Simak Gaya Konglomerat Kelola Bisnisnya

Indonesia membutuhkan banyak wirausaha baru yang diharapkan bisnisnya terus menggurita. Harapannya, ada banyak konglomerat baru yang muncul dan berkontribusi untuk pembangunan negeri. Tapi, mengelola bisnis hingga menjadi besar tak semudah membalikkan piring di atas meja. Krisis ekonomi 1998 telah memberi banyak pelajaran berharga untuk para pemilik grup bisnis.

“Saat ini, memang terlihat perubahan bagaimana konglomerasi mengelola bisnis dan pilihan bisnisnya,” kata Pakar Manajemen Pemasaran dari Universitas Indonesia, Rhenald Kasali.

Pertama, pengelolaan bisnis harus profesional. Konglomerasi besar yang awalnya adalah perusahaan keluarga harus mau bekerja sama dengan partner strategis, terutama dari luar negeri, demi memperbaiki tata kelola bisnis sekaligus teknologinya. Sebut saja, Grup Astra yang telah lama berbasis teknologi dan profesional. Salah satu pemegang saham asingnya adalah Jardine Cycle & Carriage's.

“Dampaknya, mereka semakin profesional. Mereka punya talent pool yang baik, contral system dan tata nilai yang juga baik,” ujarnya.

Pakar Manajemen Pemasaran, Rhenald Kasali Pakar Manajemen Pemasaran, Rhenald Kasali

Menurut dia, kelemahan bisnis konglomerasi saat ini adalah masih berbasis entrepreneurship, bukan profesional. Grup Astra yang telah lama menerapkannya terbukti mampu menjelma menjadi konglomerat yang disegani. Salah satu kunci sukses mereka adalah memiliki sumber daya manusia yang kualitasnya di atas rata-rata.

“Profesional itu bisa merancang masa depan, bagaimana develop people terbaik, tak punya masalah dalam lini-lini usahanya, kadernya ada terus, turnover-nya tidak begitu tinggi, perencanaan karier jelas,” katanya.

Rhenald menjelaskan, konglomerasi sampai kapanpun tidak bisa dilepaskan dari keinginan sang pemilik. Anggota keluarga yang menempati posisi puncak bisa memiliki keinginan yang berbeda dalam mengembangkan bisnis. Jika tidak hati-hati, mereka bisa terjebak dalam masalah keuangan. “Nah, mestinya masalah keuangan dipegang oleh profesional. Tapi, dalam konglo masih dipegang family,” katanya.

Kedua, jeli melihat peluang bisnis yang menguntungkan. Ini ditunjukkan Grup Lippo, yang bisnisnya besar dari perbankan dan jasa keuangan lainnya, kemudian ekspansi ke bisnis lain seperti properti, pendidikan, kesehatan, dan media yang terkait erat dengan Internet of Things (IoT). Teranyar, mereka mendirikan MatahariMall dan menggaet profesional sekelas Emirsyah Satar dan Hadi Wenas.

“Mereka berevolusi, kelihatan sekali mereka mengikuti bisnis berbasis internet. IoT ini dampaknya sangat besar. Mereka bisa menggeser Indovision. Ada juga Grup Djarum yang serius kesana melalui Kaskus dan bisnis lain,” katanya.

Terakhir, kunci sukses grup bisnis adalah fokus di bisnis inti yang sesuai dengan kompetensinya. Rhenald memberi contoh Grup Agung Podomoro yang fokus di properti khususnya superblok, Grup Rekso di Food & Beverages, Garudafood di food-nya, Maspion di perlengkapan rumah tangga, Grup Wings & Orang Tua Group yang fokus di toiletries dan makanan. Ada juga Grup Kino yang meresahkan Unilever berkat penemuan serum rambut. “Mereka adalah grup bisnis yang sangat ekspansif, tapi juga inovatif dan kuat di distribusi,” katanya. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)