Sepak Terjang HB Naveen Bangun Falcon Pictures

Hadirnya Falcon Pictures di kancah industri perfilman bisa dibilang tidak sengaja. Rumah produksi yang dimiliki keturunan India ini masuk ke industri film dengan memproduksi Dawai 2 Asmara yang merupakan film Rhoma Irama. Label musik yang menaungi Raja Dangdut tersebut masih satu perusahaan dengan Falcon Pictures dan Falcon terlibat membantu proyek film tersebut. Ketidaksengajaan itulah yang menciptakan komitmen serius untuk membangun Falcon lebih besar lagi. Dan kini Falcon berhasil mengembangkan perusahaan di kancah perfilman Indonesia.

CEO Falcon Pictures, HB Naveen.

Modal tekad yang kuat menggerakkan HB Naveen membesarkan Falcon hingga di posisinya saat ini. Kiprahnya cukup cemerlang sebelum ia masuk membangun Falcon. HB Naveen menduduki posisi strategis sebagai Direktur Bhakti Media (saat ini berganti nama menjadi MNC Corp). Ia berhasil membesarkan beberapa program televisi seperti Fear Factors, Who Wants to be A Millionaire, dan beberapa program lainnya.

“Saya mengundurkan diri dan memberanikan untuk terjun sendiri. Saya mulai dari nol, biaya mendirikan Falcon hasil dari tabungan dan pesangon kantor sebelumnya. Perjalanan Falcon Pictures layaknya bayi yang mulai dari merangkak kemudian dapat berjalan sendiri. Kini posisi Falcon sudah di tahap berjalan,” ungkap HB Naveen yang kini menjabat sebagai CEO Falcon Pictures.

Falcon telah melahirkan sekitar 23 judul film. Sebanyak 10 film awal yang dirilisnya bisa dianggap gagal dengan kerugian mencapai Rp30 miliar. Belajar dari kegagalan terdahulu, Falcon lebih selektif dalam menghasilkan film dengan kualitas terbaik. Target dan premis yang ingin disasar menjadi cara tepat dalam menelurkan sebuah produksi film. “Kami terus mencoba, akhirnya di film berikutnya kami mengerti mengenai persoalan pangsa, sumber, dan penontonnya. Mulai di film Potong Bebek Angsa (2012), kami mulai mengerti premis yang diinginkan apa dan lambat laun berjalan dengan sendiriya,” ujarnya.

Belajar dari kesalahan terdahulu menjadikan Falcon lebh kuat di industri perfilman. Falcon  telah sampai pada fase menemukan taktik yang dibutuhkan untuk menjaring penonton Indonesia. Menurut Naveen, pasar setiap film memiliki perlakuan yang berbeda, premis sangat penting peranannya di sini. Apakah premis itu menyentuh masyarakat luas atau tidak. Ia juga mengungkapkan bahwa cara pikir melihat peluang dari kedekatan itulah yang kemudian dilakukan Falcon Pictures dalam mengambil hati penonton film.

Kompleksitas pembuatan film menjadi seni tersendiri. Dalam segi bisnis, film tak ubahnya sebuah investasi. Perlakuan investasi pada setiap film juga berbeda-beda, tergantung seperti apa film yang dibuat, material produksi yang digunakan serta bintang yang direkrut. Rentang investasi dari Rp10-25 miliar dan akan jadi kerugian besar jika terjadi pembajakan. Masih maraknya pembajakan menjadi kondisi yang memilukan bagi pengusaha film di Indonesia.

“Falcon Pictures tetap optimistis dapat survive di industri ini. Tahun 2017 kami akan menelurkan dua judul yang akan ditayangkan pada dua hari besar, lebaran dan tahun baru. Kami ingin membuat film yang dapat menyentuh hati semua orang. Kami ingin bisa memberikan kontribusi yang baik, memberikan kenangan pada masyarakat, dan kami ingin bisa menapakkan kaki di industri dengan baik,” ujarnya menutup pembicaraan.

Reportase: Akbar Kemas

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)