Sinergi Glico-Wings Mencicipi Nikmatnya Pasar Es Krim

 Mikio Kusama, Senior Corporate Officer of Internternational Operation Glico Jepang Mikio Kusama, Senior Corporate Officer of Internternational Operation Glico Jepang

Pertumbuhan pasar es krim di Indonesia ternyata sangat tinggi. Jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan pasar minuman siap saji yang menurut para pemasar merupakan produk fast moving consumer goods (FMCG) yang cukup tinggi pertumbuhannya. Dan pasar es krim di Indonesia didominasi oleh dua pemain saja yaitu Walls di bawah Unilever, Campina merek dari Surabaya milik Darmo Hadipranoto, Indoeskrim Meiji milik Indofood dan Diamond.

Presiden Direktur Glico Wings, Hidekazu Kawashima, mengungkapkan, pertumbuhan pasar es krim di Indonesia sangat tinggi, sepanjang tahun 2012 hingga 2020 sekitar 16 persen per tahun. “Coba lihat pasar minuman teh dalam kemasan selama 8 tahun terakhir pertumbuhannya hanya 8,4 persen, kalau kopi dalam kemasan 7,7 persen,” ujarnya. Ia melihat pasar es krim di Indonesia sangat seksi. Apalagi konsumsi es krim di Indonesia per kapita masih sangat rendah dibandingkan negara-negara lain di dunia, bahkan dengan negara tetangga.

Dikatakan Hidekazu, pada tahun 2013 konsumsi es krim di Indonesia hanya 0,1 liter per tahun per orang per tahun. “Itu sama dengan konsumsi 2 buah es krim stik atau 1 cone atau 2 cups, sangat-sangat rendah,” tuturnya. Bandingkan dengan konsumsi es krim negara lain seperti Filipina 0,8 liter, Singapura 2,4 liter, Amerika 20,8 liter dan Inggris bahkan mengkonsumsi 28,4 liter per orang per tahun.

Inilah yang mendorong Glico, perusahaan dari Jepang untuk merambah pasar es krim di Indonesia. Mikio Kusama, Senior Corporate Officer of Internternational Operation Glico Jepang, mengatakan,  Glico sebenarnya sangat dikenal dengan es krimnya yang lezat di Jepang, Amerika dan negara-negara lain di dunia. Tapi di Indonesia, Glico lebih dikenal dengan produk snak atau makanan ringannya yaitu Pokki. “Pokki sudah merambah 32 negara, roti stik dengan ujung karamel,” ujar Mikio.

Menurut Mikio, Glico sudah berdiri sejak 1922, waktu itu mulai memproduksi berbagai produk dari karamel. “Permen rasa karamel produk pertama kami. Sejak awal berdiri kami berpegang teguh pada tagline kami Hidup Sehat Dengan Cita Rasa Terbaik,” katanya. Tahun 2015 omset penjualan perusahaan mencapai US$ 3 miliar. Es krim menempati posisi ketiga menyumbang pendapatan Glico Global sebesar 23,9 persen, posisi pertama disumbang dari snak dan biskuit 35,8 persen lalu dairy products 28,9 persen, sisanya produk olahan lainnya. Dan porsi ekspor dari total penjualan sekitar 13,5 persen pada 2015.

Di Indonesia, Glico masuk dari produk kue stik Pokki pada 2014 di bawah PT Glico Indonesia. “Kami sekarang sedang fokus memasarkan es krim ke pasar Asean, termasuk didalamnya Indonesia,” kata Mikio. Ia meyakini menggarap pasar Indonesia yang sudah didominasi merek-merek besar tidaklah mudah. Maka itu pihaknya harus menggandeng rekanan yang kuat dalam hal distribusi.

“Maka itu kami gandeng Wings Corp yang kami tahu mereka punya kekuatan di distribusi dan dikenal sangat efisien. Produk es krim butuh jaringan logistik khusus dan pemasaran yg kuat. Mereka juga grup besar yang sudah berdiri sejak 1948, kami yakin es krim Glico sukses bersama mereka,” imbuhnya. Mensinergikan kekuatan dua perusahaan merupakan kunci memenangkan persaingan pasar. Dikatakan Mikio, kekuatan Glico pada teknologi dan strategi marketing dengan Wings yang punya kekuatan di jaringan distribusi dan sales adalah bekal kuat bagi mereka untuk bisa mencapai target bisnis yang ditetapkan. “Target kami ingin menjadi tiga besar pasar es krim di Indonesia,” timpal Hidekazu.

Bernando Tampubolon, Brand marketing manager Wings Food mengamini apa yang disampaikan Hidekazu dan Mikio. “Saya yakin konsumen di Indonesia makin pintar, paham hak sebagai konsumen. Bahwa mereka makin paham kualitas unggul, inovasi yang unggul dan nilai yang unggul,” ujar Bernado. Ia mengatakan menggandeng Glico bagi Wings tentu dengan banyak alasan kuat, serta pengalaman selama ini dengan perusahaan Jepang. “Kerjasama kami dengan perusahaan asal Jepang bukan kali ini saja, kami sudah bersama Lion sejak 2004, Familymart 2012 dan resto Yoshinoya yang kini sudah ada 35 gerai. Kini untuk es krim kami percaya bersama Glico bisa jadi besar,” tuturnya.

Menurut Bernando, Wings melihat Glico dikenal unggul dalam kualitas, dikenal sebagai ahli es krim sehat di Jepang. Kekuatan itu akan berhasil dipadukan dengan operasional efisien dan jaringan disbribusi yang luas dari Wings. “Selain unggul dalam rasa dan kualitas, harga pun sangat terjangkau mulai dari Rp 1000 sampai 12 ribu dan varian produknya pun sangat banyak,” imbuhnya. Itulah alasan didirikannya PT Glico Wings Indonesia. Glico Wings kini sudah memiliki pabrik dengan standar internasional yang dibangun atas dukungan tim dari Jepang plus tim R&D di dalamnya. Ia meyakini dengan strategi ini target menjadi pemain tiga besar di pasar es krim bisa tercapai.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)