Siasat Pakuwon Menghidupkan Mal

Stefanus Ridwan Stefanus Ridwan, Presiden Direktur PT Pakuwon Jati Tbk

Perubahan gaya hidup dan perilaku konsumen saat berbelanja membuat mal mengalami penurunan penjualan, bahkan ditinggalkan konsumen. Mal-mal lama berkonsep konvensional yang hanya menyediakan ruang jual-beli dipastikan terpinggirkan karena konsumen menghendaki mal juga sebagai tempat rekreasi.

Fakta itu terbaca dari hasil riset Sekuritas BCA baru-baru ini. Disebutkan, pusat perbelanjaan yang telah lama berdiri seperti Metro Pasar Baru dan Mal Taman Palem mengalami penurunan transaksi terbesar pada semester I/2017. Sementara itu, terjadi kenaikan transaksi pada mal-mal baru karena menawarkan berbagai fasilitas seperti pusat kebugaran, tempat hiburan, bahkan hotel.

Menurut Stefanus Ridwan, Presiden Direktur PT Pakuwon Jati Tbk., pengelola Gandaria City dan Kota Kasablanka (keduanya di Jakarta), mal memang harus menyadari bahwa telah terjadi pergeseran perilaku konsumen dalam berbelanja. “Dulu konsumen mengunjungi pusat perbelanjaan hanya melihat dari segi produk dan tokonya. Namun saat ini, aktivitas belanja dianggap sebagai leisure, tidak sekadar membeli barang setelah itu pulang. Saat ini aktivitas berbelanja harus didasari pada experiential dan entertainment-focused,” ungkapnya,

Menyadari hal itu, Stefanus mendorong mal-mal yang dikendalikannya untuk mengubah paradigma pusat belanja. Dulu mal atau toko tidak mengizinkan konsumennya untuk berfoto ria, sekarang justru sebaliknya. Mereka diizinkan berfoto ria karena itu bisa menjadi iklan gratis dan menjadi word of mouth.

Stefanus menegaskan, sekarang mal dan tenant harus gencar memanfaatkan digitalisasi. Experience ketika berbelanja yang dialami konsumen akan menjadi sebuah cerita yang bisa dibagikan melalui media sosial. “Kami sangat fokus pada digitalisasi di semua aspek, mulai dari manajemen hingga pemasaran, karena semuanya akan mudah terkontrol dan lebih cepat. Kami sedang mengolah big data untuk bisa membaca tren,” katanya. Pakuwon juga menerapkan omni-channel system yang menggabungkan pemanfaatan offline dan online. Pihaknya pun bersama para tenant gencar dalam memanfaatkan medsos.

Misalnya, Mal Kota Kasablanka pada saat akhir pekan jumlah pengunjungnya bisa mencapai 120 ribu orang dan 65 ribu-85 ribu orang pada saat hari biasa. “Kalau semua orang ini menggunakan Instagram dan membagikan pengalaman berbelanjanya di medsos, efeknya akan begitu besar,” ungkap StefanusStefanus Ridwan

Selain itu, Pakuwon juga fokus dalam pengembangan komunitas. Apabila belum ada komunitas, pihaknya bisa menciptakan komunitas. Dan dari ratusan ribu orang yang datang, pengelola mal harus bisa menciptakan sesuatu. Seperti saat ini board games sedang menjadi tren di restoran, maka hal itu bisa dimanfaatkan secara optimal. “Kita tidak bisa lari dari apa yang masyarakat suka,” katanya.

Yang juga sering dilakukan pengelola Pakuwon adalah melakukan benchmarking dan study tour dengan mengunjungi mal atau pertokoan lain, baik di dalam maupun luar negeri. Hal itu bisa menjadi referensi dan bila ada yang menarik, dapat diadopsi pada mal yang dikelola Pakuwon. “Kreativitas itu berasal dari 90% mencontek dan 10% modifikasi. Contohnya dalam merancang arsitektur mal, kami harus bisa menghadirkan wow effect dan uniqueness sehingga memberikan pengalaman baru bagi pengunjung. Kami harus melihat arah perubahan tren. Semua itu terjadi dengan cepat dan dinamis secara drastis,” ujar Stefanus.

Bagaimana strategi menarik bagi para tenant? Menurutnya, selama tenant laku, mereka tidak akan hengkang dari mal. Pakuwon pun mencari tenant yang cocok dengan brand dan rekam jejak penjualan yang bagus. Pihaknya juga melihat strategi promosinya apakah sudah menggunakan omni-channel. Apabila sudah menerapkan, biasanya tenant tersebut pasti akan bertahan. Contohnya, Grup Ismaya yang sangat gencar dalam pemanfaatan promosi digital. “Saat ini jumlah tenant di Kota Kasablanka berkisar 300 tenant di Gandaria City sekitar 250,” kata Stefanus menginformasikan.

Saat ini, tingkat okupansi mal-mal Pakuwon di atas 90%. Jumlah pengunjung Gandaria City pada hari biasa 40 ribu-50 ribu orang, dan pada akhir pekan sekitar 80 ribu orang. Adapun pengunjung Kota Kasablanka pada hari biasa 65 ribu-85 ribu orang dan saat akhir pekan 85 ribu-120 ribu orang. “Kenaikan pengunjung di Kota Kasablanka dari 2016 ke 2017 masih sangat baik, di angka 10%,” ujar Lusiana, General Manager Mal Kota Kasablanka, menambahkan.

Untuk nilai transaksi mal per harinya, Stefanus tidak menyebutkan nominalnya. “Jumlah item yang dibeli mungkin lebih banyak di Kota Kasablanka, tetapi total sales cenderung lebih besar di Gandaria City. Segmen di Gandaria City lebih tinggi dibandingkan di Kota Kasablanka,” ujarnya sambil menambahkan, pada 2017 tingkat sales Gandaria City naik 20% dan Kokas 18%.

Ke depan, Pakuwon akan menjaga keseimbangan antara recurring income dan marketing sales untuk menjaga stabilitas kinerja keuangan. Hal ini cukup aman sebab di tengah kondisi situasi sulit, Pakuwon masih tetap bisa membangun. Saat ini, selain di Jakarta, Pakuwon juga mengelola sejumlah mal di Surabaya seperti Plaza Tunjungan, Mal Pakuwon, Pakuwon Trade Center, dan EastCoast Center. (*)

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian, dan Anastasia Anggoro Suksmonowati/Riset: Hendi Pradika

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)