SSS Terapkan Sistem Pendidikan Berkiblat Amerika

Kini memilih pendidikan untuk buah hati tidak hanya dengan pertimbangan jarak yang dekat dengan rumah ataupun harga yang murah. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk memperoleh pendidikan berkualitas demi mencetak generasi muda yang kompeten. Salah satu yang penting diperhatikan adalah sistem pendidikan yang berstandar internasional agar anak siap berhadapan dengan dunia gobal.

20160301_110013-640x480 Banyak sekali sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia, di antaranya Sistem Britania Raya – Cambridge, Sistem Eropa – International Baccalaureate, Sistem Nasional di Indonesia, dan Sistem Amerika. Nah, di Sampoerna School System (SSS) menggunakan Sistem Amerika untuk pembelajarannya.

Sistem Amerika dalam penerapannya pun bervariasi. Namun, memiiki kesamaan mengenai pendekatan yang luas pada gaya belajar dan penguasaan materi. Sistem ini berfokus pada keterampilan praktis dan kemampuan memecahkan masalah yang diwajibkan oeh mayoritas perusahaan. Sistem ini diperuntukkan bagi pendidikan siswa usia 3 tahun hingga 18 tahun mencakup pengembangan pengetahuan, kognitif, dan sosial yang dikemas secara seimbang.

“Bekerja sama dengan berbagai institusi Amerika, kami menekankan pada pembelajaran kontekstual melalui pemecahan masalah untuk mengasah pemikiran siswa secara kritis, dimana hal ini dibutuhkan oleh berbagai perusahaan saat ini. Selain itu, pendekatan pembelajaran yang diterapkan dengan berfokus pada Science, Technology, Engineering, Art dan Math (STEAM) menjadikan lulusan Sampoerna School System memiliki kompetensi analisa dan cara berpikir secara kreatif,” ungkap Dr Marshall E. Schott.

Psikolog Ratih Ibrahim menyampaikan bahwa kompetensi yang harus ditanamkan untuk anak-anak sejak kecil di antaranya, pertama, social skill karena ke depannya sang buah hati akan bertemu dengan banyak anak lainnya dengan latar belakang yang beragam. Dengan anak terbiasa bergaul, ini akan memungkinkan anak menjadi semakin lebih percaya diri dan mudah bergaul dengan siapa saja.

Kedua, bahasa, untuk menyiapkan manjadi individu yang siap bersaing secara gobal, penguasaan bahasa asing merupakan hal penting yang harus disiapkan pada anak sejak dini.

Ketiga, cognitive skill menjadi sangat penting bagi anak agar memiiki daya pikir yang kritis, analitis dan masuk akal. Kenapa masuk akal? Agar apa yang anak pikirkan related dengan social context yang ada.

Keempat, probem solving, karena ini akan mendorong karier anak di masa depannya khususnya untuk mencapai puncak kariernya.

Dan yang terakhir adalah attitude berupa sopan santun, empati, mandiri karena jika anak memiiki attitude yang baik maka akan lebiih mungkin ke depannya ia bisa lebih survive di mana pun ia berada.

Untuk mendapatkan semua kompetensi yang sesuai dengan hal di atas maka diperlukan untuk memilih sekolah yang tepat bagi anak. Seperti yang dijeaskan oleh Ratih  bahwa ada 3 cara yang dapat digunakan untuk memilih sekolah untuk sang buah hati. Pertama, carilah sekolah yang memiliki standar internasional untuk menyiapkan anak menjadi masyarakat global.

Kedua, pastikan sekolah yang dipilih adalah sekolah yang feature oriented dan student friendly. Serta yang ketiga adalah adanya kesinambungan dan terus menerus, maksudnya sekolah ini bukanlah sekolah yang baru berdiri dan hanya bertahan hingga beberapa tahun saja.

Memilih pendidikan yang terstandarisasi adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mendukung kesuksesan anaknya di masa yang akan datang. Namun ada hal lain yang lebih penting untuk diakukan oleh orang tua untuk anak-anaknya terutama yang masih dalam usia dini. “Kita harus benar-benar mengenal anak kita. Apa yang dia suka, apa yang dia jago harus bisa diidentifikasi sejak anak masih di usia dini,” ujar Ratih.

Beberapa cara yang dapat diakukan oleh para orang tua untuk dapat mengidentifikasi potensi anak-anak mereka. “Sejak di kandungan kan anak-anak sudah bersama dengan orangtuanya. Jadi orang pertama yang dapat melakukan identifikasi tersebut adalah orang tua. Caranya sederhana yaitu kita sebagai orang tua harus mengamati dan  terlibat kegiatan bersama anak. Dari sana kita bisa mengetahui daam hal apa anak kita jago, kita ajak anak-anak untuk terus bereksplorasi agar mereka memiliki daya ruang imajinasi yang lebih luas untuk impiannya,” tutup Ratih. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)