Sektor Kelautan & Perikanan Minim Dukungan

Dengan garis pantai terpanjang nomor dua di dunia, Indonesia punya potensi perikanan melimpah. Ditambah lagi luas wilayah perairan lautnya yang mencapai dua pertiga dari total luas wilayah. Sayang, produksi ikannya rendah. Inilah yang menjadi perhatian para pengusaha di sektor kelautan dan perikanan. “Sektor perikanan tidak maju-maju karena selama ini pemerintah lebih fokus mengurusi sektor pertanian. Sektor perikanan kurang mendapat perhatian dan dukungan. Bisnis perikanan dinilai sangat berisiko oleh perbankan. Sehingga investor menjadi kurang tertarik,” kata Direktur Utama CV Indotropic Fishery, Nini Luciana Sutanto kepada SWA.

Menurut dia, pemerintah memang harus segera melakukan terobosan-terobosan untuk membenahi sektor kelautan dan perikanan. Apa yang dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sudah tepat. Meski begitu, komitmen yang kuat dari pemerintah dalam jangka panjang masih dibutuhkan. “Masih banyak yang perlu dibenahi. Kemajuan belum bisa dirasakan seketika. Indonesia unggul keanekaragaman jenis ikan, mutu, dan kesegarannya. Namun, pengelolaannya belum tertata dengan baik, tidak fokus, dan masih terjadi tumpang tindih oleh berbagai instansi,” ujarnya.

Nini L. Sutanto, Managing Director CV Indotropic Fishery Nini L. Sutanto, Direktur Utama CV Indotropic Fishery

Saat ini, lanjut dia, pemerintah tak hanya harus menindak tegas pelaku pencurian ikan (illegal fishing), tapi juga meningkatkan fasilitas pelabuhan, terutama yang ada di wilayah Timur Indonesia, serta menciptakan armada transportasi laut yang cepat dan murah. Alat tangkap berikut kapal yang dimiliki sebagian besar nelayan juga masih sangat sederhana. Dengan kapal dan alat tangkap yang lebih modern, biaya operasional melaut bisa dipangkas. Hasil tangkapan ikan juga akan lebih banyak yang dibawa ke darat ketimbang dijual di tengah laut (transhipment) untuk mendorong industri pengolahan ikan. “Untuk mendorong tumbuh kembang industri perikanan, eksportir ikan, khususnya dari wilayah Indonesia Timur perlu dipertimbangkan mendapat insentif pajak,” ujarnya.

Indotropic Fishery, CV berdiri pada 31 Mei 2003 silam dan bergerak di bidang pengolahan dan pembekuan komoditas perikanan. Produk yang dihasilkan adalah ikan beku, fillets ikan beku, gurita beku, dan cuttlefish (Sotong) beku. Untuk mengamankan pasokan bahan baku, perseroan bekerja sama dengan supplier sekitar 25 orang yang didukung sekitar 700 kapal nelayan. Jumlah tangkapan para nelayan itu berkisar 150-200 ton per bulan untuk beberapa jenis ikan seperti Ikan Kerapu, Kakap, Lencam, Anggoli, Gurita, dan Sotong. Ikan-ikan tersebut diolah di pabrik yang berlokasi di Jl Raya KM. 9 Desa Biak, Kec. Luwuk Utara, Kab. Banggai, Sulawesi Tengah.

“Produk sebagian besar kami ekspor ke Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan Asia. Produk juga banyak dipasarkan di Jakarta. Nilai ekspor per tahunnya mencapai US$ 4-5 juta. Ke depan, kami terus berusaha menambah armada nelayan, memperluas daerah penangkapan, serta meningkatkan kapasitas produksi dan penjualan, termasuk membangun unit pengolahan baru untuk diversifikasi produk dan memberikan nilai tambah,” kata Nini.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)