'Si Awan' Bersinar, Fujitsu Incar Pertumbuhan 20% di 2012

Menargetkan pertumbuhan revenue di 2012 sebesar 20%, Fujitsu mengaku optimis dengan dunia teknologi, khususnya pasar komputasi awan (cloud computing). Meski 89% pendapatan disumbang dari divisi hardware, Fujitsu tetap melirik segmen tersebut. Bahkan diperkirakan, di 2013, Fujitsu membangun data center di Indonesia meski nilai investasi belum bisa disebutkan.

Pernyataan tersebut diungkapkan Presiden Direktur Fujitsu Indonesia, Achmad Sofwandi. “Kami melihat tren kedepannya, masyarakat semakin bergantung dengan produk tekonologi. Bagi corporate pun, teknologi tidak lagi dipandang sebagai pendukung melainkan sistem yang menawarkan efisiensi dan pengurangan biaya. Fujitsu sendiri kedepannya ingin mematangkan divisi cloud computing dan berharap dapat membangun data center di Indonesia tahun depan."

Tak hanya itu, Fujitsu memaparkan 12 perspektif teknologi berdasarkan masukan dari Global CTO Community Fujitsu, yang terdiri dari para Chief Technology Officer (CTO) dan timnya dalam organisasi Fujitsu di seluruh kawasan dunia. Inovasi Fujitsu didorong oleh sumber daya yang terdiri dari 1.500 ilmuwan riset dan 14.000 pengembang di seluruh dunia, mereka telah menghasilkan lebih dari 120.000 paten secara global.

Berikut ini 12 perspektif trend teknologi yang diprediksikan mengubah dunia pada 2012 ini:

1. Real-time insight

Saat ini kita hidup di atas dua dunia, yakni dunia fisik dan dunia digital. Dunia fisik adalah tempat di mana kita hidup yang terdiri atas jaringan-jaringan komputer dan peranti mobile. Dunia fisik ini didukung oleh dunia digital yang memiliki kekayaan informasi dan kekuatan analisis. Kini kedua dunia itu semakin menyatu dan tersinkronisasi sehingga mampu menghantarkan wawasan-wawasan baru berbasis data dengan kecepatan tinggi.

 2. Bisnis tanpa batas

Layanan Cloud memungkinkan pengguna umum untuk membangun, melakukan konfigurasi dan mengoperasikan sendiri teknologi. Untuk pertama kalinya, pelaku bisnis bisa menggunakan layanan teknologi secara langsung tanpa perlu menunggu waktu lama dan mengeluarkan investasi di muka yang besar. Hasilnya, pelaku bisnis bisa lebih mudah dan cepat berinteraksi dengan konsumennya. Akhirnya, batasan-batasan yang menghambat bisnis tradisional akan menghilang, batas-batas tradisional seperti pasar, lokasi, organisasi, bahasa atau teknologi akan lenyap.

3. Manusia di atas segalanya

Komputasi yang berpusat pada manusia (human-centric) dan paham konteks akan menghantarkan layanan dan konten secara langsung, walaupun tanpa diminta. Kemampuan ini menjadi jembatan untuk masuk ke dunia digital dan memanfaatkan semua kelebihan dari dunia digital ke dunia fisik. Melalui kemampuan menambahkan konteks, sistem akan menjadi lebih cerdas untuk membantu manusia berinteraksi dengan lingkungan, teman-teman dan komunitasnya. Konteks akan memperkaya pengalaman manusia menjalani kehidupan sehari-hari.

4. Informasi lebih utama daripada Teknologi

Ketika kita membicarakan “Revolusi Informasi” di dunia TI, selama ini kita lebih memperhatikan “T” dari Teknologi daripada “I” atau Informasi. Padahal informasi ini ada di mana-mana. Setiap pergerakan kita menghasilkan data –meninggalkan apa yang disebut “jejak digital” ke mana pun kita pergi. Jejak digital ini semakin nyata seiring dengan semakin maraknya teknologi sensor dan benda-benda yang terhubung ke Internet. Hasilnya, kita bisa bisa lebih dalam mengeksploitasi informasi.

5. Semua “Benda” Terkoneksi

Saat ini ada sekitar empat miliar peranti yang terhubung ke Internet dan jumlahnya terus meningkat pesat. Diperkirakan jumlah ini akan melonjak menjadi 15 miliar pada 2015 dan 20 miliar pada 2020 seiring dengan turunnya biaya prosesor dan pemancar nirkabel. Kemampuan koneksi bukan lagi monopoli komputer, tetapi semua mesin seperti vending machine, meteran parkir bahkan tempat sampah- akan mampu memancarkan informasi tentang status lingkungan di sekitarnya baik secara pasif, responsif bahkan secara otonom. Hasilnya adalah dunia yang penuh dengan benda cerdas.

6. Lokasi perdagangan

Toko-toko mobile baru ada lima tahun silam, namun perkembangannya begitu cepat diikuti oleh layanan B2C. Keduanya merupakan gelombang baru dalam berbisnis antara lain karena mampu menyediakan mekanisme yang sederhana untuk berjualan produk dan layanan. Untuk pertama kalinya, organisasi bisa bertukar layanan dengan sesamanya. Model transaksi akan mendorong nilai dan efisiensi secara lebih besar.

7. Membawa dari luar ke dalam

Sebagian besar perubahan yang terjadi hari ini telah mendorong organisasi menembus batas-batas tradisionalnya. Misalnya dalam hal media sosial, Cloud (dan layanan Cloud personal) serta peranti mobile di mana data tidak lagi terikat pada satu teknologi tertentu. Komputasi semakin menjadi sebuah hubungan antara manusia dan informasi dan bukan lagi teknologi sebagai pengelola informasi.

8. Pilihan: satu untuk semua ukuran

Pilihan itu ibarat pedang bermata dua –di satu sisi ada nilai dari tersedianya pilihan, di sisi lain ada biaya yang timbul. Di masa lalu, organisasi mengelola biaya ini dengan membatasi pilihan dengan solusi-solusi satu untuk semua ukuran –“one size fits all.” Namun inovasi membawa transformasi ke pasar, dan dengan perubahan yang semakin cepat, pendekatan ini mulai ditinggalkan. Organisasi harus bisa menghadirkan banyak pilihan. Ke depan, organisasi akan menghilangkan batasan-batasan teknologi seperti fat client dan aplikasi yang terpisah dalam banyak silo.

9. Social Working

Organisasi telah bereksperimen dengan media sosial dan terus mencari cara untuk mengeksploitasi saluran baru ini sebelum kompetitor mendahuluinya. Tantangan disini adalah ketika memasuki media sosial, organisasi dihadapkan kepada tata nilai yang sama sekali berbeda dari nilai tradisional. Misalnya di dalam bisnis, kita ingin semua hal berlangsung rutin dan bisa diprediksikan. Namun sosial media adalah kebalikannya. Sosial media dikendalikan oleh keinginan dan kepentingan masing-masing orang di dalamnya.

10. Kekuatan komunitas “Crowding Out”

Web tidak hanya menyediakan akses informasi. Web mampu menghubungkan jutaan, bahkan miliaran orang. Crowdsourcing –alihdaya kepada kerumunan- memungkinkan kita menyerap pool sumber daya manusia dan menggerakkan mereka sebagai angkatan kerja dengan berdasarkan penugasan namun tanpa biaya tetap. Seiring dengan perkembangan Web, nilai kontribusi dari grup dan komunitas tersebut semakin tinggi. Seperti halnya peranti lunak open source, kontribusi ini digerakkan kesamaan kepentingan dan minat. Crowdsourcing memilik potensi untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia. Pendekatan ini tidak akan menggantikan pola rekrutmen pada umumnya, namun menawarkan alternatif.

11. Organisasi yang berubah bentuk

Perubahan yang sifatnya disruptif yang terjadi di industri teknologi (misalnya melalui Cloud computing, big data, mobile dan media sosial) berpotensi mengubah cara bisnis beroperasi. Akses kepada teknologi tidak lagi membutuhkan investasi besar dalam hal kompetensi, modal atau waktu. Di dalam organisasi sendiri, fungsi-fungsi bisnis mengharuskan pemanfaatan teknologi karena tanggung jawabnya semakin besar

12. Mobilitas semakin alamiah

Kita sudah memasuki era pascaPC yang mengubah sama sekali komputasi di tingkat pengguna akhir. Didorong lonjakan pertumbuhan jaringan mobile dan nirkabel, bentuk dan ukurannya semakin bervariasi. Peranti mobile sudah dipakai untuk banyak hal, namun jenis yang digunakan berbeda-beda, bukan satu peranti yang mampu melakukan segalanya. Personal Cloud akan menyatukan keragaman peranti tersebut –satu-satunya fasilitas online yang menyimpan data dan konteks seseorang, yang bisa diakses dari peranti apapun yang mereka gunakan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)