Sikap Hati-hati Indonesia terhadap Perdagangan Remanufaktur

 Indonesia tak lama lagi akan menghelat acara akbar KTT APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation), yakni pada bulan Oktober, di Bali. Berbagai pertemuan dilakukan menuju acara tersebut. Salah satunya yakni pertemuan yang dilakukan oleh para anggota APEC Market Access Group (MAG), Sabtu (29/6/2013), di Medan, Sumatera Utara.

Kami berupaya mematangkan isu-isu yang menjadi titik berat pada pertemuan sebelumnya, seperti dukungan terhadap sistem perdagangan multilateral, integrasi ekonomi kawasan, serta strategi pertumbuhan APEC,” jelas Direktur Kerja Sama APEC dan Organisasi Internasional Lainnya Kementerian Perdagangan, Deny W Kurnia, pimpinan delegasi Indonesia dalam pertemuan tersebut.

Yang menjadi fokus pembahasan pertemuan itu adalah perdagangan barang remanufaktur, perluasan cakupan produk dan keanggotaan dalam Information Technology Agreement (ITA), peninjauan hasil implementasi program kerja Environmental Goods and Services (EGS), hambatan non tarif, serta Global Data Standards.

Merespons gagasan terkait perdagangan barang remanufaktur yang didukung penuh oleh Amerika Serikat, Deny menegaskan bahwa Indonesia akan berhati-hati dalam mengambil keputusan. “Yang jelas, Indonesia menolak jika barang remanufaktur diberlakukan secara umum dan diperdagangkan tanpa batasan. Kami tentu akan mengkaji secara mendalam terlebih dahulu dampaknya terhadap lingkungan dan upaya pengembangan industri dalam negeri,” imbuhnya.

Dan di sela-sela pertemuan tersebut juga diadakan workshop mengenai perspektif konsumen terhadap industri remanufaktur. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman industri terhadap pentingnya proses daur ulang barang bekas (material lama) untuk diproses kembali dengan standar teknis tertentu agar memiliki kualitas sebaik barang baru.

Pada pembahasan terkait ITA, para pendukung perundingan perluasan ITA di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) gencar mendorong agar APEC mendukung penyelesaian pembahasan mengenai perluasan cakupan dan keanggotaan ITA tahun ini sebagai salah satu pencapaian pada Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-9 di Bali pada Desember mendatang.

Kemudian dalam pembahasan mengenai EGS, para anggota sepakat untuk melanjutkan program kerja multi tahun di bidang penelitian, suplai, perdagangan, serta permintaan barang dan jasa. “Indonesia memiliki kepentingan besar untuk dapat ikut mengarahkan keberpihakan strategi green growth ini bagi kepentingan pembangunan dan perdagangan berbasis sumber daya alam di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia,” tutur Deny.

Menindaklanjuti pertemuan sebelumnya pada April 2013, di Surabaya, Policy Support Unit (PSU), suatu unit dalam APEC yang melakukan penelitian dan pengkajian, melaporkan bahwa peningkatan kebijakan non tarif ternyata menimbulkan dampak negatif terhadap sektor perdagangan global. Deny mengatakan bahwa Indonesia menginginkan ekonomi maju untuk mengurangi penerapan kebijakan non tarif mereka, khususnya terhadap produk-produk unggulan ekonomi berkembang, seperti produk komoditas dan bahan baku. “Kebijakan yang diterapkan harus ditujukan untuk memberikan fasilitasi perdagangan, bukan restriksi perdagangan,” tegasnya.

Pada pertemuan ini juga disampaikan paparan wakil dari APEC Business Advisory Council (ABAC) dan Organisasi Kepabeanan Dunia (WCO) mengenai Global Data Standards. Hal ini bertujuan memberikan pemahaman pentingnya penyeragaman data suatu produk untuk mempermudah perdagangan barang.

Pertemuan MAG di Medan ini merupakan yang ketiga di tahun 2013, setelah sebelumnya digelar di Jakarta dan Surabaya. Pertemuan ini juga termasuk dalam rangkaian dalam APEC Senior Official Meeting (SOM) ke-3 tahun 2013 yang diselenggarakan pada 22 Juni-6 Juli 2013, di Medan. Hasil-hasil pembahasan isu akses pasar pada grup ini nantinya akan menjadi masukan bagi pernyataan para pemimpin APEC di Bali pada Oktober mendatang. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)