Sinar Mas Fokus 6 Pilar Bisnis

Krisis moneter 1998 memberi banyak pelajaran untuk konglomerasi besar di Indonesia. Salah satunya, Grup Sinar Mas yang didirikan Eka Tjipta Widjaja yang tetap eksis hingga saat ini setelah melakukan restrukturisasi dan transformasi bisnis.

Managing Director Grup Sinar Mas, Gandi Sulistiyanto mengatakan, konglomerasi yang berdiri tahun 1983 itu telah masuk generasi ketiga. Kini, ada 6 pilar bisnis yang digarap yakni pulp & paper, jasa keuangan, agribisnis & food, properti, pertambangan, energi & infrastruktur, serta telekomunikasi . “Yang paling baru, energi & infrastruktur. Ada DSS (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk) dan DSSP (DSSP Power Sumsel),” katanya.

Menurut dia, perkembangan bisnis dan zaman yang demikian cepat menuntut konglomerasi melakukan ekspansi usaha. Energi dan infrastruktur adalah kebutuhan utama negara saat ini, yang memang tengah menggenjot pembangunan infrastruktur. “Tahun ini, kami akan menggenjot infrastruktur dan energi. Ini yang utama. Apalagi, kami baru saja mengakuisisi Berau Coal sekitar pertengahan tahun lalu,” katanya.

OKI Pulp & Paper Sinar Mas

Untuk sektor perkebunan, ia berharap program mandatori pencampuran biodiesel B15 dan B20 pada 2016 diharapkan mendongkrak harga minyak sawit (CPO). Hanya saja, ia mengharapkan PT Pertamina (Persero) mau meningkatkan kapasitas penyerapannya.

Pembangunan pabrik baru SMART ditargetkan rampung pada tahun ini. Target produksi biodiesel akan naik secara bertahap hingga 2 juta kiloliter dari tiga pabrik yang adai di Dumai, Jakarta, dan Kalimantan. Untuk tahap awal, produksi hanya sekitar 600 ribu kiloliter

“Untuk sekarang masih untuk konsumsi sendiri (sebagai bahan bakar pembangkit). Belum dijual ke PLN (Persero) karena mereka belum bisa memberikan harga power plant dari kelapa sawit,” katanya.

Untuk sektor properti, Sinarmas Land fokus mengembangkan kawasan industri real estate di Deltamas seluas sekitar 3.000 hektare dan perumahan BSD, termasuk pembangunan jalan tol dari BSD ke Balaraja yang akan tersambung ke tol arah bandara. Dengan infrastruktur lebih lengkap, diharapkan penjualan rumah mulai dari rumah mewah, menengah, hingga rumah sederhana akan laku keras.

“Tapi, tahun ini masih berat. Policy mengenai perpajakan, kepemilikan asing, belum berjalan seperti yang diharapkan. Pelaksanaannya belum ada. Kami juga lebih banyak landed house dan tidak termasuk untuk asing karena mereka hanya boleh memiliki apartemen,” ujar dia. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)