diperlukan di banyak industri seperti semen, perlistrikan dan lainnya. Akibatnya, produsen batu bara pun menjamur sehingga menyebabkan kekurangan SDM. “Pada akhirnya, banyak perusahaan di industri pertambangan yang merekrut pegawai di Asia seperti orang Turki, India dan Bangladesh. Apalagi, pembahasan soal target pemerintah menyerap 15% lulusan SMA harus jurusan teknik, sejauh ini masih belum bisa. Saat ini baru sekitar 7%. Orang sekarang malas masuk fakultas teknik dan masih lebih banyak memilih fakultas ekonomi, bisnis, dan komunikasi. Di masa yang lampau 3 hal ini masih sangat dibutuhkan.”

Bidang oil and gas tetap memiliki kebutuhan SDM yang tinggi. Ahli-ahli eksplorasi, ahli geofisika, technical engeneering saat ini banyak dibutuhkan negara-negara seperti Brunei Darussalam, Qatar, dan Arab Saudi. “Pada akhirnya banyak terjadi arus keluar dari negara kita yang membuat Indonesia justru kekurangan SDM di bidang eksplorasi. Kebutuhan di luar negeri cukup tinggi dan orang kita dibayar 3 sampai 4 kali lipat dari penghasilannya di Indonesia,” kata Irham menyesalkan.

Begitu pula dengan industri penerbangan di tanah air. Bandara sekarang sudah seperti terminal atau stasiun. Orang kini jarak dekat pun naik pesawat. Ke Bandung saja naik pesawat. Ada eksekutif yang bilang, memang sih ada Cipularang, tapi kalau saya rapat Cuma 10 sampai 20 menit, lebih efektif naik pesawat. Bahkan mereka buat rapat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta sebelum ke Bandung. “Industri penerbangan disini sudah mencapai puncak yang luar biasa, kurvanya naik luar biasa dan Angkasa Puraterlambat mengantisipasi dengan berkembanganya Lion Air, Batavia dan Garuda Indonesia. Iklan besar mencari pilot ada dimana-mana. Sementara pilot-pilot yang sudah berpengalaman di Indonesia sudah direkrut penerbangan asing seperti Korea Airlines dan Singapure Airlines.”

Tarik menarik pegawai di industri penerbangan pun makin kencang. Irham mengambil contoh, pekerja profesional di Indonesia dibayar Rp 60 juta namun di luar negeri, mereka dihargai US$ 15 ribu. Tak heran, banyak pegawai lokal yang 'lari' ke luar negeri. “Harusnya ada struktur penggajian di dalam SDM yang bisa membedakan harga pasar dengan harga profesi yang sangat bersaing harusnya diperlakukan istimewa sementara perusahaan yang ada sekarang tidak cepat tanggap dalam hal ini dan kehilangan banyak orang. Kalau kita tidak bisa menaikkan semuanya, paling tidak untuk posisi posisi yang menjadi titik persaingan utama, harusnya kita cepat tanggap. Sekarang akhirnya banyak yang kehilangan profesional seperti untuk industri pertambangan, minyak dan gas bumi,” kata Irham.(Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)